December 19, 2011

:: [ Helai 5 ] “ Sepucuk surat dari si bodoh “



“ Sepucuk surat dari si bodoh “   
                  
Helai kelima – Si bodoh terjerat di dunia nyata, dia tidak sedang terperangkap dalam fatamorgana, ataupun tengah terjebak diantara dimensi keduanya.


Sayang sekali, si bodoh bukan Sano Kotoko yang menyukai Irie Naoki di doramaItazura na Kiss, atau Yuan Xiang Qin yang menyukai Jiang Zhi Shu di drama seri Taiwan berjudul It Strated with A Kiss, atau bahkan seorang Oh Ha Ni yang mennyukai Baek Seung Jo di drama Korea yang sepertinya kamu juga suka, judulnya Mischiveous Kiss. Sono Kotoko, Yuan Xiang Qin, dan Oh Ha Ni, mereka menjaga rasa suka itu selama 3 tahun. Uhm, apa kamu ingat? Ah, tidak. Kamu pasti tak akan ingat, kamu selalu tak mengingat apapun. Di salah satu pesan singkat mu, kamu pernah memanggil si bodoh dengan nama Oh Ha Ni si bodoh.

Lalu, apa kamu berpikir bahwa kamu adalah pengeran berkuda putihnya Oh Ha Ni? Apa kamu berpikir kamu adalah Baek Seung Jo? Ah, jangan kegeeran seperti itu. Kamu-dan-Baek Seung Jo, bagai langit-dan-bumi. Apa kamu memiliki IQ 200 seperti Baek Seung Jo? Tinggi 180 cm? Begitu cool? Latar belakang keluarga kaya raya? Ah, si bodoh tak tahu. Mungkin, hanya ada satu persaman, yang baiklah, sedikit bisa disama-samakan. Kalian,kamu dan Baek Seung Jo, sama-sama menyebalkan, karena teganya membuat seorang gadisdengan perasaan alamaih bernama suka, perasaan pertamanya menjadi super duper galau! Hanya itu, persamaan diantara kalian, tak lebih, cukup.


Si bodoh juga bukan Gu Mi Ho si siluman rubah cantik jelita yang mengejar Cha Dae Woong dengan gigih dan terlalu polos mungkin, dalam drama Korea favorit kamu juga sepertinya, yang si bodoh sarankan menonton waktu itu, berjudul My Girlfriend is Gumiho / My Girlfriend is A Nine-tailed Fox. Satu yang kamutak boleh lupa, dia siluman rubah, dan si bodoh, sekalipun si bodoh adalah seeokor(?) atau seorang(?) siluman, si bodoh memilih menjadi siluman belut. Mengapa? Ah, si bodoh juga tak tahu.

Baiklah, kadang, si bodoh pun ingin sekali seperti Mi Ho yang begitu gigih menggedor pintu hati seorang Cha Dae Woong yang kasar tapi juga tak tegaan, hingga Dae Woong memadamkan rasa suka nya pada Ha In yang sejak dulu disukainya, dan justru beralih pada Mi Ho. Apa ini memiliki sebuah kemungkinan juga berlaku pada si bodoh-kamu-dia ? Setiap si bodoh berpikir seperti itu, rasanya kamu akan semakin jauh berdiri disana. Ah! Nyaris terlupa. Apa sekarang kamu sedang berpikir, bahwa kamu adalah Cha Dae Woong nya si bodoh? Oh, tidak bisaa. Si bodoh peringatkan sekali lagi, jangan kegeeran. Cha Dae Woong, cucu pengusaha kaya raya. Apa kamu setidaknya memliki sepertiga dari kekayaan itu? Tentu saja, tidak kan.

Uhm si bodoh pernah sedikit menabung asa, kamu datang pada nya suatu saat kelak, menyanyikan lagu Lee Seung Gi – Losing My Mind, dengan gitarmu. Wah, kamu pasti keren sekali! Si bodoh mungkin butuh alat bantu bernapas kala itu. Tapi, itu jelaslah hanya sekedar asa, tak nyata. Lalu mengapa si bodoh bisa suka padamu? Ah, pertanyaan ini sungguh menyebalkan. Sudah si bodoh katakan, dia tak tahu.

Aha! Bagaimana dengan drama Korea fenomenal berjudul Boys Before Flowers. Uhm, jadi apa kamu mulai berpikir bahwa kamu adalah seorang Goo Jun Pyo yang super duper kaya? Ah, jangan besar kepala. Lihat isi dompetmu. Ckck. Uhm, lalu apa si bodoh adalah Geum Jan Di nya? Oh, tidak. Si bodoh tak semalang Jan Di, beruntunglah, ayahnya tak sampai di kejar para lintah darat berjas itu, si bodoh bukan orang miskin, dia berasal dari keluarga intelek yang berada, dengan prestise baik di lingkungannya. Status sosialnya jauh di atas seorang Geum Jan Di, dia tak semalang itu walau memang ia sangat bodoh. Bodoh sekali.

Bahkan kamu pun tak sekeren Lee Yoon Seung di drama Korea yang baru-baru ini ditonton si bodoh dengan amat sangat antusias, berjudul City Hunter, yang hendak kamu mintai kopian nya dari si bodoh dahulu, dulu. Tapi, tak jadi, kamu bilang hari Senin, lalu tak jadi. Hari berikutnya, juga tak jadi. Selalu tak jadi, si bodoh selalu batal bertemu kamu, dan aneh nya lagi, mengapa selalu turun hujan saat itu. Tak ada kesempatan bertemu, apakah itu sebuah takdir? Itu takdir kan? Ah, jangan tanyakan ini pada si bodoh. Dia tak mau memikirkannya, tak mau. Dia mungkin terlalu takut untuk menerima fakta, bahwa, ini memang lah sebuah takdir, kamu dan si bodoh tak jua bertemu, tak bertemu, itu takdir, takdir.

Ah, mari kembali ke City Hunter. Lee Yoon Seung yang disukai dan juga beruntungnya menyukai Kim Na Na. Si bodoh bertanya dengan ekspresi bodohnya, apa kamu setinggi Lee Yoon Seung? Tidak. Apa kau setampan Lee Yoon Seung? Tidak. Apa kamu mengenakan pakaian semahal Lee Yoon Seung? Tidak. Apa kau menembakkan senjata segagah Lee Yoon Seung? Tidak. Apa kamu sekuat Lee Yoon Seung? Tidak. Apa kamu memliki dan menggunakan berbagai gadget canggih dan mahal seperti Lee Yoon Seung? Tidak. Apa kamu tinggal di rumah semewah Lee Yoon Seung? Tidak. Atau, perbandingan yang paling sederhana, apa hidung kamu semancung Lee Yoon Seung? Ini juga tidak. Lalu apa yang membuat si bodoh sampai ke level sebodoh ini? Ah, si bodoh kembali menggeleng, ia tak tahu.

Ia membayangkan Kim Na Na yang teguh pada satu cintanya, yaitu Lee Yoon Seung. Kim Na Na yang tulus menanti Lee Yoon Seung di situasi yang mungkin jika bukan dia yang dibunuh Lee Yoon Seung, maka dia lah yang akan melepas timah panas pada seseorang yang dengan tega mencuri hatinya, Lee Yoon Seung. Atau mungkin mereka akan sama-sama saling memetik pelatuk dan menembak tepat di jantung, mati. Menjaga perasaan itu hingga ajal yang berperan sebagai pemisahhati mereka.

Katakan, apa si bodoh dan kamu harus seperti itu juga? Ah, ini terlalu tak masuk akal, bukan? Latar belakang keluarga intelek, keluarga  baik-baik, berstrata sosial menengah ke atas. Kamu pun mungkin tak jauh beda. Intinya, kamu dan si bodoh bukan keturunan mafia bukan? Kamu dan si bodoh tak harus saling adu senjata untuk membuktikan seberapa kuat rasa itu mengakar di hati nya, bukan? Apa perlu semiris itu? Tidak, bukan? Baiklah, akan si bodoh jawab sepihak. Bukan, tidak.

Si bodoh menonton MV Lee Seung Gi yang berjudul We’re Friend. Apa benar, si bodoh memang harus seperti itu? Apa si bodoh itu hanya boleh mendampingi kamu sebagai seorang teman, because we’re friend? Apa si bodoh benar-benar tak boleh berlindung di dalam istana hati mu? Si bodoh ingin terkurung selamanya disana, dia tak keberatan, mengapa? Karena dia pun tak tahu, entah apa alasannya, mengapa hanya kamu yang beterbangan liar di luar dan dalam kepalanya, berkelip-kelip cantik di kotak kalbunya, berbinar-binar riang di pantulan bola matanya. Ah, si bodoh juga tak mau bernasib sama seperti si Lee Seung Gi yang malang. Si bodoh itu, dia tak hanya bodoh, dia juga keras kepala, dan banyak maunya. Tak sadar kah dia, bahwa dia itu amatlah bodoh untuk kamu. Bodohnya si bodoh itu.

Si bodoh juga merasa sesuatu tengah menumbuk lempeng hatinya ketika ia menonton MV Super Junior berjudul No Other. Ah, si bodoh ingin kamu datang padanya yang entah kapan itu akan terjadi, si bodoh tak tahu. Dia, si bodoh itu, mengilusikan dengan lancang sekali, dengan seenak hati, kamu, kamu sebagai Lee Dong Hae dengan mawar merahnya, atau Yesung dengan balon-balonya, atau mungkin Heechull dengan surat cintanya, ah, atau bahkan Eunhyuk dengan dance-nya. Uhm, sebenarnya semua bentuk metode pengungkapan rasa itu akan membuat si bodoh yang bodoh ini merasa tubuhnya begitu ringan hingga sanggup di terbangkan angin yang lemah sekalipun hingga menembus awan dan menyapa si mentari pagi. Ah, si bodoh juga berimajinasi sesuka hati, kamu yang nyanyikan lagu Super Junior – Marry U, untuksi bodoh. Dasar, si bodoh ini sungguh tidak tahu malu. Berharap banyak, padahal satupun ia tak memliki hakwalau untuk sekedar berharap. Bodohnya dia.

Atau bagaimana dengan No Min Woo yang mengungkapkan rasa yang tumbuh di hatinya pada Bora, noona yang sekitar 5 tahun lebih berumur daripada dia,  di dalam MV BOYFRIEND berjudul Boyfriend? Mengetuk pintu, menghadiahkan sekeping CD dengan label LOVE di kotaknya. Min Woo tampak sangat manis. Ah, sungguh romantis bukan? Eh, tunggu. Mengapa tiba-tiba tampang manis No Min Woo berganti menjadi kamu? Ah, mengapa kamu juga terlihat begitu manis dalam ilusi semu si bodoh? Ah, ini membuatnya gila. Buyar-buyar, buyarkan imajinasikonyol ini. Si bodoh memukul kepalanya dengan begitu bodoh. Ah!

            Selain itu, si bodoh juga tanpa sengaja mengilustrasikan dengan sebodohnya, seperti Onew yang membawakan sebuket bunga, atau Minho yang menanti di depan rumah dengan mobil mewah super keren itu serta sebuah boneka besar, atau bahkan yang plaing favorit, bagi si bodoh, Key! Key dengan cincin itu. Ah, si bodoh bahkan akan mati sesak menaham riang jika itu benar terjadi, padanya. Ah, mengapa kamu hadir lagi dan menggusur wajah-wajah mereka? Ah, kamu menyebalkan deh ih. Sana!

Suatu malam, hujan, dan dingin. Si bodoh menonton MV Kara berjudul Winter Magic. Disana salju, ini bulan Desember, memang bulan dimana jadwal slaju putih bersih yang polos itu turun dan menyentuh bumi lembut. Ini Desember, si bodoh menempel December wish nya di rak meja belajar, menulisi kertas-kertas kecil warna oranye dan hijau, serta merah muda. Salah satunya, bertuliskan :

 “ I was wondering if I could meet you on this December, eventhough in the last of date, at 31th. “

Di dalam Mv itu, ternyata bercerita tentang gadis yang menanti seorang yang di sukainya, mempersiapkan segala sesuatu dengan matang. Dandanan, sikap, dan kado. Ah, si bodoh sungguh iri. Jika bisa memilih, dia akan menjadi Goo Ha Ra dengan pot bunga serta bunganya ( si bodoh akan belajar menyukai bunga, walau di dunia nyatanya, ia tak tertarik sama sekali pada bunga ), atau Han Seung Yeon dengan syal hasil rajutannya ( si bodoh akan belajar merajut dengan sungguh-sunggu walau ia sama sekali tak suka di ajari tentang berbagai macam keterampilan wanita ), ah, atau mungkin Kang Ji Yeon dengan kadonya pula. Ah, si bodoh benar-benar iri. Mereka, yang walau telah lama menunggu, hingga bahkan nyaris menangis, tapi, beruntungnya pria itu datang, dan mereka pun tersenyum.

Semua pengandaian itu tak satupun yang berakhir sama atau pun sekedar mirip dengan kisah perjalanan bodoh si bodoh. Kotoko, Xiang Qin, Ha Ni, Miho, Jan Di, ataupun Nana. Gadis di MV No Other, Bora di MV Boyfriend, atau bahkan KARA di MV Winter Magic. Penantian mereka membuahkan hasil yang manis, lain halnya dengan si bodoh. Ah, apa si bodoh itu akan memiliki akhir yang sedikit mirip seperti Lee Seung Gi? Because We’re Friend? Ah, si bodoh tak tahu, bukan, kali ini, dia tak mau tahu, berpura-pura tak tahu. Ah!

Lalu, bagaimana dengan si bodoh? Dia masih menunggu, selalu menunggu, menunggu sesuatu yang sangat tak pasti, yaitu kamu. Mengapa? Mungkin, karena ini yang pertama, sehingga, ia dengan begitu lancang, membumbung asa menjadikan ini yang terakhir pula, awal dan akhir. Dia, si bodoh itu, ingin menunggu, walau kamu tak minta ditunggu. Mengapa? Karena dia begitu bodoh untuk lelah, jera, dan menyerah dalam menjalani ruitinitas terbodohnya, yaitu, menunggu, menunggu kamu, kamu.


Ini fakta dunia nyata, bukan rekayasa fatamorgana.

Ataupun kolaborasi dua dimensi berbeda.

0 komentar:

Visitors

Thanks for visiting!

free counters

Followers

World Visiting

December 19, 2011

:: [ Helai 5 ] “ Sepucuk surat dari si bodoh “



“ Sepucuk surat dari si bodoh “   
                  
Helai kelima – Si bodoh terjerat di dunia nyata, dia tidak sedang terperangkap dalam fatamorgana, ataupun tengah terjebak diantara dimensi keduanya.


Sayang sekali, si bodoh bukan Sano Kotoko yang menyukai Irie Naoki di doramaItazura na Kiss, atau Yuan Xiang Qin yang menyukai Jiang Zhi Shu di drama seri Taiwan berjudul It Strated with A Kiss, atau bahkan seorang Oh Ha Ni yang mennyukai Baek Seung Jo di drama Korea yang sepertinya kamu juga suka, judulnya Mischiveous Kiss. Sono Kotoko, Yuan Xiang Qin, dan Oh Ha Ni, mereka menjaga rasa suka itu selama 3 tahun. Uhm, apa kamu ingat? Ah, tidak. Kamu pasti tak akan ingat, kamu selalu tak mengingat apapun. Di salah satu pesan singkat mu, kamu pernah memanggil si bodoh dengan nama Oh Ha Ni si bodoh.

Lalu, apa kamu berpikir bahwa kamu adalah pengeran berkuda putihnya Oh Ha Ni? Apa kamu berpikir kamu adalah Baek Seung Jo? Ah, jangan kegeeran seperti itu. Kamu-dan-Baek Seung Jo, bagai langit-dan-bumi. Apa kamu memiliki IQ 200 seperti Baek Seung Jo? Tinggi 180 cm? Begitu cool? Latar belakang keluarga kaya raya? Ah, si bodoh tak tahu. Mungkin, hanya ada satu persaman, yang baiklah, sedikit bisa disama-samakan. Kalian,kamu dan Baek Seung Jo, sama-sama menyebalkan, karena teganya membuat seorang gadisdengan perasaan alamaih bernama suka, perasaan pertamanya menjadi super duper galau! Hanya itu, persamaan diantara kalian, tak lebih, cukup.


Si bodoh juga bukan Gu Mi Ho si siluman rubah cantik jelita yang mengejar Cha Dae Woong dengan gigih dan terlalu polos mungkin, dalam drama Korea favorit kamu juga sepertinya, yang si bodoh sarankan menonton waktu itu, berjudul My Girlfriend is Gumiho / My Girlfriend is A Nine-tailed Fox. Satu yang kamutak boleh lupa, dia siluman rubah, dan si bodoh, sekalipun si bodoh adalah seeokor(?) atau seorang(?) siluman, si bodoh memilih menjadi siluman belut. Mengapa? Ah, si bodoh juga tak tahu.

Baiklah, kadang, si bodoh pun ingin sekali seperti Mi Ho yang begitu gigih menggedor pintu hati seorang Cha Dae Woong yang kasar tapi juga tak tegaan, hingga Dae Woong memadamkan rasa suka nya pada Ha In yang sejak dulu disukainya, dan justru beralih pada Mi Ho. Apa ini memiliki sebuah kemungkinan juga berlaku pada si bodoh-kamu-dia ? Setiap si bodoh berpikir seperti itu, rasanya kamu akan semakin jauh berdiri disana. Ah! Nyaris terlupa. Apa sekarang kamu sedang berpikir, bahwa kamu adalah Cha Dae Woong nya si bodoh? Oh, tidak bisaa. Si bodoh peringatkan sekali lagi, jangan kegeeran. Cha Dae Woong, cucu pengusaha kaya raya. Apa kamu setidaknya memliki sepertiga dari kekayaan itu? Tentu saja, tidak kan.

Uhm si bodoh pernah sedikit menabung asa, kamu datang pada nya suatu saat kelak, menyanyikan lagu Lee Seung Gi – Losing My Mind, dengan gitarmu. Wah, kamu pasti keren sekali! Si bodoh mungkin butuh alat bantu bernapas kala itu. Tapi, itu jelaslah hanya sekedar asa, tak nyata. Lalu mengapa si bodoh bisa suka padamu? Ah, pertanyaan ini sungguh menyebalkan. Sudah si bodoh katakan, dia tak tahu.

Aha! Bagaimana dengan drama Korea fenomenal berjudul Boys Before Flowers. Uhm, jadi apa kamu mulai berpikir bahwa kamu adalah seorang Goo Jun Pyo yang super duper kaya? Ah, jangan besar kepala. Lihat isi dompetmu. Ckck. Uhm, lalu apa si bodoh adalah Geum Jan Di nya? Oh, tidak. Si bodoh tak semalang Jan Di, beruntunglah, ayahnya tak sampai di kejar para lintah darat berjas itu, si bodoh bukan orang miskin, dia berasal dari keluarga intelek yang berada, dengan prestise baik di lingkungannya. Status sosialnya jauh di atas seorang Geum Jan Di, dia tak semalang itu walau memang ia sangat bodoh. Bodoh sekali.

Bahkan kamu pun tak sekeren Lee Yoon Seung di drama Korea yang baru-baru ini ditonton si bodoh dengan amat sangat antusias, berjudul City Hunter, yang hendak kamu mintai kopian nya dari si bodoh dahulu, dulu. Tapi, tak jadi, kamu bilang hari Senin, lalu tak jadi. Hari berikutnya, juga tak jadi. Selalu tak jadi, si bodoh selalu batal bertemu kamu, dan aneh nya lagi, mengapa selalu turun hujan saat itu. Tak ada kesempatan bertemu, apakah itu sebuah takdir? Itu takdir kan? Ah, jangan tanyakan ini pada si bodoh. Dia tak mau memikirkannya, tak mau. Dia mungkin terlalu takut untuk menerima fakta, bahwa, ini memang lah sebuah takdir, kamu dan si bodoh tak jua bertemu, tak bertemu, itu takdir, takdir.

Ah, mari kembali ke City Hunter. Lee Yoon Seung yang disukai dan juga beruntungnya menyukai Kim Na Na. Si bodoh bertanya dengan ekspresi bodohnya, apa kamu setinggi Lee Yoon Seung? Tidak. Apa kau setampan Lee Yoon Seung? Tidak. Apa kamu mengenakan pakaian semahal Lee Yoon Seung? Tidak. Apa kau menembakkan senjata segagah Lee Yoon Seung? Tidak. Apa kamu sekuat Lee Yoon Seung? Tidak. Apa kamu memliki dan menggunakan berbagai gadget canggih dan mahal seperti Lee Yoon Seung? Tidak. Apa kamu tinggal di rumah semewah Lee Yoon Seung? Tidak. Atau, perbandingan yang paling sederhana, apa hidung kamu semancung Lee Yoon Seung? Ini juga tidak. Lalu apa yang membuat si bodoh sampai ke level sebodoh ini? Ah, si bodoh kembali menggeleng, ia tak tahu.

Ia membayangkan Kim Na Na yang teguh pada satu cintanya, yaitu Lee Yoon Seung. Kim Na Na yang tulus menanti Lee Yoon Seung di situasi yang mungkin jika bukan dia yang dibunuh Lee Yoon Seung, maka dia lah yang akan melepas timah panas pada seseorang yang dengan tega mencuri hatinya, Lee Yoon Seung. Atau mungkin mereka akan sama-sama saling memetik pelatuk dan menembak tepat di jantung, mati. Menjaga perasaan itu hingga ajal yang berperan sebagai pemisahhati mereka.

Katakan, apa si bodoh dan kamu harus seperti itu juga? Ah, ini terlalu tak masuk akal, bukan? Latar belakang keluarga intelek, keluarga  baik-baik, berstrata sosial menengah ke atas. Kamu pun mungkin tak jauh beda. Intinya, kamu dan si bodoh bukan keturunan mafia bukan? Kamu dan si bodoh tak harus saling adu senjata untuk membuktikan seberapa kuat rasa itu mengakar di hati nya, bukan? Apa perlu semiris itu? Tidak, bukan? Baiklah, akan si bodoh jawab sepihak. Bukan, tidak.

Si bodoh menonton MV Lee Seung Gi yang berjudul We’re Friend. Apa benar, si bodoh memang harus seperti itu? Apa si bodoh itu hanya boleh mendampingi kamu sebagai seorang teman, because we’re friend? Apa si bodoh benar-benar tak boleh berlindung di dalam istana hati mu? Si bodoh ingin terkurung selamanya disana, dia tak keberatan, mengapa? Karena dia pun tak tahu, entah apa alasannya, mengapa hanya kamu yang beterbangan liar di luar dan dalam kepalanya, berkelip-kelip cantik di kotak kalbunya, berbinar-binar riang di pantulan bola matanya. Ah, si bodoh juga tak mau bernasib sama seperti si Lee Seung Gi yang malang. Si bodoh itu, dia tak hanya bodoh, dia juga keras kepala, dan banyak maunya. Tak sadar kah dia, bahwa dia itu amatlah bodoh untuk kamu. Bodohnya si bodoh itu.

Si bodoh juga merasa sesuatu tengah menumbuk lempeng hatinya ketika ia menonton MV Super Junior berjudul No Other. Ah, si bodoh ingin kamu datang padanya yang entah kapan itu akan terjadi, si bodoh tak tahu. Dia, si bodoh itu, mengilusikan dengan lancang sekali, dengan seenak hati, kamu, kamu sebagai Lee Dong Hae dengan mawar merahnya, atau Yesung dengan balon-balonya, atau mungkin Heechull dengan surat cintanya, ah, atau bahkan Eunhyuk dengan dance-nya. Uhm, sebenarnya semua bentuk metode pengungkapan rasa itu akan membuat si bodoh yang bodoh ini merasa tubuhnya begitu ringan hingga sanggup di terbangkan angin yang lemah sekalipun hingga menembus awan dan menyapa si mentari pagi. Ah, si bodoh juga berimajinasi sesuka hati, kamu yang nyanyikan lagu Super Junior – Marry U, untuksi bodoh. Dasar, si bodoh ini sungguh tidak tahu malu. Berharap banyak, padahal satupun ia tak memliki hakwalau untuk sekedar berharap. Bodohnya dia.

Atau bagaimana dengan No Min Woo yang mengungkapkan rasa yang tumbuh di hatinya pada Bora, noona yang sekitar 5 tahun lebih berumur daripada dia,  di dalam MV BOYFRIEND berjudul Boyfriend? Mengetuk pintu, menghadiahkan sekeping CD dengan label LOVE di kotaknya. Min Woo tampak sangat manis. Ah, sungguh romantis bukan? Eh, tunggu. Mengapa tiba-tiba tampang manis No Min Woo berganti menjadi kamu? Ah, mengapa kamu juga terlihat begitu manis dalam ilusi semu si bodoh? Ah, ini membuatnya gila. Buyar-buyar, buyarkan imajinasikonyol ini. Si bodoh memukul kepalanya dengan begitu bodoh. Ah!

            Selain itu, si bodoh juga tanpa sengaja mengilustrasikan dengan sebodohnya, seperti Onew yang membawakan sebuket bunga, atau Minho yang menanti di depan rumah dengan mobil mewah super keren itu serta sebuah boneka besar, atau bahkan yang plaing favorit, bagi si bodoh, Key! Key dengan cincin itu. Ah, si bodoh bahkan akan mati sesak menaham riang jika itu benar terjadi, padanya. Ah, mengapa kamu hadir lagi dan menggusur wajah-wajah mereka? Ah, kamu menyebalkan deh ih. Sana!

Suatu malam, hujan, dan dingin. Si bodoh menonton MV Kara berjudul Winter Magic. Disana salju, ini bulan Desember, memang bulan dimana jadwal slaju putih bersih yang polos itu turun dan menyentuh bumi lembut. Ini Desember, si bodoh menempel December wish nya di rak meja belajar, menulisi kertas-kertas kecil warna oranye dan hijau, serta merah muda. Salah satunya, bertuliskan :

 “ I was wondering if I could meet you on this December, eventhough in the last of date, at 31th. “

Di dalam Mv itu, ternyata bercerita tentang gadis yang menanti seorang yang di sukainya, mempersiapkan segala sesuatu dengan matang. Dandanan, sikap, dan kado. Ah, si bodoh sungguh iri. Jika bisa memilih, dia akan menjadi Goo Ha Ra dengan pot bunga serta bunganya ( si bodoh akan belajar menyukai bunga, walau di dunia nyatanya, ia tak tertarik sama sekali pada bunga ), atau Han Seung Yeon dengan syal hasil rajutannya ( si bodoh akan belajar merajut dengan sungguh-sunggu walau ia sama sekali tak suka di ajari tentang berbagai macam keterampilan wanita ), ah, atau mungkin Kang Ji Yeon dengan kadonya pula. Ah, si bodoh benar-benar iri. Mereka, yang walau telah lama menunggu, hingga bahkan nyaris menangis, tapi, beruntungnya pria itu datang, dan mereka pun tersenyum.

Semua pengandaian itu tak satupun yang berakhir sama atau pun sekedar mirip dengan kisah perjalanan bodoh si bodoh. Kotoko, Xiang Qin, Ha Ni, Miho, Jan Di, ataupun Nana. Gadis di MV No Other, Bora di MV Boyfriend, atau bahkan KARA di MV Winter Magic. Penantian mereka membuahkan hasil yang manis, lain halnya dengan si bodoh. Ah, apa si bodoh itu akan memiliki akhir yang sedikit mirip seperti Lee Seung Gi? Because We’re Friend? Ah, si bodoh tak tahu, bukan, kali ini, dia tak mau tahu, berpura-pura tak tahu. Ah!

Lalu, bagaimana dengan si bodoh? Dia masih menunggu, selalu menunggu, menunggu sesuatu yang sangat tak pasti, yaitu kamu. Mengapa? Mungkin, karena ini yang pertama, sehingga, ia dengan begitu lancang, membumbung asa menjadikan ini yang terakhir pula, awal dan akhir. Dia, si bodoh itu, ingin menunggu, walau kamu tak minta ditunggu. Mengapa? Karena dia begitu bodoh untuk lelah, jera, dan menyerah dalam menjalani ruitinitas terbodohnya, yaitu, menunggu, menunggu kamu, kamu.


Ini fakta dunia nyata, bukan rekayasa fatamorgana.

Ataupun kolaborasi dua dimensi berbeda.

No comments: