November 25, 2012

:: “ Kau, enyahlah! Ku mohon. “



Minggu, 25 November 2012. 

Pukul 20:46 WIB. Hari ke-510.

Saat ini, aku sedang mendengarkan sebuah lagu yang disuarakan dengan begitu ‘galau’ oleh Miss A Suzy berjudul “ I Still Love You “ yang merupakan soundtrack dari drama Korea BIG. Miris sekali, justru lagu ini yang menjadi next track dari playlist yang padahal ku atur random. Lalu, lagi dan lagi lagi, kau, sosokmu membayang dalam pikiranku, perasaan itu menyeruak menyesakkan hatiku, untuk kesekian kalinya. Dan, aku benci berada dalam situasi seperti ini lagi.

I - STILL - LOVE - YOU .




Aish, sepertinya judul lagu ini begitu kuat mencengkeram suasana hatiku malam ini. Sendiri, sepi. Ya malam – malam yang biasa ku lalui sejak kanak-kanak. Malam-malam ku yang sangat biasa, tenang. Ah, tidak. Berubah signifikan ketika aku menemukan kamu. Malam – malam biasa ku mulai terusik oleh sebongkah rasa sesak meredam rindu akan pertemuan dengan sosok kamu yang aku tak tahu sedang berada dimana, sedang melakukan apa, bersama siapa. Apa kau baik-baik saja? Apa kau tidak lupa menunaikan ibadah Shalat mu? Apa kau lapar? Kenapa belum makan? Apa kau lelah? Istirahatlah, nanti sakit. Hei, kau yang disana, (maaf) ada seseorang yang (terlalu) khawatir padamu.
MISS A Suzy - I Still Love You ( BIG OST. )
Rentetan tanya itu memburu ku, otak ku berotasi kacau, kegundahan dalam hatiku membuncah. Selalu dalam setiap helai malam biasa ku, kau menyelip dengan tak sopan, tanpa izin ku, memberiku seketika perasaan asing itu. Hei kau, sampai kapan kah aku harus bertahan dengan getar-getar yang membuat ku kian teramat risih ini? Kau tahu, ini sangat tak nyaman, sungguh. Aku tak sedang ber-hiperbola.

Melewati setiap malam dengan dibebani perasaan ini. Apa yang harus ku lakukan? Bahkan di sela tugas kuliah yang menumpuk, mendesak segera dibantai, kau masih saja sukses terselip dalam pikiran ku yang telah cukup kacau akan tugas yang seolah tiada henti menjerat. Saat bangun tidur, kau membayang dalam pikiranku. Hingga aku kembali tetidur pun, masih ada kau yang bergelantungan menyebalkan dalam benakku. Lalu, kembali, aku merindukanmu, setiap hari.

Hei, kau. Ini sudah hari yang ke-510 sejak aku menyadari tumbuhnya rasa aneh itu dalam sanubariku. Aku masih ingat dengan jelas, entah kau sudah melupakan kata-kata mu atau tidak, ah sepertinya kau memang sudah tak ingat lagi. Kau memang sangat pelupa, dan aku pengingat yang terlalu baik. Seperti kutub utara dan selatan, kita memang begitu banyak perbedaan, saling berkebalikan. Hah.

Setaun lalu, kau bilang rasa suka itu segera akan hilang dengan sendirinya. Dengan pikiran bodohku, mencoba menerjemahkan barisan kata dalam pesan singkatmu malam itu. Aku bahkan sedikit merasa lega, segera akan hilang, berarti aku hanya harus sedikit bertahan dengan rasa aneh itu. Baiklah, tak masalah.

Lalu, apa yang terjadi? Sudah berapa ratus hari berlalu sejak ekspektasi itu? Apa akan lenyap dalam waktu beberapa minggu? Beberapa bulan? Atau mungkin maksudmu beberapa tahun? Faktanya? Apa kau begitu ingin menyiksa ku? Apa membuatku kesal adalah hal yang amat menyenangkan bagimu? Apa tak cukup setiap bertemu selalu cek-cok dengan ku saat SMA dahulu? Kenapa kau begitu hobi bertingkah menyebalkan? Apa aku harus menghabiskan waktu sekian tahun untuk melenyapkan rasa ku padamu? Apa ini berarti penantian ku akan enyahkan kamu masih sangat lama? Sekarang bahkan baru lewat 145 hari dari satu tahun, berapa tahun lagi kah? Apa aku harus gila dahulu? Agar kau menjadi bosan setiap saat berkeliaran, hilir-mudik, berlari-larian dalam hatiku? Tak bisa kah kau enyah dan bermain di hati yang lain? Di hati yang juga kau berikan hatimu pada gadis itu? Aku sungguh ingin kau pergi, aku sungguh ingin tak berjumpa kau lagi.


I do miss you, but I do want to meet you anymore. 
Aku ( akui) memang merindukan kamu, tapi sungguh aku tak ingin rindu itu berbalas menjadi sebuah pertemuan ketika sepasang mata ku menjerat sosokmu. Percaya atau tidak, aku benar-benar berharap kita tak akan berjumpa kembali hingga rasaku pudar seutuhnya, berapa lama pun itu, berapa sesak pun itu, aku tak lagi peduli, aku sudah terlanjur terbiasa dengan kebiasaan mu. Sekali lagi, ku ingatkan, kutegaskan, aku tak sedang menerapkan penggunaan majas hiperbola, atau pun berakting menjadi seorang Drama Queen.

Tapi, lihat. Sekarang justru semakin besar peluang ku menemukan kamu. Ketika aku menemukan mu, nyaris setiap Senin setelah ba’da Ashar di parkiran Mushalla, fakultas kita, universitas kita. Ketika mata ku bahkan lupa berkedip hingga sosok mu hilang dan tak lagi mampu ku tangkap. Mengapa aku dan kau justru semakin terperangkap dalam wadah yang sama? Aku begitu ingin melupakanmu, tapi justru rasa itu semakin mencekik tak mau lepas. Aku begitu ingin pergi, tapi justru kau yang malah datang. Aku tak ingin terperangkap dalam momen ketika aku menemukan kamu lagi, tapi aku telah terlanjur terjebak dalam kerinduan yang amat sangat terlalu dalam pada kamu. Aku ingin amnesia atas semua memori ku tentang mu, tapi ternyata keping kenangan itu masih begitu jelas dan detail dalam ingatanku: suaramu, ekpresi wajahmu, gaya bicaramu, semuanya. Ya, semua tentangmu.

Really. I do want to forget all memories related with you. 

Cobaan MOVE ON itu memang sungguh kejam. Kadang aku berpikir bejat bahwa takdir itu... semacam kampret sekampret kampretnya kampret yang di kampretin si kampret yang mengampretkan diri. K

Lalu, apa yang harus ku lakukan? Apa yang pantas ku lakukan? Aku sungguh – sungguh tidak tahu. Haruskah aku membenturkan kepala ku ke tiang listrik agar otak ku kembali berfungsi dengan normal? Kapan dan dimana aku harus menemukan jalan pulang, kembali ke masa ketika aku tak menemukan kamu sebagai seorang sahabat yang kebablasan ku suka? Tunggu, suka? Ah, tidak, entahlah.

Suka? Apa aku masih suka padamu? Apa perasaan ini masih bisa disebut dengan kata ‘suka’ ?

Aku pernah membaca sebuah postingan teman ku yang di dapat dari sumber lain, aku tak tahu pasti. Sebuah perasaaan dikatakan bernama cinta apabila:

“ Saat dia tak lagi mempedulikanmu, saat dia selalu mengacuhkanmu, namun kau masih mengkhawatirkannya, masih memberikan perhatian tulusmu padanya. Saat dia telah mencintai orang lain, dan kau masih bisa tersenyum dan mengatakan selamat serta mendo’akan hubungan mereka. Saat dia meninggalkan mu, namun kau masih menunggu dengan setia, mendo’akan dimana pun dia berada, mendo’akan dipermudahkan segala urusannya, bahkan kau pun ikhlas berdo’a untuk keluarganya. “

Orang-orang bilang, cinta dan bodoh itu beda tipis. Jadi, apakah itu cinta atau sebuah fenomena kebodohan? Apa itu berarti selama ini aku telah menjadi si bodoh karena cinta? Apa itu berarti aku benar telah jatuh cinta pada pria seperti mu? Apa itu berarti benar kau yang telah tega merrebut cinta pertama ku? Bagaimana mungkin posisi berkesan seumur hidup itu bisa jatuh ke tanganmu? Dosa besar apa yang sudah ku lakukan? Daya tarik apa yang ada pada dirimu hingga aku terjerat dan hingga kini masih terperangkap dalam rasa ku padamu? Apa lebih mu? Aku tahu kau mengoleksi begitu banyak kekurangan, lalu apa yang ku suka dari mu? Apa? Aku bahkan belum pernah pacaran seumur hidupku, apa nasib ku begitu sial di takdirkan suka padamu? Kau tahu, pertanyaan demi pertanyaan ini membuatku semakin gila, seperti kehilangan otak ku, tak ada logika. Neraka dunia.




Sudahlah, ku hentikan postingan ini disini. Malam kali ini begitu banyak nyamuk, suasana hatiku sedang tidak karuan, aku juga lelah, dan besok pagi harus datang jam setengah tujuh, aku akan menjadi sangat sibuk sebagai panitia acara, seharian penuh pada esok hari. Ku harap aku punya waktu untuk mengeyahkan kamu dari pikir dan hati ku. Semoga.


0 komentar:

Visitors

Thanks for visiting!

free counters

Followers

World Visiting

November 25, 2012

:: “ Kau, enyahlah! Ku mohon. “



Minggu, 25 November 2012. 

Pukul 20:46 WIB. Hari ke-510.

Saat ini, aku sedang mendengarkan sebuah lagu yang disuarakan dengan begitu ‘galau’ oleh Miss A Suzy berjudul “ I Still Love You “ yang merupakan soundtrack dari drama Korea BIG. Miris sekali, justru lagu ini yang menjadi next track dari playlist yang padahal ku atur random. Lalu, lagi dan lagi lagi, kau, sosokmu membayang dalam pikiranku, perasaan itu menyeruak menyesakkan hatiku, untuk kesekian kalinya. Dan, aku benci berada dalam situasi seperti ini lagi.

I - STILL - LOVE - YOU .




Aish, sepertinya judul lagu ini begitu kuat mencengkeram suasana hatiku malam ini. Sendiri, sepi. Ya malam – malam yang biasa ku lalui sejak kanak-kanak. Malam-malam ku yang sangat biasa, tenang. Ah, tidak. Berubah signifikan ketika aku menemukan kamu. Malam – malam biasa ku mulai terusik oleh sebongkah rasa sesak meredam rindu akan pertemuan dengan sosok kamu yang aku tak tahu sedang berada dimana, sedang melakukan apa, bersama siapa. Apa kau baik-baik saja? Apa kau tidak lupa menunaikan ibadah Shalat mu? Apa kau lapar? Kenapa belum makan? Apa kau lelah? Istirahatlah, nanti sakit. Hei, kau yang disana, (maaf) ada seseorang yang (terlalu) khawatir padamu.
MISS A Suzy - I Still Love You ( BIG OST. )
Rentetan tanya itu memburu ku, otak ku berotasi kacau, kegundahan dalam hatiku membuncah. Selalu dalam setiap helai malam biasa ku, kau menyelip dengan tak sopan, tanpa izin ku, memberiku seketika perasaan asing itu. Hei kau, sampai kapan kah aku harus bertahan dengan getar-getar yang membuat ku kian teramat risih ini? Kau tahu, ini sangat tak nyaman, sungguh. Aku tak sedang ber-hiperbola.

Melewati setiap malam dengan dibebani perasaan ini. Apa yang harus ku lakukan? Bahkan di sela tugas kuliah yang menumpuk, mendesak segera dibantai, kau masih saja sukses terselip dalam pikiran ku yang telah cukup kacau akan tugas yang seolah tiada henti menjerat. Saat bangun tidur, kau membayang dalam pikiranku. Hingga aku kembali tetidur pun, masih ada kau yang bergelantungan menyebalkan dalam benakku. Lalu, kembali, aku merindukanmu, setiap hari.

Hei, kau. Ini sudah hari yang ke-510 sejak aku menyadari tumbuhnya rasa aneh itu dalam sanubariku. Aku masih ingat dengan jelas, entah kau sudah melupakan kata-kata mu atau tidak, ah sepertinya kau memang sudah tak ingat lagi. Kau memang sangat pelupa, dan aku pengingat yang terlalu baik. Seperti kutub utara dan selatan, kita memang begitu banyak perbedaan, saling berkebalikan. Hah.

Setaun lalu, kau bilang rasa suka itu segera akan hilang dengan sendirinya. Dengan pikiran bodohku, mencoba menerjemahkan barisan kata dalam pesan singkatmu malam itu. Aku bahkan sedikit merasa lega, segera akan hilang, berarti aku hanya harus sedikit bertahan dengan rasa aneh itu. Baiklah, tak masalah.

Lalu, apa yang terjadi? Sudah berapa ratus hari berlalu sejak ekspektasi itu? Apa akan lenyap dalam waktu beberapa minggu? Beberapa bulan? Atau mungkin maksudmu beberapa tahun? Faktanya? Apa kau begitu ingin menyiksa ku? Apa membuatku kesal adalah hal yang amat menyenangkan bagimu? Apa tak cukup setiap bertemu selalu cek-cok dengan ku saat SMA dahulu? Kenapa kau begitu hobi bertingkah menyebalkan? Apa aku harus menghabiskan waktu sekian tahun untuk melenyapkan rasa ku padamu? Apa ini berarti penantian ku akan enyahkan kamu masih sangat lama? Sekarang bahkan baru lewat 145 hari dari satu tahun, berapa tahun lagi kah? Apa aku harus gila dahulu? Agar kau menjadi bosan setiap saat berkeliaran, hilir-mudik, berlari-larian dalam hatiku? Tak bisa kah kau enyah dan bermain di hati yang lain? Di hati yang juga kau berikan hatimu pada gadis itu? Aku sungguh ingin kau pergi, aku sungguh ingin tak berjumpa kau lagi.


I do miss you, but I do want to meet you anymore. 
Aku ( akui) memang merindukan kamu, tapi sungguh aku tak ingin rindu itu berbalas menjadi sebuah pertemuan ketika sepasang mata ku menjerat sosokmu. Percaya atau tidak, aku benar-benar berharap kita tak akan berjumpa kembali hingga rasaku pudar seutuhnya, berapa lama pun itu, berapa sesak pun itu, aku tak lagi peduli, aku sudah terlanjur terbiasa dengan kebiasaan mu. Sekali lagi, ku ingatkan, kutegaskan, aku tak sedang menerapkan penggunaan majas hiperbola, atau pun berakting menjadi seorang Drama Queen.

Tapi, lihat. Sekarang justru semakin besar peluang ku menemukan kamu. Ketika aku menemukan mu, nyaris setiap Senin setelah ba’da Ashar di parkiran Mushalla, fakultas kita, universitas kita. Ketika mata ku bahkan lupa berkedip hingga sosok mu hilang dan tak lagi mampu ku tangkap. Mengapa aku dan kau justru semakin terperangkap dalam wadah yang sama? Aku begitu ingin melupakanmu, tapi justru rasa itu semakin mencekik tak mau lepas. Aku begitu ingin pergi, tapi justru kau yang malah datang. Aku tak ingin terperangkap dalam momen ketika aku menemukan kamu lagi, tapi aku telah terlanjur terjebak dalam kerinduan yang amat sangat terlalu dalam pada kamu. Aku ingin amnesia atas semua memori ku tentang mu, tapi ternyata keping kenangan itu masih begitu jelas dan detail dalam ingatanku: suaramu, ekpresi wajahmu, gaya bicaramu, semuanya. Ya, semua tentangmu.

Really. I do want to forget all memories related with you. 

Cobaan MOVE ON itu memang sungguh kejam. Kadang aku berpikir bejat bahwa takdir itu... semacam kampret sekampret kampretnya kampret yang di kampretin si kampret yang mengampretkan diri. K

Lalu, apa yang harus ku lakukan? Apa yang pantas ku lakukan? Aku sungguh – sungguh tidak tahu. Haruskah aku membenturkan kepala ku ke tiang listrik agar otak ku kembali berfungsi dengan normal? Kapan dan dimana aku harus menemukan jalan pulang, kembali ke masa ketika aku tak menemukan kamu sebagai seorang sahabat yang kebablasan ku suka? Tunggu, suka? Ah, tidak, entahlah.

Suka? Apa aku masih suka padamu? Apa perasaan ini masih bisa disebut dengan kata ‘suka’ ?

Aku pernah membaca sebuah postingan teman ku yang di dapat dari sumber lain, aku tak tahu pasti. Sebuah perasaaan dikatakan bernama cinta apabila:

“ Saat dia tak lagi mempedulikanmu, saat dia selalu mengacuhkanmu, namun kau masih mengkhawatirkannya, masih memberikan perhatian tulusmu padanya. Saat dia telah mencintai orang lain, dan kau masih bisa tersenyum dan mengatakan selamat serta mendo’akan hubungan mereka. Saat dia meninggalkan mu, namun kau masih menunggu dengan setia, mendo’akan dimana pun dia berada, mendo’akan dipermudahkan segala urusannya, bahkan kau pun ikhlas berdo’a untuk keluarganya. “

Orang-orang bilang, cinta dan bodoh itu beda tipis. Jadi, apakah itu cinta atau sebuah fenomena kebodohan? Apa itu berarti selama ini aku telah menjadi si bodoh karena cinta? Apa itu berarti aku benar telah jatuh cinta pada pria seperti mu? Apa itu berarti benar kau yang telah tega merrebut cinta pertama ku? Bagaimana mungkin posisi berkesan seumur hidup itu bisa jatuh ke tanganmu? Dosa besar apa yang sudah ku lakukan? Daya tarik apa yang ada pada dirimu hingga aku terjerat dan hingga kini masih terperangkap dalam rasa ku padamu? Apa lebih mu? Aku tahu kau mengoleksi begitu banyak kekurangan, lalu apa yang ku suka dari mu? Apa? Aku bahkan belum pernah pacaran seumur hidupku, apa nasib ku begitu sial di takdirkan suka padamu? Kau tahu, pertanyaan demi pertanyaan ini membuatku semakin gila, seperti kehilangan otak ku, tak ada logika. Neraka dunia.




Sudahlah, ku hentikan postingan ini disini. Malam kali ini begitu banyak nyamuk, suasana hatiku sedang tidak karuan, aku juga lelah, dan besok pagi harus datang jam setengah tujuh, aku akan menjadi sangat sibuk sebagai panitia acara, seharian penuh pada esok hari. Ku harap aku punya waktu untuk mengeyahkan kamu dari pikir dan hati ku. Semoga.


No comments: