December 19, 2011

:: [ Helai 2 ] “ Sepucuk surat dari si bodoh “


“ Sepucuk surat dari si bodoh “
                                                      
Helai kedua – Si bodoh terus memakan tomat merah yang sangat di benci nya, tomat merah yang entah mengapa tak cocok diperutnya, dan ternyata tak hanya kepala dan hatinya yang bodoh, perutnya pun bodoh. Tomat, bukan jeruk.


Sebagaimana hal nya ketika si bodoh memakan tomat merah yang ia benci bukan lantaran tomat itu telah menjahatinya, bukan karena telah berlaku kejam pada perutnya, namun, si bodoh yang lagi dan lagi kembali tak tahu, tomat itu tak cocok di dalam perutnya, mengaduk-aduk perutnya, hingga membuatnya nyeri. Mengapa ia bisa seperti itu? Hingga kini pun si bodoh masih tak tahu. Paman dokter hanya berkata, dengan sederhana, tomat itu tak cocok di perutmu, hentikan mengkomsumsinya jika itu terasa menggangu, bahkan menyiksa.

Kemudian, mengapa si bodoh merasa seolah sedang memakan sebuah tomat ukuran super jumbo yang paling dibenci nya ketika kamu menyangka bahwa si bodoh suka pada temanmu? Apa kamu tahu? Ah, kamu pasti tak tahu, bukan? Saat membaca pesan singkat yang menyesakkan itu, dunia bodoh si bodoh seakan berhenti berputar sesaat, dan di suatu tempat, sesearang tengah menjatuhkan meja kayu dari atap gedung lantai 78, lalu ketika sang waktu kembali bergulir, meja itu telah berada di awang – awang, dan tentulah kemudian terhempas menghujam landasan parkir yang keras, dan hancur bekeping-keping. Dapatkah kamu mengilusikan nya?

Hei, tunggu, apa kamu sedang berpikir seperti itu lah hati si bodoh kala itu? Hancur bekeping-keping? Ah, tidak juga sih, itu sedikit berlebihan, bukan? Uhm, baiklah,  hanya sedikit retak diberbagai sisi, atau begini, seperti ketika si bodoh mengunyah tomat lalu memuntahkannya, namun, tentu sekian persen zat-zat dalam tomat telah mengalir masuk ke dalam perutnya, dan ia merasa nyeri walau tak senyeri ketika seutuhnya tomat itu mengaduk-aduk perutnya yang juga bodoh, ah, sepertinya itu lebih tepat ya? Ya, begitulah.

Setidaknya, si bodoh layak sedikit berbangga, tebakannya akan hal seperti ini cepat atau lambat akan terjadi, adalah benar. Bisakah ini disebut sebagai secuil kepintaran si bodoh? Walau kepintaran yang amat sangat kecil itu tetap membuatnya pantas mendapat julukan si bodoh, karena, ia ternyata masih tetap saja membiarkankamu lalu-lalang tanpa kena tilang di jalur hatinya. Bodoh, bukan? Iya, benar, bodoh sekali, bodoh nya si bodoh.

Kamu, yang  membangun persepsi bahwa si bodoh menyimpan rasa pada teman mu, akibat peredaran gossip di media massa yang faktanya hanyalah sekedar isu semu belaka. Yah, tidak munafik pula, teman mu memang lebih rupawan dengan senyum nya yang memang tak dapat dipungkiri, senyum manis itu, lebih pintar, lebih keren, lebih populer, lebih tinggi, dan satu lagi, dia juga berkacamata.

Jika si bodoh  menyukai orang seperti dia, mungkin si bodoh tidak akan terlihat amat sangat atau bahkan terlalu bodoh, mengapa? Karena ia mengetahui, ia memiliki banyak alasan atas tanya mengapa bisa suka, apa yang membuatnya bisa suka. Seperti hal nya jika temanmu itu diibaratkan sebagai jeruk, mengapa? Karena si bodoh suka jeruk, dan ia tidak keberatan memakan begitu banyak jeruk, mengapa? Karena ia tahu, ia tahu alasanya, karena ia suka jeruk, jeruk itu enak, dan tidak membuat perutnya terasa nyeri.

Namun, ternyata takdir yang usil ini senang sekali mengolok-olok si bodoh, takdir yang usil ini dengan ironis nya tidak mengijinkan si bodoh untuk melangkah di jalan dimana mungkin jalan itu akan membawa si bodoh untuk menyukai seorang seperti dia, teman mu itu, si jeruk. Takdir yang usil ini justru menyeret si bodoh melewati jalan menuju kamu yang disana, yang entah sedang menunggu siapa, yang akan mendatangi kamu, dan mengajak melangkah bersama.

Apakah si takdir yang usil ini akan menitipkan si bodoh pada kamu, yang sedang ditujunya, dengan memikul segala macam kebodohan sepanjang perjalanannya yang bodoh dan juga terasa mulai lelah dan takut? Mengapa? Karena si bodoh bahkan tak melihat jelas adakah kamu disana? Ia tak melihat apakah orang itu benar adalah sosok kamu? Apakah kamu disana hanya sendiri, sehingga si bodoh mungkin masih memiliki sedikit kesempatan emas untuk sekedar menabung asa mendampingimu, atau mungkin karena kebodohannya lah, si bodoh bahkan tak melihat telah ada seseorang yang sedang mendampingimu.

Namun, bodohnya, ia terus melangkah, terus melangkah, jauh dan semakin jauh, bahkan ia tak tahu kemana harus pergi, ia bahkan tak tahu tujuan nya, ia hanya melangkah.  Si bodoh hanya sendiri, tanpa GPS ataupun peta, dan bodohnya lagi, si bodoh bahkan lancang mengabaikan sense of direction nya yang memang amat buruk, ia mungkin akan terkurung dan tak dapat kembali dari perjalanan semu nya. Seperti terjebak dalam labirin dengan begitu banyak cabang yang membuat si bodoh ‘blank’ seketika, mengapa? Karena kemampuan kesadaran arahnya yang memang buruk, ini fakta. Tapi, mengapa si bodoh masih saja tetap melakukannya? Apa dia bodoh? Ya, dia memang bodoh. Ia tak cukup pintar untuk segera berbalik arah dan pergi. Mengapa? Tentu karena ia masih sangat bodoh, bahkan untuk hanya sedikit mengerti.

Si bodoh sesungguhnya sadar bahwa ini hanya akan membuatnya tampak kian bodoh dan merasa sangat bodoh, tapi ia tetap melakukannya, mengapa? Karena ini bukan sesuatu yang ia rasa sedang menjahatinya. Bahkan sekalipun kamu tak membantu nya berdiri saat ia terjatuh, saat ia tersandung, atau saat ia terjerembab berlari mengejar mu yang tragis nya justru berlari mengerjar dia yang si bodoh tak tahu. Mengapa si bodoh selalu tak tahu? Ah, sungguh, kadang si bodoh benci sekali pada dirinya. Mengapa ia selalu tak tahu? Mengapa ia hanya bisa menebak, menebak, dan selalu menebak semua tentang kamu, dan pada akhirnya semua tebakan itu pun salah. Si bodoh, dia, benci kebodohannya!

Akan tetapi, ia selalu mampu berdiri dengan tegap, dan kembali melangkah, menuju kamu. Dia melakukannya sendiri, hanya sendiri. Si bodoh, karena saking bodohnya, hingga otak nya hanya terisi olehmu. Bagaimana mugkin tak ada pria lain selain kamu yang terselip, walaupun hanya satu dan di sela yang sempit di labirin otaknya? Tak ada yang lain selain kamu, hanya kamu.

Apa mungkin karena itu, ia masih saja menapak di jalan yang semakin lama terasa semakin panjang dan jauh, dan bukan tidak mungkin, suatu saat kelak, ia benar-benar tak dapat melihatmu lagi, mengapa? Karena kamu telah pergi bersama dia yang si bodoh tak tahu siapa itu.Lalu, apakah si bodoh benar-benar akan tercampak sendiri, sepi? Kemana takdir usil yang telah membuat si bodoh benar-benar jadi super bodoh? Kemana dan berapa langkah lagi si bodoh harus menapak? Katakan, katakan, ayo lah, katakan.

Lalu, apa yang harus nya si bodoh lakukan? Mengapa justru kamu yang berhasil mencuri sekeping hati si bodoh ini? Itu menyebalkan dan juga menyenangkan. Seperti tomat yang di benci si bodoh, tapi tomat itu bergizi. Si bodoh merasa seperti sedang memakan tomat yang banyak, ia tahu itu membuat perutnya amat nyeri, tapi, ia tetap melakukannya. Ah, mengapa jadi begini? Si bodoh tak tahu, lagi dan lagi dan lagi, selalu tak tahu. Bodoh.


Seperi tomat. Bukan jeruk.
Seperti kamu. Bukan dia.
Tomat, bukan jeruk.
Kamu, bukan dia.

Tomat dan Kamu.
Si bodoh benci tomat, tomat yang berwarna merah.
Si bodoh tak mampu benci kamu, kamu yang buatnya resah.

Tomat dan kamu.
Si bodoh benci tomat, sebab membuat perutnya nyeri.
Si bodoh tidak mampu benci kamu, sebab membuat harinya berarti.

Tomat dan kamu.
Si bodoh benci tomat, walau tubuhnya butuh gizi.
Si bodoh tidak mampu benci kamu, walau hatinya tertusuk duri.

Tomat dan kamu.
Si bodoh benci tomat, bagaimana pun tomat sajiannya.
Si bodoh tidak mampu benci kamu, bagaimana pun kamu adanya.

Tomat dan kamu.
Si bodoh benci tomat, karena ia tidak suka tomat.
Si bodoh tidak mampu benci kamu, karena ia suka kamu.

Tomat dan kamu. Benci dan suka.

Tomat itu kamu.

0 komentar:

Visitors

Thanks for visiting!

free counters

Followers

World Visiting

December 19, 2011

:: [ Helai 2 ] “ Sepucuk surat dari si bodoh “


“ Sepucuk surat dari si bodoh “
                                                      
Helai kedua – Si bodoh terus memakan tomat merah yang sangat di benci nya, tomat merah yang entah mengapa tak cocok diperutnya, dan ternyata tak hanya kepala dan hatinya yang bodoh, perutnya pun bodoh. Tomat, bukan jeruk.


Sebagaimana hal nya ketika si bodoh memakan tomat merah yang ia benci bukan lantaran tomat itu telah menjahatinya, bukan karena telah berlaku kejam pada perutnya, namun, si bodoh yang lagi dan lagi kembali tak tahu, tomat itu tak cocok di dalam perutnya, mengaduk-aduk perutnya, hingga membuatnya nyeri. Mengapa ia bisa seperti itu? Hingga kini pun si bodoh masih tak tahu. Paman dokter hanya berkata, dengan sederhana, tomat itu tak cocok di perutmu, hentikan mengkomsumsinya jika itu terasa menggangu, bahkan menyiksa.

Kemudian, mengapa si bodoh merasa seolah sedang memakan sebuah tomat ukuran super jumbo yang paling dibenci nya ketika kamu menyangka bahwa si bodoh suka pada temanmu? Apa kamu tahu? Ah, kamu pasti tak tahu, bukan? Saat membaca pesan singkat yang menyesakkan itu, dunia bodoh si bodoh seakan berhenti berputar sesaat, dan di suatu tempat, sesearang tengah menjatuhkan meja kayu dari atap gedung lantai 78, lalu ketika sang waktu kembali bergulir, meja itu telah berada di awang – awang, dan tentulah kemudian terhempas menghujam landasan parkir yang keras, dan hancur bekeping-keping. Dapatkah kamu mengilusikan nya?

Hei, tunggu, apa kamu sedang berpikir seperti itu lah hati si bodoh kala itu? Hancur bekeping-keping? Ah, tidak juga sih, itu sedikit berlebihan, bukan? Uhm, baiklah,  hanya sedikit retak diberbagai sisi, atau begini, seperti ketika si bodoh mengunyah tomat lalu memuntahkannya, namun, tentu sekian persen zat-zat dalam tomat telah mengalir masuk ke dalam perutnya, dan ia merasa nyeri walau tak senyeri ketika seutuhnya tomat itu mengaduk-aduk perutnya yang juga bodoh, ah, sepertinya itu lebih tepat ya? Ya, begitulah.

Setidaknya, si bodoh layak sedikit berbangga, tebakannya akan hal seperti ini cepat atau lambat akan terjadi, adalah benar. Bisakah ini disebut sebagai secuil kepintaran si bodoh? Walau kepintaran yang amat sangat kecil itu tetap membuatnya pantas mendapat julukan si bodoh, karena, ia ternyata masih tetap saja membiarkankamu lalu-lalang tanpa kena tilang di jalur hatinya. Bodoh, bukan? Iya, benar, bodoh sekali, bodoh nya si bodoh.

Kamu, yang  membangun persepsi bahwa si bodoh menyimpan rasa pada teman mu, akibat peredaran gossip di media massa yang faktanya hanyalah sekedar isu semu belaka. Yah, tidak munafik pula, teman mu memang lebih rupawan dengan senyum nya yang memang tak dapat dipungkiri, senyum manis itu, lebih pintar, lebih keren, lebih populer, lebih tinggi, dan satu lagi, dia juga berkacamata.

Jika si bodoh  menyukai orang seperti dia, mungkin si bodoh tidak akan terlihat amat sangat atau bahkan terlalu bodoh, mengapa? Karena ia mengetahui, ia memiliki banyak alasan atas tanya mengapa bisa suka, apa yang membuatnya bisa suka. Seperti hal nya jika temanmu itu diibaratkan sebagai jeruk, mengapa? Karena si bodoh suka jeruk, dan ia tidak keberatan memakan begitu banyak jeruk, mengapa? Karena ia tahu, ia tahu alasanya, karena ia suka jeruk, jeruk itu enak, dan tidak membuat perutnya terasa nyeri.

Namun, ternyata takdir yang usil ini senang sekali mengolok-olok si bodoh, takdir yang usil ini dengan ironis nya tidak mengijinkan si bodoh untuk melangkah di jalan dimana mungkin jalan itu akan membawa si bodoh untuk menyukai seorang seperti dia, teman mu itu, si jeruk. Takdir yang usil ini justru menyeret si bodoh melewati jalan menuju kamu yang disana, yang entah sedang menunggu siapa, yang akan mendatangi kamu, dan mengajak melangkah bersama.

Apakah si takdir yang usil ini akan menitipkan si bodoh pada kamu, yang sedang ditujunya, dengan memikul segala macam kebodohan sepanjang perjalanannya yang bodoh dan juga terasa mulai lelah dan takut? Mengapa? Karena si bodoh bahkan tak melihat jelas adakah kamu disana? Ia tak melihat apakah orang itu benar adalah sosok kamu? Apakah kamu disana hanya sendiri, sehingga si bodoh mungkin masih memiliki sedikit kesempatan emas untuk sekedar menabung asa mendampingimu, atau mungkin karena kebodohannya lah, si bodoh bahkan tak melihat telah ada seseorang yang sedang mendampingimu.

Namun, bodohnya, ia terus melangkah, terus melangkah, jauh dan semakin jauh, bahkan ia tak tahu kemana harus pergi, ia bahkan tak tahu tujuan nya, ia hanya melangkah.  Si bodoh hanya sendiri, tanpa GPS ataupun peta, dan bodohnya lagi, si bodoh bahkan lancang mengabaikan sense of direction nya yang memang amat buruk, ia mungkin akan terkurung dan tak dapat kembali dari perjalanan semu nya. Seperti terjebak dalam labirin dengan begitu banyak cabang yang membuat si bodoh ‘blank’ seketika, mengapa? Karena kemampuan kesadaran arahnya yang memang buruk, ini fakta. Tapi, mengapa si bodoh masih saja tetap melakukannya? Apa dia bodoh? Ya, dia memang bodoh. Ia tak cukup pintar untuk segera berbalik arah dan pergi. Mengapa? Tentu karena ia masih sangat bodoh, bahkan untuk hanya sedikit mengerti.

Si bodoh sesungguhnya sadar bahwa ini hanya akan membuatnya tampak kian bodoh dan merasa sangat bodoh, tapi ia tetap melakukannya, mengapa? Karena ini bukan sesuatu yang ia rasa sedang menjahatinya. Bahkan sekalipun kamu tak membantu nya berdiri saat ia terjatuh, saat ia tersandung, atau saat ia terjerembab berlari mengejar mu yang tragis nya justru berlari mengerjar dia yang si bodoh tak tahu. Mengapa si bodoh selalu tak tahu? Ah, sungguh, kadang si bodoh benci sekali pada dirinya. Mengapa ia selalu tak tahu? Mengapa ia hanya bisa menebak, menebak, dan selalu menebak semua tentang kamu, dan pada akhirnya semua tebakan itu pun salah. Si bodoh, dia, benci kebodohannya!

Akan tetapi, ia selalu mampu berdiri dengan tegap, dan kembali melangkah, menuju kamu. Dia melakukannya sendiri, hanya sendiri. Si bodoh, karena saking bodohnya, hingga otak nya hanya terisi olehmu. Bagaimana mugkin tak ada pria lain selain kamu yang terselip, walaupun hanya satu dan di sela yang sempit di labirin otaknya? Tak ada yang lain selain kamu, hanya kamu.

Apa mungkin karena itu, ia masih saja menapak di jalan yang semakin lama terasa semakin panjang dan jauh, dan bukan tidak mungkin, suatu saat kelak, ia benar-benar tak dapat melihatmu lagi, mengapa? Karena kamu telah pergi bersama dia yang si bodoh tak tahu siapa itu.Lalu, apakah si bodoh benar-benar akan tercampak sendiri, sepi? Kemana takdir usil yang telah membuat si bodoh benar-benar jadi super bodoh? Kemana dan berapa langkah lagi si bodoh harus menapak? Katakan, katakan, ayo lah, katakan.

Lalu, apa yang harus nya si bodoh lakukan? Mengapa justru kamu yang berhasil mencuri sekeping hati si bodoh ini? Itu menyebalkan dan juga menyenangkan. Seperti tomat yang di benci si bodoh, tapi tomat itu bergizi. Si bodoh merasa seperti sedang memakan tomat yang banyak, ia tahu itu membuat perutnya amat nyeri, tapi, ia tetap melakukannya. Ah, mengapa jadi begini? Si bodoh tak tahu, lagi dan lagi dan lagi, selalu tak tahu. Bodoh.


Seperi tomat. Bukan jeruk.
Seperti kamu. Bukan dia.
Tomat, bukan jeruk.
Kamu, bukan dia.

Tomat dan Kamu.
Si bodoh benci tomat, tomat yang berwarna merah.
Si bodoh tak mampu benci kamu, kamu yang buatnya resah.

Tomat dan kamu.
Si bodoh benci tomat, sebab membuat perutnya nyeri.
Si bodoh tidak mampu benci kamu, sebab membuat harinya berarti.

Tomat dan kamu.
Si bodoh benci tomat, walau tubuhnya butuh gizi.
Si bodoh tidak mampu benci kamu, walau hatinya tertusuk duri.

Tomat dan kamu.
Si bodoh benci tomat, bagaimana pun tomat sajiannya.
Si bodoh tidak mampu benci kamu, bagaimana pun kamu adanya.

Tomat dan kamu.
Si bodoh benci tomat, karena ia tidak suka tomat.
Si bodoh tidak mampu benci kamu, karena ia suka kamu.

Tomat dan kamu. Benci dan suka.

Tomat itu kamu.

No comments: