March 24, 2012

:: [LISTENING 1] Spongebobob Squarepants “ SpongeGuard on Duty “




At Goo Lagon, Spongebob and Patrick are sunbating at the beach in Bikini Bottom. Spongebob remarks on how cool Larry the Lifeguard is, and Spongebob fantasies how cool it would be if he was a Lifeguard, but Patrick doens’t agree. Spongebob then says that he’s just as cool as Larry, and he said that :
“ If I’m not, let me be struck by thunder crushes  (a flying ice cream truck)! “

One day and accidentally the truck falls on him and he gets vanilla ice cream on his nose. Well, Larry who is the main lifeguard at the beach, sees this and assumes that Spongebob is really a lifeguard. Before he can even get a chance to explain to Larry that he really isn’t, he is asked to watch the beach for the rest of Larry’s shift so that he can leave for a little bit. Spongebob has always dreamed of being a lifeguard, so he takes him up on his offer, though he has no idea of what he is doing.

March 01, 2012

:: [LISTENING 1] The Fairly Odd Parents “ Formula for Disaster “


At Dimmsdale Elementary School, Mr. Crocker pulls down a screen at the head of his class and a projector reveals his "F Tracker". Timmy has gotten his 5,000th F. Crocker asks Trixie Tang to tell Timmy what he's won, and like a game show hostess she reveals that Timmy has "won" an all-expense paid day at Crocker's Military Academy for one. Mr. Crocker shows the camp and it's purpose on the projector screen. The movie shows Dolores-Day Crocker, his mother, running a grueling obstacle course early in the morning, and then fighting a bear. Timmy asks howthat is supposed to help his grades. Crocker whispers to himself that its all just a ruse to capture Timmy alone with his fairies. Timmy says that his parents would never send him to military school.


February 20, 2012

:: [LIMA] " Senandung nostalgia sepanjang sepenggal malam "



Senandung nostalgia sepanjang sepenggal malam.

La la la la la la ~

Lama tak jumpa, kamu yang disana, apa kabar nya, sedang apa dan dimana, bersama siapa, sendiri saja, atau bersama mereka, ingin sekali rasanya kembali bersua, terkenang saat berbagi canda, tawa, bahkan airmata, ketika perpisahan itu tiba, sungguh tak terkira, betapa hati begitu lantang menyeru sebuah nama, nama yang nyaris tak ada berita, hingga detik terakhir di jam dinding merah muda, hati yang nyinyir bertanya, pertanyaan yang itu-itu saja, semua tentang kamu yang tak jua datang dan bawa rasa, rasa yang diharap kan damaikan gemuruh di jiwa, merana, menanti kamu kembali dan segera ungkapkan suka, atau bahkan telah berevolusi mnejadi sekeping cinta, untuk kita, berdua, bersama, selamanya, hingga hanya maut yang akan menjadi pemisah cinta kita, ah, sepertinya ini terlalu melenceng jauh dari logika, ini gila, tipis kemungkinan kan jadi nyata, tak hanya jadi bait senandung semata, senandung nostalgia sepanjang sepenggal malam, takut hanya sebuah nostalgia tentang kita, ketika SMA.


:: [EMPAT] " Sederet kata dalam depotong senja "



Si sepotong senja malang, sederet kata tak tertuang.

Dan, kamu yang hilang.

Seperti senja, tidak gelap, tidak juga terang, dia remang. Melintang diapit siang dan malam yang kan segera datang bertandang, menyapa hati yang berdesir menyeru sebuah nama yang tak kunjung pulang. Menanti dan terus menanti sesuatu yang bahkan samasekali tak lagi layak diharap kan datang, membuat hati kian tak tenang, tak lapang, begitu kering kerontang. Ini lah dia, si sepotong senja malang, dengan sederet kata tak tertuang, kepada kamu yang hilang. 



:: [TIGA] " Sekeping asa diapit siang dan sore"



Terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.

Momen disela saing dan sore yang tak lama, cukup singkat walau sekedar merajut asa, terhadap kamu yang telah lebih dari sahabat semata, terhadap kamu yang disana, yang tak jua sadari tumbuhnya sebuah rasa, antara kita, berdua, sebuah rasa yang tak biasa,  mungkin memang belum fase nya menjelma atau bertmetamorfosa, menjadi lebih dari sekedar suka, belum lah menyentuh tahap berlabel cinta, tapi ini nyata, bukan rekayasa, bukan halusinasi semata, bukan bualan para pendusta, bukan pula celoteh ria, rasa itu ada, walau tak bisa diraba, tak bisa ditatap mata, tak bisa ditangkap dengar telinga, tapi itu jelas terasa, biar hati yang bicara, kepada kamu yang disana, sebuah rasa yang terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.


:: [DUA] " Sebongkah Lara di Pagi Kelabu. "



Lara dan pagi kelabu.

Semilir angin menderu, di sebuah lokal lantai 4 gedung ungu, mengambil tempat di pojok kanan depan pintu, menanti dosen yang minta ditunggu, menatap jauh ke luar jendela sembari bertopang dagu,  membisu, menghela napas dengan lesu, mata terpaku pada langit kelabu, merasuk rindu dalam kalbu, seruan sendu kepada kamu, kamu di masa lalu, ketika masih saling bertemu, terkenang akan mimik wajahmu, getar vokalmu, jemari yang lincah denga guratan guratan artistik bermutu, di sketsa biru itu, mungkin kah itu dilukis untuk dihadiahkan kepada si penunggu kamu, atau orang itu, yang sama sekali tak menunggu hadirmu, ah, ini kah sebongkah lara dan pagi kelabu, yang menyatu menjadi satu, menghasut rindu, menjadi kian menggebu, bergemuruh sendu dalam kalbu.


:: [SATU] " Di selembar fajar berembun. "



Di selembar fajar berembun.

Terjaga ketika adzan berkumandang di Mushalla Nurul Fajri, berdiri, menunaikan kewajiban sebagai seorang muslimah yang tahu diri, waktu pun bergulir tiada henti, kini sedang mengukir sebuah simbol hati, inisial nama milik seseorang yang pergi, dan lambang tak berhingga berkali-kali, kebiasaan jika tengah gundah dan tak cukup berani, ungkapkan sebuah arti, yang melompat-lompat gusar dalam nurani, lalu jemari hanya mampu menari, dikaca jendela kamar yang berembun ini, dikala pagi belum menyapa jiwa yang masih sepi, bahkan kadang merasa tak berarti, tanpa kamu disini, tak temani dia yang tak bisa jika tak terus menanti, dan faktanya dia hanya seorang diri, di selembar fajar berembun ini.


March 24, 2012

:: [LISTENING 1] Spongebobob Squarepants “ SpongeGuard on Duty “




At Goo Lagon, Spongebob and Patrick are sunbating at the beach in Bikini Bottom. Spongebob remarks on how cool Larry the Lifeguard is, and Spongebob fantasies how cool it would be if he was a Lifeguard, but Patrick doens’t agree. Spongebob then says that he’s just as cool as Larry, and he said that :
“ If I’m not, let me be struck by thunder crushes  (a flying ice cream truck)! “

One day and accidentally the truck falls on him and he gets vanilla ice cream on his nose. Well, Larry who is the main lifeguard at the beach, sees this and assumes that Spongebob is really a lifeguard. Before he can even get a chance to explain to Larry that he really isn’t, he is asked to watch the beach for the rest of Larry’s shift so that he can leave for a little bit. Spongebob has always dreamed of being a lifeguard, so he takes him up on his offer, though he has no idea of what he is doing.

March 01, 2012

:: [LISTENING 1] The Fairly Odd Parents “ Formula for Disaster “


At Dimmsdale Elementary School, Mr. Crocker pulls down a screen at the head of his class and a projector reveals his "F Tracker". Timmy has gotten his 5,000th F. Crocker asks Trixie Tang to tell Timmy what he's won, and like a game show hostess she reveals that Timmy has "won" an all-expense paid day at Crocker's Military Academy for one. Mr. Crocker shows the camp and it's purpose on the projector screen. The movie shows Dolores-Day Crocker, his mother, running a grueling obstacle course early in the morning, and then fighting a bear. Timmy asks howthat is supposed to help his grades. Crocker whispers to himself that its all just a ruse to capture Timmy alone with his fairies. Timmy says that his parents would never send him to military school.


February 20, 2012

:: [LIMA] " Senandung nostalgia sepanjang sepenggal malam "



Senandung nostalgia sepanjang sepenggal malam.

La la la la la la ~

Lama tak jumpa, kamu yang disana, apa kabar nya, sedang apa dan dimana, bersama siapa, sendiri saja, atau bersama mereka, ingin sekali rasanya kembali bersua, terkenang saat berbagi canda, tawa, bahkan airmata, ketika perpisahan itu tiba, sungguh tak terkira, betapa hati begitu lantang menyeru sebuah nama, nama yang nyaris tak ada berita, hingga detik terakhir di jam dinding merah muda, hati yang nyinyir bertanya, pertanyaan yang itu-itu saja, semua tentang kamu yang tak jua datang dan bawa rasa, rasa yang diharap kan damaikan gemuruh di jiwa, merana, menanti kamu kembali dan segera ungkapkan suka, atau bahkan telah berevolusi mnejadi sekeping cinta, untuk kita, berdua, bersama, selamanya, hingga hanya maut yang akan menjadi pemisah cinta kita, ah, sepertinya ini terlalu melenceng jauh dari logika, ini gila, tipis kemungkinan kan jadi nyata, tak hanya jadi bait senandung semata, senandung nostalgia sepanjang sepenggal malam, takut hanya sebuah nostalgia tentang kita, ketika SMA.


:: [EMPAT] " Sederet kata dalam depotong senja "



Si sepotong senja malang, sederet kata tak tertuang.

Dan, kamu yang hilang.

Seperti senja, tidak gelap, tidak juga terang, dia remang. Melintang diapit siang dan malam yang kan segera datang bertandang, menyapa hati yang berdesir menyeru sebuah nama yang tak kunjung pulang. Menanti dan terus menanti sesuatu yang bahkan samasekali tak lagi layak diharap kan datang, membuat hati kian tak tenang, tak lapang, begitu kering kerontang. Ini lah dia, si sepotong senja malang, dengan sederet kata tak tertuang, kepada kamu yang hilang. 



:: [TIGA] " Sekeping asa diapit siang dan sore"



Terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.

Momen disela saing dan sore yang tak lama, cukup singkat walau sekedar merajut asa, terhadap kamu yang telah lebih dari sahabat semata, terhadap kamu yang disana, yang tak jua sadari tumbuhnya sebuah rasa, antara kita, berdua, sebuah rasa yang tak biasa,  mungkin memang belum fase nya menjelma atau bertmetamorfosa, menjadi lebih dari sekedar suka, belum lah menyentuh tahap berlabel cinta, tapi ini nyata, bukan rekayasa, bukan halusinasi semata, bukan bualan para pendusta, bukan pula celoteh ria, rasa itu ada, walau tak bisa diraba, tak bisa ditatap mata, tak bisa ditangkap dengar telinga, tapi itu jelas terasa, biar hati yang bicara, kepada kamu yang disana, sebuah rasa yang terjepit diantara siang dan sore, sekeping asa.


:: [DUA] " Sebongkah Lara di Pagi Kelabu. "



Lara dan pagi kelabu.

Semilir angin menderu, di sebuah lokal lantai 4 gedung ungu, mengambil tempat di pojok kanan depan pintu, menanti dosen yang minta ditunggu, menatap jauh ke luar jendela sembari bertopang dagu,  membisu, menghela napas dengan lesu, mata terpaku pada langit kelabu, merasuk rindu dalam kalbu, seruan sendu kepada kamu, kamu di masa lalu, ketika masih saling bertemu, terkenang akan mimik wajahmu, getar vokalmu, jemari yang lincah denga guratan guratan artistik bermutu, di sketsa biru itu, mungkin kah itu dilukis untuk dihadiahkan kepada si penunggu kamu, atau orang itu, yang sama sekali tak menunggu hadirmu, ah, ini kah sebongkah lara dan pagi kelabu, yang menyatu menjadi satu, menghasut rindu, menjadi kian menggebu, bergemuruh sendu dalam kalbu.


:: [SATU] " Di selembar fajar berembun. "



Di selembar fajar berembun.

Terjaga ketika adzan berkumandang di Mushalla Nurul Fajri, berdiri, menunaikan kewajiban sebagai seorang muslimah yang tahu diri, waktu pun bergulir tiada henti, kini sedang mengukir sebuah simbol hati, inisial nama milik seseorang yang pergi, dan lambang tak berhingga berkali-kali, kebiasaan jika tengah gundah dan tak cukup berani, ungkapkan sebuah arti, yang melompat-lompat gusar dalam nurani, lalu jemari hanya mampu menari, dikaca jendela kamar yang berembun ini, dikala pagi belum menyapa jiwa yang masih sepi, bahkan kadang merasa tak berarti, tanpa kamu disini, tak temani dia yang tak bisa jika tak terus menanti, dan faktanya dia hanya seorang diri, di selembar fajar berembun ini.


Visitors

Thanks for visiting!

free counters

Followers

World Visiting