February 20, 2012

:: [DUA] " Sebongkah Lara di Pagi Kelabu. "



Lara dan pagi kelabu.

Semilir angin menderu, di sebuah lokal lantai 4 gedung ungu, mengambil tempat di pojok kanan depan pintu, menanti dosen yang minta ditunggu, menatap jauh ke luar jendela sembari bertopang dagu,  membisu, menghela napas dengan lesu, mata terpaku pada langit kelabu, merasuk rindu dalam kalbu, seruan sendu kepada kamu, kamu di masa lalu, ketika masih saling bertemu, terkenang akan mimik wajahmu, getar vokalmu, jemari yang lincah denga guratan guratan artistik bermutu, di sketsa biru itu, mungkin kah itu dilukis untuk dihadiahkan kepada si penunggu kamu, atau orang itu, yang sama sekali tak menunggu hadirmu, ah, ini kah sebongkah lara dan pagi kelabu, yang menyatu menjadi satu, menghasut rindu, menjadi kian menggebu, bergemuruh sendu dalam kalbu.



Lara dan pagi kelabu.

Ketukan-ketukan kecil di lantai oleh ujung kuku, bolak-balik buku, seharga dua puluh  delapan ribu, duduk-duduk di pinggir jendela berdebu, teman-teman yang melucu, dan sesekali mengganggu, tapi terasa seru, hingga jenuh pun mulai menyerbu, lantaran yang ditunggu tak jua muncul di depan pintu, lalu datang sebuah kabar dari ketua kelas dengan napas yang memburu, setelah mendaki lantai 4 gedung ungu yang tinggi menjulang itu, sebab rusaknya lift yang seharusnya sangat membantu, sebuah kabar tentang dosen tak datang tentu, sorak sorai layaknya anak SD yang lugu, tapi tunggu dulu, ada satu hal yang tak berubah sejak 1 jam lalu, yaitu, ah, ini kah sebongkah lara dan pagi kelabu, yang menyatu menjadi satu, menghasut rindu, menjadi kian menggebu, bergemuruh sendu dalam kalbu.


Lara dan pagi kelabu.

Menapak di sepanjang jalan pulang ke rumah di bawah langit kelabu, awan-awan sendu, langit yang entah kapan kan kembali biru, dengan gerombolan awan putih saling beradu, tak lagi penuh haru, berulang kali menghembuskan napas rindu, ingin bertemu, kamu, sungguh tak tahu, mengapa bisa sampai seperti itu, tiba dirumah dan membuka pintu, duduk di lantai yang baru disapu, menonton televisi yang tayangkan acara terbaru, melirik jam dinding biru, pukul sembilan lewat 15 menit kala itu, berencana hendak mencuci baju, hendak pudarkan rindu dengan cara sibukkan diri dengan setumpuk pekerjaan yang menunggu, tapi sialnya taktik itu tak jitu, gagal dan gagal melulu, rindu masih saja menyesak mengisi ruang kalbu, yang terus menyeru nama kamu, selalu seperti itu, ah, ini kah sebongkah lara dan pagi kelabu, yang menyatu menjadi satu, menghasut rindu, menjadi kian menggebu, bergemuruh dalam  kalbu.





Lara dan pagi kelabu. SELESAI.

0 komentar:

Visitors

Thanks for visiting!

free counters

Followers

World Visiting

February 20, 2012

:: [DUA] " Sebongkah Lara di Pagi Kelabu. "



Lara dan pagi kelabu.

Semilir angin menderu, di sebuah lokal lantai 4 gedung ungu, mengambil tempat di pojok kanan depan pintu, menanti dosen yang minta ditunggu, menatap jauh ke luar jendela sembari bertopang dagu,  membisu, menghela napas dengan lesu, mata terpaku pada langit kelabu, merasuk rindu dalam kalbu, seruan sendu kepada kamu, kamu di masa lalu, ketika masih saling bertemu, terkenang akan mimik wajahmu, getar vokalmu, jemari yang lincah denga guratan guratan artistik bermutu, di sketsa biru itu, mungkin kah itu dilukis untuk dihadiahkan kepada si penunggu kamu, atau orang itu, yang sama sekali tak menunggu hadirmu, ah, ini kah sebongkah lara dan pagi kelabu, yang menyatu menjadi satu, menghasut rindu, menjadi kian menggebu, bergemuruh sendu dalam kalbu.



Lara dan pagi kelabu.

Ketukan-ketukan kecil di lantai oleh ujung kuku, bolak-balik buku, seharga dua puluh  delapan ribu, duduk-duduk di pinggir jendela berdebu, teman-teman yang melucu, dan sesekali mengganggu, tapi terasa seru, hingga jenuh pun mulai menyerbu, lantaran yang ditunggu tak jua muncul di depan pintu, lalu datang sebuah kabar dari ketua kelas dengan napas yang memburu, setelah mendaki lantai 4 gedung ungu yang tinggi menjulang itu, sebab rusaknya lift yang seharusnya sangat membantu, sebuah kabar tentang dosen tak datang tentu, sorak sorai layaknya anak SD yang lugu, tapi tunggu dulu, ada satu hal yang tak berubah sejak 1 jam lalu, yaitu, ah, ini kah sebongkah lara dan pagi kelabu, yang menyatu menjadi satu, menghasut rindu, menjadi kian menggebu, bergemuruh sendu dalam kalbu.


Lara dan pagi kelabu.

Menapak di sepanjang jalan pulang ke rumah di bawah langit kelabu, awan-awan sendu, langit yang entah kapan kan kembali biru, dengan gerombolan awan putih saling beradu, tak lagi penuh haru, berulang kali menghembuskan napas rindu, ingin bertemu, kamu, sungguh tak tahu, mengapa bisa sampai seperti itu, tiba dirumah dan membuka pintu, duduk di lantai yang baru disapu, menonton televisi yang tayangkan acara terbaru, melirik jam dinding biru, pukul sembilan lewat 15 menit kala itu, berencana hendak mencuci baju, hendak pudarkan rindu dengan cara sibukkan diri dengan setumpuk pekerjaan yang menunggu, tapi sialnya taktik itu tak jitu, gagal dan gagal melulu, rindu masih saja menyesak mengisi ruang kalbu, yang terus menyeru nama kamu, selalu seperti itu, ah, ini kah sebongkah lara dan pagi kelabu, yang menyatu menjadi satu, menghasut rindu, menjadi kian menggebu, bergemuruh dalam  kalbu.





Lara dan pagi kelabu. SELESAI.

No comments: