January 07, 2013

:: “ Anda adalah cahaya dari bayangan saya. “



Rabu, 19 Desember 2012. Hari ke-534.

Pagi menjelang siang, di pendopo. Ketika saya menemukan ekpresi itu kembali terlukis di paras Anda, walau dari jarak pandang yang tidak lebih dekat dari dulu, Anda yang sedang menggambar dengan fokus untuk tugas akhir semester. Dan ternyata, debar-debar jantung saya persis seperti 2 tahun lalu, hati terasa hangat dan damai untuk tetap terjerat pada ekspresi serius itu, bahkan rasanya bibir ingin terus tersenyum dengan ringan. Ah, entahlah, ini tampak begitu berlebihan ketika saya ceritakan ulang, seperti biasa. Intinya, saya sungguh senang sekali berkesempatan menangkap ekspresi itu, kembali, dan saya ingin sekali lagi, lagi, dan lagi.

Ekspresi itu, setelah sekian lama, periode 2010-2011, dalam balutan seragam putih abu-abu. Ekspresi paling keren yang pernah saya temukan pada sosok Anda. Anda yang berjuang membuka gerbang dunia seni Anda, menerjang berbagai rintangan, hingga akhirnya mampu berpijak dengan mantap dimana Anda dapat menjadi diri Anda sendiri. Sejujurnya, saya sangat khawatir pada awal-awal perjuangan ekstrem Anda, 2012, saya bahkan masih ingat dengan begitu jelas, Anda yang marah besar pada saya. Itu wajar, saya menyadari bahwa saya tak seharusnya begitu menggusarkan bagaimana Anda akan berdiri di masa depan kelak. Saya hanya seseorang yang tak sengaja dipertemukan takdir dalam kepingan masa lalu Anda. Singkatnya, Anda tak lagi menemukan eksistensi saya yang dulu masih samar-samar, lalu sekarang kian redup, hingga sepenuhnya padam suatu saat nanti. Pada akhirnya, akan kembali seperti sedia kala, dimana Anda dan saya adalah dua orang yang sama sekali tidak saling mengenal.


Saya teringat momen ketika putih abu-abu dulu, insiden sebuah pin Zoom In ITB, dimana Anda berkoar-koar tentang dunia seni yang begitu ingin Anda raih. Waktu itu, menjelang jam pulang sekolah, guru tak datang. Sungguh, saya hanya iseng, saya tak pernah menyangka Anda akan menjadi sepanik itu. Sepulang sekolah, saya menanti Anda keluar kelas cukup lama, untuk mengembalikan pin itu. Tapi, Anda tak kunjung keluar, saya kira Anda sudah pulang. Betapa kagetnya saya, ketika mengintip di balik tirai jendela, Anda yang masih sibuk mencari pin seharga sekian ribu itu. Saya mengamati sosok Anda dari pintu biru kelas kita, hanya Anda yang tersisa dalam kelas di lantai dua itu, saya sedang berpikir dan merasa-rasakan, apakah yang telah saya lakukan ini adalah sesuatu yang begitu jahat. Maaf.

Anda yang duduk di bangku nomor tiga barisan nomor dua dari pintu, bahkan tak sekalipun bertanya tentang keberadaan pin Anda pada saya, padahal saya sedari tadi duduk tak jauh dari Anda, di barisan kiri Anda, bangku nomor empat dekat dinding yang sejajar dengan pintu. Mengapa hanya saya yang tak Anda beri kesempatan untuk di-interogasi diantara mereka yang berada disekitar Anda. Ah, mungkin, karena saya memang hanyalah bayangan yang selalu terabaikan oleh cahaya Anda. Lagipula, ada sebuah ‘cahaya terang’ yang menerangi hari-hari Anda di kelas kita. Baiklah, saya mengerti, it’s okay.

Ah, saya jadi benostalgia. Mungkin Anda tak mengingat hal ini lagi, tapi bagi saya, ini adalah salah satu faktor yang membuat saya menjadi begitu percaya pada pilihan Anda, hingga detik ini. Seperti cambuk yang menyadarkan saya, membuka mata saya, dan membisikkan pada hati saya, bahwa ini bukan hanya sekedar kata-kata belaka yang sedikit demi sedikit akan luruh dimakan waktu. Benda bulat kecil ini mewakili jiwa Anda, menyimpan mimpi Anda, dan akan mengokohkan pondasi dunia Anda. Anda dan ekspresi Anda, Anda dan mimpi dalam genggamanan Anda, Anda dan keyakinan diri Anda untuk membangun dunia Anda. Sepenuhnya, saya, percaya, pada Anda.

Saya masih dan akan selalu percaya pada Anda. Dimana mimpi-mimpi kecil Anda mulai terangkai menjadi harapan nyata yang semakin besar, dimana perjuangan Anda akan membuahkan hasil yang memuaskan. Saya percaya akan bersinar dengan sangat terang suatu saat kelak, dan semoga sinar itu tak akan redup apalagi padam hingga akhir. Amin.

Tetaplah bersinar dengan terang, agar saya bisa selalu menemukan arah untuk menyusuri tapak demi tapak perjalanan Anda, dimanapun itu, kapanpun itu, atau bahkan bersama siapapun itu. Seperti bayangan yang selalu berkesempatan muncul saat ada cahaya, seperti itulah saya kepada Anda. Jangan pernah padam, karena bayangan juga tak akan sanggup untuk menampakkan diri. Seperti bayangan yang secara alami ditakdirkan menyertai cahaya. Saya tidak ingin kehilangan cahaya saya, saya ingin selalu menemukan Anda. Walau dari jauh, walau Anda justru mengejar sumber cahaya lain yang lebih terang dan berbagi sinar bersamanya, menjadi begitu terang bersama. Walau saya hanya akan menjadi bayang-bayang yang mengikuti Anda, walau tanpa Anda sadari bahwa saya selalu ada membayangi cahaya Anda. Tetaplah menjadi terang.

Bahkan jika suatu ketika, cahaya Anda meredup dan padam, bayangan sejatinya tak akan pernah hilang, bayangan hanya tersembunyi dibalik kegelapan. Bayangan akan tetap ada, bersama Anda, cahayanya. Jangan takut, Anda tidak akan pernah sendiri. Ada bayangan yang setia menemani dan menanti cahaya untuk kembali segera bersinar terang. Ada do’a yang mengiringi setiap langkah tegar Anda.

Anda adalah cahaya bagi dunia saya, dan saya dengan bodohnya tak keberatan menjadi bayangan untuk dunia Anda yang akan bersinar dengan begitu terang suatu saat nanti. Mungkin, kelak, Anda dan saya akan sengaja digiring sang takdir untuk saling menemukan dalam dunia yang sama, entah bagaimana, dimana, atau kapan. Dunia saya, entah akan tumbuh menjadi dunia yang seperti apa, tapi saya akan berusaha membuatnya bersinar cukup terang agar suatu ketika Anda dapat menemukan dunia itu, setidaknya Anda sempat melihat atau mendengarnya sekali. Saya tidak tahu seberapa tidak pantasnya dunia saya untuk sekedar Anda singgahi, tapi saya ingin sekali mencoba berkelana dalam dunia Anda. Tentu, tetap, saya akan berperan sebagai bayang-bayang untuk cahaya terang Anda. Sekali lagi, saya ingatkan: Anda, jangan pernah lupa untuk terus bersinar terang agar saya tak akan kehilangan jejak melacak keberadaan Anda.

Ini memang terdengar sangat berlebihan ketika saya ucapkan dalam barisan kata. Maaf. Seandainya, saya fasih secara lisan maupun tulisan. Tapi setidaknya saya sedikit lebih lega, saya memang bukan pembicara yang baik, saya selalu kehilangan kata-kata ketika menemukan Anda. Saya hanya akan membuang waktu berharga Anda, lalu Anda pergi, tanpa ada sepatah kata berarti yang sempat saya sampaikan pada Anda. Bahkan, seiring berlalunya waktu, sekarang  saya bahkan tak memiliki sedikit saja keberanian untuk ditemukan oleh Anda, rasanya saya ingin bersembunyi, biar hanya saya saja yang menemukan Anda, diam-diam, dan membangun kekuatan sedikit demi sedikit. Cukup dengan menemukan Anda dalam keadaan yang baik-baik saja, itu sudah membuat saya begitu senang. Ah, betapa pengecutnya saya.

Ini memang teramat berlebihan, itu benar. Inilah saya, kepada Anda, dengan segala ‘keberlebihan’ yang melekat pada diri saya. Saya hanya saya, saya tidak mampu dan tidak mau menjadi dia yang Anda puja. Saya hanya saya, apa yang saya pikirkan, apa yang saya rasakan, kepada Anda. Ya, itu saja.

Dimana ada cahaya, disitu ada bayangan.

Anda adalah cahaya dari bayangan saya.


0 komentar:

Visitors

Thanks for visiting!

free counters

Followers

World Visiting

January 07, 2013

:: “ Anda adalah cahaya dari bayangan saya. “



Rabu, 19 Desember 2012. Hari ke-534.

Pagi menjelang siang, di pendopo. Ketika saya menemukan ekpresi itu kembali terlukis di paras Anda, walau dari jarak pandang yang tidak lebih dekat dari dulu, Anda yang sedang menggambar dengan fokus untuk tugas akhir semester. Dan ternyata, debar-debar jantung saya persis seperti 2 tahun lalu, hati terasa hangat dan damai untuk tetap terjerat pada ekspresi serius itu, bahkan rasanya bibir ingin terus tersenyum dengan ringan. Ah, entahlah, ini tampak begitu berlebihan ketika saya ceritakan ulang, seperti biasa. Intinya, saya sungguh senang sekali berkesempatan menangkap ekspresi itu, kembali, dan saya ingin sekali lagi, lagi, dan lagi.

Ekspresi itu, setelah sekian lama, periode 2010-2011, dalam balutan seragam putih abu-abu. Ekspresi paling keren yang pernah saya temukan pada sosok Anda. Anda yang berjuang membuka gerbang dunia seni Anda, menerjang berbagai rintangan, hingga akhirnya mampu berpijak dengan mantap dimana Anda dapat menjadi diri Anda sendiri. Sejujurnya, saya sangat khawatir pada awal-awal perjuangan ekstrem Anda, 2012, saya bahkan masih ingat dengan begitu jelas, Anda yang marah besar pada saya. Itu wajar, saya menyadari bahwa saya tak seharusnya begitu menggusarkan bagaimana Anda akan berdiri di masa depan kelak. Saya hanya seseorang yang tak sengaja dipertemukan takdir dalam kepingan masa lalu Anda. Singkatnya, Anda tak lagi menemukan eksistensi saya yang dulu masih samar-samar, lalu sekarang kian redup, hingga sepenuhnya padam suatu saat nanti. Pada akhirnya, akan kembali seperti sedia kala, dimana Anda dan saya adalah dua orang yang sama sekali tidak saling mengenal.


Saya teringat momen ketika putih abu-abu dulu, insiden sebuah pin Zoom In ITB, dimana Anda berkoar-koar tentang dunia seni yang begitu ingin Anda raih. Waktu itu, menjelang jam pulang sekolah, guru tak datang. Sungguh, saya hanya iseng, saya tak pernah menyangka Anda akan menjadi sepanik itu. Sepulang sekolah, saya menanti Anda keluar kelas cukup lama, untuk mengembalikan pin itu. Tapi, Anda tak kunjung keluar, saya kira Anda sudah pulang. Betapa kagetnya saya, ketika mengintip di balik tirai jendela, Anda yang masih sibuk mencari pin seharga sekian ribu itu. Saya mengamati sosok Anda dari pintu biru kelas kita, hanya Anda yang tersisa dalam kelas di lantai dua itu, saya sedang berpikir dan merasa-rasakan, apakah yang telah saya lakukan ini adalah sesuatu yang begitu jahat. Maaf.

Anda yang duduk di bangku nomor tiga barisan nomor dua dari pintu, bahkan tak sekalipun bertanya tentang keberadaan pin Anda pada saya, padahal saya sedari tadi duduk tak jauh dari Anda, di barisan kiri Anda, bangku nomor empat dekat dinding yang sejajar dengan pintu. Mengapa hanya saya yang tak Anda beri kesempatan untuk di-interogasi diantara mereka yang berada disekitar Anda. Ah, mungkin, karena saya memang hanyalah bayangan yang selalu terabaikan oleh cahaya Anda. Lagipula, ada sebuah ‘cahaya terang’ yang menerangi hari-hari Anda di kelas kita. Baiklah, saya mengerti, it’s okay.

Ah, saya jadi benostalgia. Mungkin Anda tak mengingat hal ini lagi, tapi bagi saya, ini adalah salah satu faktor yang membuat saya menjadi begitu percaya pada pilihan Anda, hingga detik ini. Seperti cambuk yang menyadarkan saya, membuka mata saya, dan membisikkan pada hati saya, bahwa ini bukan hanya sekedar kata-kata belaka yang sedikit demi sedikit akan luruh dimakan waktu. Benda bulat kecil ini mewakili jiwa Anda, menyimpan mimpi Anda, dan akan mengokohkan pondasi dunia Anda. Anda dan ekspresi Anda, Anda dan mimpi dalam genggamanan Anda, Anda dan keyakinan diri Anda untuk membangun dunia Anda. Sepenuhnya, saya, percaya, pada Anda.

Saya masih dan akan selalu percaya pada Anda. Dimana mimpi-mimpi kecil Anda mulai terangkai menjadi harapan nyata yang semakin besar, dimana perjuangan Anda akan membuahkan hasil yang memuaskan. Saya percaya akan bersinar dengan sangat terang suatu saat kelak, dan semoga sinar itu tak akan redup apalagi padam hingga akhir. Amin.

Tetaplah bersinar dengan terang, agar saya bisa selalu menemukan arah untuk menyusuri tapak demi tapak perjalanan Anda, dimanapun itu, kapanpun itu, atau bahkan bersama siapapun itu. Seperti bayangan yang selalu berkesempatan muncul saat ada cahaya, seperti itulah saya kepada Anda. Jangan pernah padam, karena bayangan juga tak akan sanggup untuk menampakkan diri. Seperti bayangan yang secara alami ditakdirkan menyertai cahaya. Saya tidak ingin kehilangan cahaya saya, saya ingin selalu menemukan Anda. Walau dari jauh, walau Anda justru mengejar sumber cahaya lain yang lebih terang dan berbagi sinar bersamanya, menjadi begitu terang bersama. Walau saya hanya akan menjadi bayang-bayang yang mengikuti Anda, walau tanpa Anda sadari bahwa saya selalu ada membayangi cahaya Anda. Tetaplah menjadi terang.

Bahkan jika suatu ketika, cahaya Anda meredup dan padam, bayangan sejatinya tak akan pernah hilang, bayangan hanya tersembunyi dibalik kegelapan. Bayangan akan tetap ada, bersama Anda, cahayanya. Jangan takut, Anda tidak akan pernah sendiri. Ada bayangan yang setia menemani dan menanti cahaya untuk kembali segera bersinar terang. Ada do’a yang mengiringi setiap langkah tegar Anda.

Anda adalah cahaya bagi dunia saya, dan saya dengan bodohnya tak keberatan menjadi bayangan untuk dunia Anda yang akan bersinar dengan begitu terang suatu saat nanti. Mungkin, kelak, Anda dan saya akan sengaja digiring sang takdir untuk saling menemukan dalam dunia yang sama, entah bagaimana, dimana, atau kapan. Dunia saya, entah akan tumbuh menjadi dunia yang seperti apa, tapi saya akan berusaha membuatnya bersinar cukup terang agar suatu ketika Anda dapat menemukan dunia itu, setidaknya Anda sempat melihat atau mendengarnya sekali. Saya tidak tahu seberapa tidak pantasnya dunia saya untuk sekedar Anda singgahi, tapi saya ingin sekali mencoba berkelana dalam dunia Anda. Tentu, tetap, saya akan berperan sebagai bayang-bayang untuk cahaya terang Anda. Sekali lagi, saya ingatkan: Anda, jangan pernah lupa untuk terus bersinar terang agar saya tak akan kehilangan jejak melacak keberadaan Anda.

Ini memang terdengar sangat berlebihan ketika saya ucapkan dalam barisan kata. Maaf. Seandainya, saya fasih secara lisan maupun tulisan. Tapi setidaknya saya sedikit lebih lega, saya memang bukan pembicara yang baik, saya selalu kehilangan kata-kata ketika menemukan Anda. Saya hanya akan membuang waktu berharga Anda, lalu Anda pergi, tanpa ada sepatah kata berarti yang sempat saya sampaikan pada Anda. Bahkan, seiring berlalunya waktu, sekarang  saya bahkan tak memiliki sedikit saja keberanian untuk ditemukan oleh Anda, rasanya saya ingin bersembunyi, biar hanya saya saja yang menemukan Anda, diam-diam, dan membangun kekuatan sedikit demi sedikit. Cukup dengan menemukan Anda dalam keadaan yang baik-baik saja, itu sudah membuat saya begitu senang. Ah, betapa pengecutnya saya.

Ini memang teramat berlebihan, itu benar. Inilah saya, kepada Anda, dengan segala ‘keberlebihan’ yang melekat pada diri saya. Saya hanya saya, saya tidak mampu dan tidak mau menjadi dia yang Anda puja. Saya hanya saya, apa yang saya pikirkan, apa yang saya rasakan, kepada Anda. Ya, itu saja.

Dimana ada cahaya, disitu ada bayangan.

Anda adalah cahaya dari bayangan saya.


No comments: