February 20, 2012

:: [EMPAT] " Sederet kata dalam depotong senja "



Si sepotong senja malang, sederet kata tak tertuang.

Dan, kamu yang hilang.

Seperti senja, tidak gelap, tidak juga terang, dia remang. Melintang diapit siang dan malam yang kan segera datang bertandang, menyapa hati yang berdesir menyeru sebuah nama yang tak kunjung pulang. Menanti dan terus menanti sesuatu yang bahkan samasekali tak lagi layak diharap kan datang, membuat hati kian tak tenang, tak lapang, begitu kering kerontang. Ini lah dia, si sepotong senja malang, dengan sederet kata tak tertuang, kepada kamu yang hilang. 




Akankah kamu berkenan kembali bertandang, pulang, tak berpindah-pindah ruang, tak lagi sekedar berlalu lalang, kerinduan yang tak lagi terbilang, hati yang lebih kalut walau tanpa uang, debar yang seolah panas berdenyut di jantung yang menghitung hari hingga tak lagi dengar jarum jam berdentang, sebongkah rasa yang tak kunjung enggan dibuang, tak tahu cara enyahkan kamu yang telah buat dia menerawang di awang awang tak berpialang, dan juga remang, tak lagi terang benderang, mungkin akan tersandung, jatuh, dan terasa sakit yang amat mencengkeram namun tak mampu mengerang. Ini lah dia, si sepotong senja malang, dengan sederet kata tak tertuang, kepada kamu yang hilang.


Fenomena cantik di langit yang belum berbintang, itu lah senja yang malang, tak banyak waktu yang digenggam karena kan segera tergantikan dengan fase alam yang jauh lebih perkasa, ya, sang malam  bersama kawanan bintang, serta bulan keemasan yang tersenyum gilang, menebar girang. Tak seperti si senja malang, yang hanya berkesempatan sesaat bertandang, walau tak diundang, oleh kamu yang hilang. Ini lah dia, si sepotong senja malang, dengan sederet kata tak tertuang, kepada kamu yang hilang.

Hm, apa kamu tak tahu jalan pulang? Mungkin kamu hanya lupa bagaimana melangkah kembali ke singkatnya senja ini, yang belum jera menanti, berkawan sepi yang kian menusuk bagai duri, menahan sesak yang kian selubungi hati yang tak mampu lepas rasa yang tak lagi terasa senang. Jika kamu tak mampu menapak kembali pulang, silahkan terbang, tinggi, bermain bersama awan senja yang kemerahan di angkasa raya yang lapang, lihat ke bawah, dan kan kamu kan temukan si senja malang yang tengah menggoreskan sederet kata, kepada kamu yang hilang. Inilah kita, pelabuhan cinta sederhana, yang mempertemukan peristiwa luka dan tawa. Inilah dia, si sepotong senja malang, dengan sederet kata tak tertuang, kepada kamu yang hilang.

Datang, pulang, jangan lagi lalu-lalang, tetaplah dalam satu ruang, jangan hidup nomaden walau dalam waktu luang, temani senja agar tak lagi malang, mengukir hari yang kan segera habis terbuang, dan mungkin waktu tak lagi panjang,untuk sepotong senja, hanya sepotong, sepotong senja yang malang.  Ini lah dia, si sepotong senja malang, dengan sederet kata tak tertuang, kepada kamu yang hilang. 





Si sepotong senja malang, sederet kata tak tertuang.

Dan, kamu yang hilang.

SELESAI.

0 komentar:

Visitors

Thanks for visiting!

free counters

Followers

World Visiting

February 20, 2012

:: [EMPAT] " Sederet kata dalam depotong senja "



Si sepotong senja malang, sederet kata tak tertuang.

Dan, kamu yang hilang.

Seperti senja, tidak gelap, tidak juga terang, dia remang. Melintang diapit siang dan malam yang kan segera datang bertandang, menyapa hati yang berdesir menyeru sebuah nama yang tak kunjung pulang. Menanti dan terus menanti sesuatu yang bahkan samasekali tak lagi layak diharap kan datang, membuat hati kian tak tenang, tak lapang, begitu kering kerontang. Ini lah dia, si sepotong senja malang, dengan sederet kata tak tertuang, kepada kamu yang hilang. 




Akankah kamu berkenan kembali bertandang, pulang, tak berpindah-pindah ruang, tak lagi sekedar berlalu lalang, kerinduan yang tak lagi terbilang, hati yang lebih kalut walau tanpa uang, debar yang seolah panas berdenyut di jantung yang menghitung hari hingga tak lagi dengar jarum jam berdentang, sebongkah rasa yang tak kunjung enggan dibuang, tak tahu cara enyahkan kamu yang telah buat dia menerawang di awang awang tak berpialang, dan juga remang, tak lagi terang benderang, mungkin akan tersandung, jatuh, dan terasa sakit yang amat mencengkeram namun tak mampu mengerang. Ini lah dia, si sepotong senja malang, dengan sederet kata tak tertuang, kepada kamu yang hilang.


Fenomena cantik di langit yang belum berbintang, itu lah senja yang malang, tak banyak waktu yang digenggam karena kan segera tergantikan dengan fase alam yang jauh lebih perkasa, ya, sang malam  bersama kawanan bintang, serta bulan keemasan yang tersenyum gilang, menebar girang. Tak seperti si senja malang, yang hanya berkesempatan sesaat bertandang, walau tak diundang, oleh kamu yang hilang. Ini lah dia, si sepotong senja malang, dengan sederet kata tak tertuang, kepada kamu yang hilang.

Hm, apa kamu tak tahu jalan pulang? Mungkin kamu hanya lupa bagaimana melangkah kembali ke singkatnya senja ini, yang belum jera menanti, berkawan sepi yang kian menusuk bagai duri, menahan sesak yang kian selubungi hati yang tak mampu lepas rasa yang tak lagi terasa senang. Jika kamu tak mampu menapak kembali pulang, silahkan terbang, tinggi, bermain bersama awan senja yang kemerahan di angkasa raya yang lapang, lihat ke bawah, dan kan kamu kan temukan si senja malang yang tengah menggoreskan sederet kata, kepada kamu yang hilang. Inilah kita, pelabuhan cinta sederhana, yang mempertemukan peristiwa luka dan tawa. Inilah dia, si sepotong senja malang, dengan sederet kata tak tertuang, kepada kamu yang hilang.

Datang, pulang, jangan lagi lalu-lalang, tetaplah dalam satu ruang, jangan hidup nomaden walau dalam waktu luang, temani senja agar tak lagi malang, mengukir hari yang kan segera habis terbuang, dan mungkin waktu tak lagi panjang,untuk sepotong senja, hanya sepotong, sepotong senja yang malang.  Ini lah dia, si sepotong senja malang, dengan sederet kata tak tertuang, kepada kamu yang hilang. 





Si sepotong senja malang, sederet kata tak tertuang.

Dan, kamu yang hilang.

SELESAI.

No comments: