July 19, 2013

:: Bukan hanya Anda, Saya pun takut.


Hari ini, saya membaca salah satu postingan teman saya di blog pribadinya, sepertinya dia belum lama putus dari pacarnya yang kesekian. Saya memang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan seorang kekasih yang tulus disayangi. Saya tidak pernah mencicipi bagaimana rasanya menjalin hubungan dengan seseorang dalam ikatan ‘pacaran’. Tak sedikit yang tak percaya ketika saya menjawab tanya mereka bahwa saya benar-benar belum pernah pacaran selama 20 tahun saya bernapas. Lalu, mereka melontarkan pertanyaan lanjutan, kenapa? Ah, entahlah, sejujurnya saya juga tak terlalu terpikirkan akan hal itu, entah karena belum siap atau apa, saya juga tak tahu, yang jelas, saya cukup menikmati kesendirian saya. Mungkin karena saya sudah terbiasa sendiri, sejak kecil, sehingga itu bukanlah sebuah masalah besar yang akan menyeret saya jatuh. Kemudian, pertanyaan kembali diajukan, apa ada seseorang yang saya sukai? Dan saya menjawab, ada. Ada seseorang yang mengisi relung hati saya, dan tanpa saya sadari, sudah lebih dua tahun berlalu sejak saya menyadari bahwa hati saya sudah dihuni oleh rasa padanya, seseorang yang tak sengaja saya sukai, dan terlambat saya menyadari.

        Ah, entahlah, hingga kini saya masih tak mengerti, mengapa saya masih terjebak dirasa yang sama, pada orang yang sama. Mengapa dan apa yang membuat saya tak bisa berpindah ke hunian yang lain, yang menawarkan kenyamanan, dengan lebih sedikit intensitas air mata, rasa sesak, serta berlimpah bahagia dan lega, saya tak perlu lagi olahraga mata setiap kali melintasi titik-titik yang berpeluang besar akan hadirnya. Entahlah, saya  masih tak mengerti, dan waktu terus berputar tanpa henti, dan saya masih berdiri, disini. Orang-orang bilang, segera lupakan, jangan pedulikan, tapi sekeras dan sesering apapun saya mencoba, pada akhirnya, saya kembali ke titik awal, seolah perjalanan mengenyahkannya adalah sebuah langkah-langkah kecil dengan rute melingkar, sehingga pantaslah saya selalu kembali ke titik asal dimana tapak saya bermula melangkah, dimana saya masih sangat menyukainya. Cukup sering saya berkata akan pergi, akan berhenti, tapi lagi dan lagi saya berulah kembali. Dan ini membuat saya menjadi begitu tak nyaman, untuk diri saya sendiri, untuk dia, serta mereka yang berada disekitar saya serta dia. Jika saya memiliki sembilan buah ‘Dragon Ball’ yang dapat mewujudkan satu permintaan, saya bersedia menukarnya dengan sebuah pinta agar dapat memutar waktu, dimana saya seharusnya menjawab sebaliknya atas pertanyaannya kala itu, mempertanyakan sukakah saya padanya. Seandainya saya sedikit lebih pintar, saya akan berkata ‘Tidak mungkin, bagaimana mungkin aku bisa menyukai pria sepertimu. Kau selalu membuatku kesal, keras kepala, tidak mau mengalah setiap adu bacot denganku, kasar, cuek, moody, emosian, serta sesekali mengecewakanku, dan tak jarang menitikkan air mataku, kau itu benar-benar bukan tipeku. Aku tidak suka padamu, tidak akan.‘  


Sekitar hampir setengah tahun setelah itu, penghujung 2011, saya baru menyadari bahwa tak seharusnya saya harus berujar sejujur itu, bukan, itu lebih tepat dikatakan sebagai ucapan bodoh, karena membiarkannya mengetahui hal yang seharusnya cukup saya simpan saja sendiri, bukankah saya sudah terbiasa sendiri, mengapa saya harus menjadi lemah saat itu. Seperti sebuah telur, satu sudut telah retak, lalu sedikit demi sedikit retakan itu kian meluas, sama seperti sekarang, semakin banyak yang terungkap, semakin rumit, dan semua itu akibat kebodohan saya. Pft.

Waktu terus bergulir, jauh dan jauh, beberapa hal terjadi, dia menjalin hubungan baru kemudian berakhir, dan ternyata apa yang saya rasakan masih belum bertepi walau komunikasi semakin sepi. Awalnya, saya pikir saya sudah sembuh, tetapi ternyata penyakit itu hanya tertidur, pertengahan tahun 2012, penyakit yang saya derita sejak setahun lalu kambuh kembali, semakin menjadi. Saya takut akan membuat anda ketakutan dengan rasa takut saya pada anda, dan itu benar, semakin jelas terlihat hari demi hari, hingga kini.

Setahun kemudian, ketika saya hendak menuju tempat yang anda ingin tinggalkan, dan sebaliknya anda justru ingin mengisi tempat yang ingin saya lepaskan, akan tetapi akhirnya saya terkurung di tempat ini, dan mirisnya saya menemukan kemungkinan anda di sela-sela keberuntungan saya. Entah apalah namanya ini, saya menyebutnya sebagai ‘takdir yang usil’. Dua tahun lalu, anda lulus di daerah A dengan jurusan yang ia sukai, lalu saya di daerah B dengan jurusan yang saya gemari pula. Lalu, ternyata saya dan anda juga lulus di daerah C, dengan jurusan yang sama-sama tak kami sukai, meskipun demikian tetap saja saya dan dia bertahan didaerah itu.  

Satu tahun berlalu, sekarang tak hanya di daerah C, tapi dalam satu lembaga pendidikan yang sama. Saya tidak tahu harus menyebut ini sebagai sebuah keberuntungan atau petaka, entah ini pertanda baik atau buruk, saya tidak mengerti, seperti biasa, dan saya benar-benar benci diri saya yang selalu tak mengerti banyak hal mengenai diri saya sendiri. Kebanyakan orang mungkin berceloteh bahwa dengan berada dalam satu payung yang sama, intensitas dimana saya menemukan anda ataupun sebaliknya akan bertambah, dari langka menjadi sering. Padahal justru sebaliknya, entah apalah maksudnya ini, takdir memboyong tapak langkah anda dan saya dalam interval yang kian dekat, namun berbanding terbalik dengan simpangan pertemuan antara anda dan saya.

Bahkan di kampus yang sesempit itu, ditempat yang biasa saya lewati bolak-balik, begitu langka rasanya menemukan sosok anda. Dalam semester ini saja misalnya, hanya satu kali saya menemukan Anda, dan itupun bukan di kampus itu. Sekalipun bertemu, hanya dari jauh, atau hanya menemukan motor kesayangan anda. Memang benar, tak peduli berapa jauh jarak yang membentang, jika memang tak bertakdir bertemu ya memang tak akan saling bersua. Bukankah sudah cukup jelas, ketika anda disana dan saya disini, bahkan tak sebanyak hitungan jari sebuah pertemuan tercipta, tak ada bedanya dengan ketika anda dan saya sama-sama disini. 

Dan, dalam setiap pertemuan langka itu, terhitung sejak 2 tahun lalu, 4 Juli 2011, entah mengapa, rasanya begitu tidak nyaman, ada takut, gundah, gusar, cemas, gugup, tapi berbunga-bunga, rasanya senyum-senyum bahagia terbentuk sendiri di wajah jelek saya, semuanya berbaur menjadi satu. Sekali lagi, saya tak mengerti, mengapa perasaan semacam itu selalu menghantui saya setiap menemukan Anda. Saya masih ingat dengan jelas, pertama kali saya menemukan Anda di kampus kecil itu, Senin sore, dan saya juga mendengar sapaan anda. Tapi, memang saya yang bodoh, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan, apa yang harus saya lakukan untuk merespon hal itu. Lalu, hari rabu, jarak yang begitu dekat di sudut tempat jajan gorengan itu, jelas-jelas saling menemukan. 

Anda mengatakan bahwa saya sombong, bukan. Saya bukannya bermaksud sombong, saya hanya tidak mengerti, saya cukup bingung, jika saya menyapa anda terlebih dahulu, apakah anda masih mengenali saya, apakah anda tidak akan memposisikan saya sebagai semilir angin lalu yang hanya akan berhembus dalam pengabaian Anda. Ini bukannya tak beralasan, saya tak cukup pintar membaca suasana hati dan isi pikiran Anda, seperti langit; terkadang anda tampak begitu cerah, namun dilain waktu tiba-tiba menjadi mendung. Saya benar-benar tak mengerti Anda, saya hanya bisa menerka, jika benar syukurlah, jika salah saya harus bersiap dengan amukan emosi Anda, dan saat itu Anda tampak begitu menyeramkan. 

Mungkin saya memang pengecut, saya terlalu takut menerima kemungkinan terburuk. Saya lebih memilih berada diposisi dimana tidak masalah jika Anda tak menemukan saya, selama saya masih bisa melihat bagaimana keadaan anda, walaupun artinya saya mungkin akan melewatkan kesempatan melihat langit cerah, atau terhindar dari mendung yang membawa hujan. Walau hasilnya hanya bernilai 0, karena saya terlalu takut memperoleh nilai minus, dan tak berani menabung 1 2 3 dst. Seperti hanya diam di tempat, maju tak berani, mundurpun takut. Saya diam bukannya tak mau menyapa terlebih dahulu, bukannya sombong, bukannya sok, tapi ketakutan saya lebih besar dari apa yang saya akumulasikan saat bertemu Anda, seolah menelan suara saya, mengacaukan logika saya, membekukan gerak saya. Saya ingin menyapa Anda walau hanya seulas senyum,  tapi saya tak cukup berani untuk itu, saya menunggu anda, tapi percuma, Anda malah berlalu. Pertengahan tahun ini, saya baru menyadari, mengapa saya begitu ketakutan, mungkin karena status saya adalah sebagai ‘terdakwa yang bersalah’. Ini mungkin terdengar berlebihan, tapi saya benar-benar minta maaf telah tak sengaja memiliki perasaan lebih pada Anda. Semakin hari, rasa takut saya semakin bertambah, seiring dengan semakin dalamnya rasa yang mengakar dalam hati saya atas nama Anda. Sungguh, saya juga merasa tak nyaman dengan ini.

Apakah ini obsesi? Saya tak memahami seluk beluk berkaitan dengan kasus ini, saya tak memiliki pengalaman dalam hal ini, tetapi sebatas pengetahuan saya, obsesi tumbuh sebab perasaan ingin memiliki bagaimanapun caranya, tak peduli siapapun. Ah, tapi terlepas dari Anda percaya atau tidak, saya tidak pernah mempermasalahkan Anda akan berkencan atau berpacaran dengan siapa atau berapa lama, saya bahkan telah berniat lekas melupakan anda sejak awal menyadari bahwa saya mulai menyukai anda lebih dari sekedar teman, berharap Anda dengan seseorang yang anda pilih berbahagia dan bertahan lama. Saya hanya ingin anda berada dalam keadaan yang baik-baik saja, entah itu bersama siapa atau dimana. Bagi saya, menemukan anda, tanpa anda menemukan saya balik, walau hanya sekilas, dan menemukan anda baik-baik saja, itu sudah cukup. Saya tidak terpikir untuk memiliki anda atau anda yang datang pada saya, saya mengerti bahwa saya bukan tipe anda, begitu juga sebaliknya, anda juga bukan tipe saya, tapi entah mengapa saya bisa suka pada anda. Mengapa? Maaf, saya masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan anda yang ini.

Apakah ini perasaan suka yang hanya bertahan sesaat seperti yang anda katakan dua tahun lalu? Ini sudah lebih dua tahun, dan menurut saya dua tahun itu bukan waktu yang singkat. Saling tak bertemu, komunikasi yang semakin buruk, tapi rasa itu masih mengendap semakin pekat, saya benar-benar tak habis pikir. Anda selalu mengejek saya dengan sebutan anak kecil, tapi apakah mungkin seorang bocah SD akan merawat perasaan yang merepotkan seperti ini? Sejujurnya saya tak tahu mengapa anda terus memanggil saya dengan sebutan itu, apa karena badan kurus saya yang memang mungil, sejujurnya itu cukup membuat saya menghela napas yang lumayan sesak, bahwa saya dalam perspektif anda, hanyalah seorang anak kecil. Saya sering bertanya-tanya pada diri sendiri, apa saya tampak seperti bocah SD yang merengek meminta mainan pada abangnya, dengan ulah bodohnya, tapi yang harus anda perhatikan, perasaan saya bukan mainan, segala hal bodoh yang saya lakukan karena saya juga tak mengerti, ini yang pertama. Terkadang, saya juga ingin menjadi seperti anak kecil, yang mungkin akan menangis seharian jika rengekannya tak digubris, tapi esok harinya ia dapat tertawa lepas kembali seolah air matanya yang kemarin benar-benar telah kering, seakan lukanya lekas mengering, tanpa meninggalkan bekas. 

Seandainya, saya benar-benar anak kecil yang seperti itu. Ah, tapi itu hanyalah sebuah pengandaian, dan faktanya saya adalah mahasiswi tahun tiga yang baru mencicipi bagaimana rasanya sebuah ‘FIRST DATE’ (walaupun anda menyebutnya dengan versi lain; menguji seberapa besar nyali saya di dunia nyata) di usia 20 tahun. Tapi itu tidaklah terlampau menggelikan, setidaknya salah satu mimpi kecil saya menjadi nyata, di toko buku, tempat favorit saya menghabiskan waktu luang, mencairkan gusar galau khawatir dengan memaksa otak saya membaca buku agar rasa yang membuat tak nyaman itu lekas beranjak, di tempat itu bersama cinta pertama, tak hanya sekedar imajinasi belaka. Ditambah pula dengan alunan ‘Tangga – Cinta Tak Mungkin Berhenti’ pada Selasa sore kala itu, lantai dua, benar-benar membekas. Terdengar menggelikan memang, tapi begitulah adanya.

Anda pernah berujar bahwa anda takut, ketahuilah, saya berkali lipat lebih takut daripada anda. Saya memang bukan pembicara yang baik, saya selalu kehilangan kata saat berhadapan langsung dengan anda, saya hanya akan berulah bodoh di depan anda, seperti yang telah anda buktikan 23 April lalu, ketika saya (akhirnya) mengiyakan ajakan anda. Saya memang hanya berani dalam tulisan, saya bukan orang yang cukup berani ditemukan oleh anda, saya lebih memilih menemukan anda diam-diam. Ah, sepertinya saya terlalu banyak bicara, sudahlah, saya minta maaf untuk semua yang membuat anda risih, baik itu SMS, mention di twitter, dan apapun itu. Serta terimakasih untuk apapun yang pernah membuat saya tersenyum walau hanya sebuah pesan singkat anda, walau isinya hanya kosong, dimana anda tahu persis makna sebuah SMS kosong bagi anda dan saya.

Saya tidak tahu kapan momen saling menemukan itu terjadi lagi, mungkin 3 bulan akan datang, 6 bulan, tahun depan, atau kapanpun itu, tapi yang pasti, saya harap semoga anda dan mereka yang berharga bagi anda senantiasa dalam kondisi yang baik-baik saja. Ah, jika Anda memang sebegitu takutnya pada saya, maka saya akan bersembunyi agar Anda tidak menemukan saya lagi. Semoga ini benar-benar akan terealisasi nyata. Maaf dan terimakasih. 












0 komentar:

Visitors

Thanks for visiting!

free counters

Followers

World Visiting

July 19, 2013

:: Bukan hanya Anda, Saya pun takut.


Hari ini, saya membaca salah satu postingan teman saya di blog pribadinya, sepertinya dia belum lama putus dari pacarnya yang kesekian. Saya memang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan seorang kekasih yang tulus disayangi. Saya tidak pernah mencicipi bagaimana rasanya menjalin hubungan dengan seseorang dalam ikatan ‘pacaran’. Tak sedikit yang tak percaya ketika saya menjawab tanya mereka bahwa saya benar-benar belum pernah pacaran selama 20 tahun saya bernapas. Lalu, mereka melontarkan pertanyaan lanjutan, kenapa? Ah, entahlah, sejujurnya saya juga tak terlalu terpikirkan akan hal itu, entah karena belum siap atau apa, saya juga tak tahu, yang jelas, saya cukup menikmati kesendirian saya. Mungkin karena saya sudah terbiasa sendiri, sejak kecil, sehingga itu bukanlah sebuah masalah besar yang akan menyeret saya jatuh. Kemudian, pertanyaan kembali diajukan, apa ada seseorang yang saya sukai? Dan saya menjawab, ada. Ada seseorang yang mengisi relung hati saya, dan tanpa saya sadari, sudah lebih dua tahun berlalu sejak saya menyadari bahwa hati saya sudah dihuni oleh rasa padanya, seseorang yang tak sengaja saya sukai, dan terlambat saya menyadari.

        Ah, entahlah, hingga kini saya masih tak mengerti, mengapa saya masih terjebak dirasa yang sama, pada orang yang sama. Mengapa dan apa yang membuat saya tak bisa berpindah ke hunian yang lain, yang menawarkan kenyamanan, dengan lebih sedikit intensitas air mata, rasa sesak, serta berlimpah bahagia dan lega, saya tak perlu lagi olahraga mata setiap kali melintasi titik-titik yang berpeluang besar akan hadirnya. Entahlah, saya  masih tak mengerti, dan waktu terus berputar tanpa henti, dan saya masih berdiri, disini. Orang-orang bilang, segera lupakan, jangan pedulikan, tapi sekeras dan sesering apapun saya mencoba, pada akhirnya, saya kembali ke titik awal, seolah perjalanan mengenyahkannya adalah sebuah langkah-langkah kecil dengan rute melingkar, sehingga pantaslah saya selalu kembali ke titik asal dimana tapak saya bermula melangkah, dimana saya masih sangat menyukainya. Cukup sering saya berkata akan pergi, akan berhenti, tapi lagi dan lagi saya berulah kembali. Dan ini membuat saya menjadi begitu tak nyaman, untuk diri saya sendiri, untuk dia, serta mereka yang berada disekitar saya serta dia. Jika saya memiliki sembilan buah ‘Dragon Ball’ yang dapat mewujudkan satu permintaan, saya bersedia menukarnya dengan sebuah pinta agar dapat memutar waktu, dimana saya seharusnya menjawab sebaliknya atas pertanyaannya kala itu, mempertanyakan sukakah saya padanya. Seandainya saya sedikit lebih pintar, saya akan berkata ‘Tidak mungkin, bagaimana mungkin aku bisa menyukai pria sepertimu. Kau selalu membuatku kesal, keras kepala, tidak mau mengalah setiap adu bacot denganku, kasar, cuek, moody, emosian, serta sesekali mengecewakanku, dan tak jarang menitikkan air mataku, kau itu benar-benar bukan tipeku. Aku tidak suka padamu, tidak akan.‘  


Sekitar hampir setengah tahun setelah itu, penghujung 2011, saya baru menyadari bahwa tak seharusnya saya harus berujar sejujur itu, bukan, itu lebih tepat dikatakan sebagai ucapan bodoh, karena membiarkannya mengetahui hal yang seharusnya cukup saya simpan saja sendiri, bukankah saya sudah terbiasa sendiri, mengapa saya harus menjadi lemah saat itu. Seperti sebuah telur, satu sudut telah retak, lalu sedikit demi sedikit retakan itu kian meluas, sama seperti sekarang, semakin banyak yang terungkap, semakin rumit, dan semua itu akibat kebodohan saya. Pft.

Waktu terus bergulir, jauh dan jauh, beberapa hal terjadi, dia menjalin hubungan baru kemudian berakhir, dan ternyata apa yang saya rasakan masih belum bertepi walau komunikasi semakin sepi. Awalnya, saya pikir saya sudah sembuh, tetapi ternyata penyakit itu hanya tertidur, pertengahan tahun 2012, penyakit yang saya derita sejak setahun lalu kambuh kembali, semakin menjadi. Saya takut akan membuat anda ketakutan dengan rasa takut saya pada anda, dan itu benar, semakin jelas terlihat hari demi hari, hingga kini.

Setahun kemudian, ketika saya hendak menuju tempat yang anda ingin tinggalkan, dan sebaliknya anda justru ingin mengisi tempat yang ingin saya lepaskan, akan tetapi akhirnya saya terkurung di tempat ini, dan mirisnya saya menemukan kemungkinan anda di sela-sela keberuntungan saya. Entah apalah namanya ini, saya menyebutnya sebagai ‘takdir yang usil’. Dua tahun lalu, anda lulus di daerah A dengan jurusan yang ia sukai, lalu saya di daerah B dengan jurusan yang saya gemari pula. Lalu, ternyata saya dan anda juga lulus di daerah C, dengan jurusan yang sama-sama tak kami sukai, meskipun demikian tetap saja saya dan dia bertahan didaerah itu.  

Satu tahun berlalu, sekarang tak hanya di daerah C, tapi dalam satu lembaga pendidikan yang sama. Saya tidak tahu harus menyebut ini sebagai sebuah keberuntungan atau petaka, entah ini pertanda baik atau buruk, saya tidak mengerti, seperti biasa, dan saya benar-benar benci diri saya yang selalu tak mengerti banyak hal mengenai diri saya sendiri. Kebanyakan orang mungkin berceloteh bahwa dengan berada dalam satu payung yang sama, intensitas dimana saya menemukan anda ataupun sebaliknya akan bertambah, dari langka menjadi sering. Padahal justru sebaliknya, entah apalah maksudnya ini, takdir memboyong tapak langkah anda dan saya dalam interval yang kian dekat, namun berbanding terbalik dengan simpangan pertemuan antara anda dan saya.

Bahkan di kampus yang sesempit itu, ditempat yang biasa saya lewati bolak-balik, begitu langka rasanya menemukan sosok anda. Dalam semester ini saja misalnya, hanya satu kali saya menemukan Anda, dan itupun bukan di kampus itu. Sekalipun bertemu, hanya dari jauh, atau hanya menemukan motor kesayangan anda. Memang benar, tak peduli berapa jauh jarak yang membentang, jika memang tak bertakdir bertemu ya memang tak akan saling bersua. Bukankah sudah cukup jelas, ketika anda disana dan saya disini, bahkan tak sebanyak hitungan jari sebuah pertemuan tercipta, tak ada bedanya dengan ketika anda dan saya sama-sama disini. 

Dan, dalam setiap pertemuan langka itu, terhitung sejak 2 tahun lalu, 4 Juli 2011, entah mengapa, rasanya begitu tidak nyaman, ada takut, gundah, gusar, cemas, gugup, tapi berbunga-bunga, rasanya senyum-senyum bahagia terbentuk sendiri di wajah jelek saya, semuanya berbaur menjadi satu. Sekali lagi, saya tak mengerti, mengapa perasaan semacam itu selalu menghantui saya setiap menemukan Anda. Saya masih ingat dengan jelas, pertama kali saya menemukan Anda di kampus kecil itu, Senin sore, dan saya juga mendengar sapaan anda. Tapi, memang saya yang bodoh, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan, apa yang harus saya lakukan untuk merespon hal itu. Lalu, hari rabu, jarak yang begitu dekat di sudut tempat jajan gorengan itu, jelas-jelas saling menemukan. 

Anda mengatakan bahwa saya sombong, bukan. Saya bukannya bermaksud sombong, saya hanya tidak mengerti, saya cukup bingung, jika saya menyapa anda terlebih dahulu, apakah anda masih mengenali saya, apakah anda tidak akan memposisikan saya sebagai semilir angin lalu yang hanya akan berhembus dalam pengabaian Anda. Ini bukannya tak beralasan, saya tak cukup pintar membaca suasana hati dan isi pikiran Anda, seperti langit; terkadang anda tampak begitu cerah, namun dilain waktu tiba-tiba menjadi mendung. Saya benar-benar tak mengerti Anda, saya hanya bisa menerka, jika benar syukurlah, jika salah saya harus bersiap dengan amukan emosi Anda, dan saat itu Anda tampak begitu menyeramkan. 

Mungkin saya memang pengecut, saya terlalu takut menerima kemungkinan terburuk. Saya lebih memilih berada diposisi dimana tidak masalah jika Anda tak menemukan saya, selama saya masih bisa melihat bagaimana keadaan anda, walaupun artinya saya mungkin akan melewatkan kesempatan melihat langit cerah, atau terhindar dari mendung yang membawa hujan. Walau hasilnya hanya bernilai 0, karena saya terlalu takut memperoleh nilai minus, dan tak berani menabung 1 2 3 dst. Seperti hanya diam di tempat, maju tak berani, mundurpun takut. Saya diam bukannya tak mau menyapa terlebih dahulu, bukannya sombong, bukannya sok, tapi ketakutan saya lebih besar dari apa yang saya akumulasikan saat bertemu Anda, seolah menelan suara saya, mengacaukan logika saya, membekukan gerak saya. Saya ingin menyapa Anda walau hanya seulas senyum,  tapi saya tak cukup berani untuk itu, saya menunggu anda, tapi percuma, Anda malah berlalu. Pertengahan tahun ini, saya baru menyadari, mengapa saya begitu ketakutan, mungkin karena status saya adalah sebagai ‘terdakwa yang bersalah’. Ini mungkin terdengar berlebihan, tapi saya benar-benar minta maaf telah tak sengaja memiliki perasaan lebih pada Anda. Semakin hari, rasa takut saya semakin bertambah, seiring dengan semakin dalamnya rasa yang mengakar dalam hati saya atas nama Anda. Sungguh, saya juga merasa tak nyaman dengan ini.

Apakah ini obsesi? Saya tak memahami seluk beluk berkaitan dengan kasus ini, saya tak memiliki pengalaman dalam hal ini, tetapi sebatas pengetahuan saya, obsesi tumbuh sebab perasaan ingin memiliki bagaimanapun caranya, tak peduli siapapun. Ah, tapi terlepas dari Anda percaya atau tidak, saya tidak pernah mempermasalahkan Anda akan berkencan atau berpacaran dengan siapa atau berapa lama, saya bahkan telah berniat lekas melupakan anda sejak awal menyadari bahwa saya mulai menyukai anda lebih dari sekedar teman, berharap Anda dengan seseorang yang anda pilih berbahagia dan bertahan lama. Saya hanya ingin anda berada dalam keadaan yang baik-baik saja, entah itu bersama siapa atau dimana. Bagi saya, menemukan anda, tanpa anda menemukan saya balik, walau hanya sekilas, dan menemukan anda baik-baik saja, itu sudah cukup. Saya tidak terpikir untuk memiliki anda atau anda yang datang pada saya, saya mengerti bahwa saya bukan tipe anda, begitu juga sebaliknya, anda juga bukan tipe saya, tapi entah mengapa saya bisa suka pada anda. Mengapa? Maaf, saya masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan anda yang ini.

Apakah ini perasaan suka yang hanya bertahan sesaat seperti yang anda katakan dua tahun lalu? Ini sudah lebih dua tahun, dan menurut saya dua tahun itu bukan waktu yang singkat. Saling tak bertemu, komunikasi yang semakin buruk, tapi rasa itu masih mengendap semakin pekat, saya benar-benar tak habis pikir. Anda selalu mengejek saya dengan sebutan anak kecil, tapi apakah mungkin seorang bocah SD akan merawat perasaan yang merepotkan seperti ini? Sejujurnya saya tak tahu mengapa anda terus memanggil saya dengan sebutan itu, apa karena badan kurus saya yang memang mungil, sejujurnya itu cukup membuat saya menghela napas yang lumayan sesak, bahwa saya dalam perspektif anda, hanyalah seorang anak kecil. Saya sering bertanya-tanya pada diri sendiri, apa saya tampak seperti bocah SD yang merengek meminta mainan pada abangnya, dengan ulah bodohnya, tapi yang harus anda perhatikan, perasaan saya bukan mainan, segala hal bodoh yang saya lakukan karena saya juga tak mengerti, ini yang pertama. Terkadang, saya juga ingin menjadi seperti anak kecil, yang mungkin akan menangis seharian jika rengekannya tak digubris, tapi esok harinya ia dapat tertawa lepas kembali seolah air matanya yang kemarin benar-benar telah kering, seakan lukanya lekas mengering, tanpa meninggalkan bekas. 

Seandainya, saya benar-benar anak kecil yang seperti itu. Ah, tapi itu hanyalah sebuah pengandaian, dan faktanya saya adalah mahasiswi tahun tiga yang baru mencicipi bagaimana rasanya sebuah ‘FIRST DATE’ (walaupun anda menyebutnya dengan versi lain; menguji seberapa besar nyali saya di dunia nyata) di usia 20 tahun. Tapi itu tidaklah terlampau menggelikan, setidaknya salah satu mimpi kecil saya menjadi nyata, di toko buku, tempat favorit saya menghabiskan waktu luang, mencairkan gusar galau khawatir dengan memaksa otak saya membaca buku agar rasa yang membuat tak nyaman itu lekas beranjak, di tempat itu bersama cinta pertama, tak hanya sekedar imajinasi belaka. Ditambah pula dengan alunan ‘Tangga – Cinta Tak Mungkin Berhenti’ pada Selasa sore kala itu, lantai dua, benar-benar membekas. Terdengar menggelikan memang, tapi begitulah adanya.

Anda pernah berujar bahwa anda takut, ketahuilah, saya berkali lipat lebih takut daripada anda. Saya memang bukan pembicara yang baik, saya selalu kehilangan kata saat berhadapan langsung dengan anda, saya hanya akan berulah bodoh di depan anda, seperti yang telah anda buktikan 23 April lalu, ketika saya (akhirnya) mengiyakan ajakan anda. Saya memang hanya berani dalam tulisan, saya bukan orang yang cukup berani ditemukan oleh anda, saya lebih memilih menemukan anda diam-diam. Ah, sepertinya saya terlalu banyak bicara, sudahlah, saya minta maaf untuk semua yang membuat anda risih, baik itu SMS, mention di twitter, dan apapun itu. Serta terimakasih untuk apapun yang pernah membuat saya tersenyum walau hanya sebuah pesan singkat anda, walau isinya hanya kosong, dimana anda tahu persis makna sebuah SMS kosong bagi anda dan saya.

Saya tidak tahu kapan momen saling menemukan itu terjadi lagi, mungkin 3 bulan akan datang, 6 bulan, tahun depan, atau kapanpun itu, tapi yang pasti, saya harap semoga anda dan mereka yang berharga bagi anda senantiasa dalam kondisi yang baik-baik saja. Ah, jika Anda memang sebegitu takutnya pada saya, maka saya akan bersembunyi agar Anda tidak menemukan saya lagi. Semoga ini benar-benar akan terealisasi nyata. Maaf dan terimakasih. 












No comments: