February 20, 2012

:: [SATU] " Di selembar fajar berembun. "



Di selembar fajar berembun.

Terjaga ketika adzan berkumandang di Mushalla Nurul Fajri, berdiri, menunaikan kewajiban sebagai seorang muslimah yang tahu diri, waktu pun bergulir tiada henti, kini sedang mengukir sebuah simbol hati, inisial nama milik seseorang yang pergi, dan lambang tak berhingga berkali-kali, kebiasaan jika tengah gundah dan tak cukup berani, ungkapkan sebuah arti, yang melompat-lompat gusar dalam nurani, lalu jemari hanya mampu menari, dikaca jendela kamar yang berembun ini, dikala pagi belum menyapa jiwa yang masih sepi, bahkan kadang merasa tak berarti, tanpa kamu disini, tak temani dia yang tak bisa jika tak terus menanti, dan faktanya dia hanya seorang diri, di selembar fajar berembun ini.



Di selembar fajar berembun.

Berbekas hujan semalam tadi, basah dan lembab di balik jendela yang belum jua dipasangi terali besi, dingin menghampiri, merasuk dari kepala hingga ujung kaki, kembali ke kasur bermotif bunga daisy, yang mekar di padang hijau tak berpenghuni, selimuti diri hingga dingin tak terasa begitu menjangkiti, dibalik selimut berwarna merah muda dengan hiasan Hello Kitty, mencoba menghangatkan hati yang menggigil diterjang rindu yang tak jera menyerang hari demi hari, dan faktanya dia hanya seorang diri, di selembar fajar berembun ini.


Di selembar fajar berembun.

Menangkap bunyi dentang jam dalam sunyi, menatap tanggal demi tanggal di kalender dalam hape yang belum lama dibeli, menghela napas dengan segudang rasa iri, terhadap mereka yang bisa bertemu setiap saat dengan dambaan hati, bermain kesana-kemari, mendengar getar vokal si doi, menatap paras yang selalu membuat grogi, kala berhadapan atau bicara dari hati ke hati, ah pasti amat senang sekali, jika bisa seperti itu kini, andai itu tak sebatas mimpi, imajinasi, ilusi, fiksi, yang tak terpenuhi, dan faktanya dia hanya seorang diri, di selembar fajar berembun ini.


Di selembar fajar berembun.

Berdendang kecil mengusir risau dihati, menanti mentari pagi yang kan segera mengusir sang fajar pergi, dan pagi pun kembali, mengawali hari, meniupkan udara diantara telapak tangan untuk ditempelkan di wajah yang mulai pucat pasi, fajar kali ini, sungguh dingin sekali, ah, tapi tetap saja jadwal hari ini, harus dijalani dengan semangat yang tinggi, dimulai dari Shalat Shubuh tadi, lalu sekitar 15 menit lagi, akan segera mandi, berpakaian rapi, sarapan bergizi, kemudian ucapkan selamat datang pada sang pagi, senang bertemu kembali, dan satu yang tak jua berubah hingga kini, yaitu faktanya dia masih saja seorang diri, di selembar fajar ini.






Di selembar fajar berembun. SELESAI.

0 komentar:

Visitors

Thanks for visiting!

free counters

Followers

World Visiting

February 20, 2012

:: [SATU] " Di selembar fajar berembun. "



Di selembar fajar berembun.

Terjaga ketika adzan berkumandang di Mushalla Nurul Fajri, berdiri, menunaikan kewajiban sebagai seorang muslimah yang tahu diri, waktu pun bergulir tiada henti, kini sedang mengukir sebuah simbol hati, inisial nama milik seseorang yang pergi, dan lambang tak berhingga berkali-kali, kebiasaan jika tengah gundah dan tak cukup berani, ungkapkan sebuah arti, yang melompat-lompat gusar dalam nurani, lalu jemari hanya mampu menari, dikaca jendela kamar yang berembun ini, dikala pagi belum menyapa jiwa yang masih sepi, bahkan kadang merasa tak berarti, tanpa kamu disini, tak temani dia yang tak bisa jika tak terus menanti, dan faktanya dia hanya seorang diri, di selembar fajar berembun ini.



Di selembar fajar berembun.

Berbekas hujan semalam tadi, basah dan lembab di balik jendela yang belum jua dipasangi terali besi, dingin menghampiri, merasuk dari kepala hingga ujung kaki, kembali ke kasur bermotif bunga daisy, yang mekar di padang hijau tak berpenghuni, selimuti diri hingga dingin tak terasa begitu menjangkiti, dibalik selimut berwarna merah muda dengan hiasan Hello Kitty, mencoba menghangatkan hati yang menggigil diterjang rindu yang tak jera menyerang hari demi hari, dan faktanya dia hanya seorang diri, di selembar fajar berembun ini.


Di selembar fajar berembun.

Menangkap bunyi dentang jam dalam sunyi, menatap tanggal demi tanggal di kalender dalam hape yang belum lama dibeli, menghela napas dengan segudang rasa iri, terhadap mereka yang bisa bertemu setiap saat dengan dambaan hati, bermain kesana-kemari, mendengar getar vokal si doi, menatap paras yang selalu membuat grogi, kala berhadapan atau bicara dari hati ke hati, ah pasti amat senang sekali, jika bisa seperti itu kini, andai itu tak sebatas mimpi, imajinasi, ilusi, fiksi, yang tak terpenuhi, dan faktanya dia hanya seorang diri, di selembar fajar berembun ini.


Di selembar fajar berembun.

Berdendang kecil mengusir risau dihati, menanti mentari pagi yang kan segera mengusir sang fajar pergi, dan pagi pun kembali, mengawali hari, meniupkan udara diantara telapak tangan untuk ditempelkan di wajah yang mulai pucat pasi, fajar kali ini, sungguh dingin sekali, ah, tapi tetap saja jadwal hari ini, harus dijalani dengan semangat yang tinggi, dimulai dari Shalat Shubuh tadi, lalu sekitar 15 menit lagi, akan segera mandi, berpakaian rapi, sarapan bergizi, kemudian ucapkan selamat datang pada sang pagi, senang bertemu kembali, dan satu yang tak jua berubah hingga kini, yaitu faktanya dia masih saja seorang diri, di selembar fajar ini.






Di selembar fajar berembun. SELESAI.

No comments: