November 24, 2012

:: “ Aku akan KESANA, tapi kamu malah hendak KESINI. Seusil itu kah takdir mengukir kisah kita? “



Ini terjadi sekitar 3 bulan silam, tepat sebelum tahun ajaran 2012/2013 resmi dimulai. Terdengar menggelikan awalnya, aku bahkan nyaris tak percaya. Untuk sessat ketika kau mengatakannya pagi itu, seolah otak ku berhenti bekerja untuk sekian detik, terdapat sebuah BLANK MOMENT yang tibatiba muncul di pikiranku. Aku membaca ulang pesan singkatmu, dengan seksama, sekali lagi. Apa ini serius? Kau bercanda? Hei, sungguh, ini sangat tidak lucu walau hanya sekedar gurauan demi menghiburku, mengusir sedihku.

Saat kau katakan kau berhasil lulus DISINI ( aku nyaris tak percaya kau benar mengambil jurusan yang ada DISINI untuk SNMPTN 2012 mu ), namun masih sedang menanti hasil seleksi tes di Institut pulau seberang situ. Sedangkan aku, bersyukur lulus DISANA, namun masih sedang menunggu kepastian dari orang tua ku apakah aku boleh KESANA, ataukah harus tetap dipaksa bertahan DISINI. Intinya, kala itu kita sama-sama sedang terjebak dalam masa-masa menunggu, bernama sebuah penantian akan masa depan.



Sedang menanti permainan sang takdir selanjutnya, apakah ia akan menggiringmu kesitu, menuntunku KESANA, atau aku ditahan DISINI, dan kau tetap berlanjut DISANA. Atau kemungkinan lain, mungkin salah satu dari aku atau kamu akan di seret KESANA atau KESINI, sehingga aku dan kamu bermetamorfosa menjadi kita? Siapa yang akan di seret? Siapa yang akan ditahan? Aku ataukah kamu? Hah, hari-hari pengumuman itu sungguh membuatku berdebar, begitu antusias, dan... menggelikan. Haha.

Lucunya, kita dipertemukan kembali. 

Hei, pernah kah terlintas di pikirmu walau hanya sekali tentang hal ini?

Seusil itukah takdir mengukir kisah kita?

Menawarkan sebuah kesempatan untuk bergerak, menyuguhkan pilihan yang saling tabrak, jika tak A maka pasti B, jika bukan ini maka harus itu. Mau tak mau wajib tunduk pada sebuah agenda kehidupan bernama memilih, berikut dengan segala macam rumitnya konsekuensi yang mengekori pilihan tersebut. Tak bisa ambil semua, bahkan harus tetap menentukan pilihan antara dua hal yang dinilai penting, tak boleh serakah.

Hidup itu memiliki dua sisi, hidup itu rumit tapi sebenarnya sederhana tergantung dari kacamata persepsi yang dibangun ketika menata, menjalani, dan mengelola bahtera kehidupan itu sendiri. Hidup itu adil, harus pernah merasa sedih dahulu, jika ingin mengetahui apa itu sebuah perasaan bernama senang. Harus sakit dahulu sebelum tiba masanya akan sembuh. Tertawa saat ini, kelak akan berlinang air mata. Mendapatkan, kemudian kehilangan, atau sebaliknya. Hidup itu sebuah siklus yang amat kompeks. Ya, itu lah hidup.

Kembali bercuap-cuap seputar si takdir yang usil. Peluang demi peluang pun kemudian mulai bermunculan :

·        Jika aku KESANA, di tempat dimana kau tetap bertahan DISANA, berarti aku dan kau akan menjadi kita di satu payung universitas yang sama, di habitat yang sama, sekali lagi seperti masa SMP dan SMA dahulu. Walau tak persis sama, walau berbeda jurusan, beda fakultas, walau hanya memiliki persamaan pada tingkat Universitas.

Kelak kau dengan akan bergelar Sarjana Teknik ( Blablabla, ST ) dan aku dengan Sarjana Keperawatan ( Bliblibli, S.Kep ). Kau tahu? Ah, ini kebiasaan, aku selalu melontarkan pertanyaan mubazir ini. Padahal aku sudah tahu apa jawaban mu. Kau tak pernah tau, dan bahkan tak mau tahu, tapi kadang kau tahu apa yang ku kira kau tak tahu dan enggan ku beritahu. Ah, kau memang semacam makhluk yang tidak jelas. Kenapa kau bertingkah begitu membingungkan? Andai aku dianugerahi kekuatan super untuk mampu membaca isi kepala dan hatimu.




Hm, baiklah. Begini, salah satu mimpi di #DreamLife ku, kelak aku ingin berpasangkan dengan seorang pria berlatar belakang pekerjaan di dibidang Kedokteran ( aku dan seorang teman baikku berinisial GH, bahkan bermimpi merealisasikan bayang semu kami akan drama-drama Asia, seperti: Itazura na Kiss ), seorang dokter dan seorang perawat. J

 Lalu kau tahu apa posisi kedua? Ya, anak teknik. Aku tak tahu mengapa, tapi para teknisi itu merebut porsi yang besar dari ketertarikanku. Mungkin karena latar belakang keluarga ku, terutama kedua orang tua ku, Matematika dan Fisika. Kurasa ini makanan paling mengenyangkan bagi anak-anak teknik itu, haha. Dan menurutku, kedua orang tua ku juga memliki persepsi yang sama dengan pasangan Teknisi dan Perawat. J

Kemudian, yang ketiga? Aku tak tahu, sepertinya porsi-porsi yang tersisa hanya sebagian kecil untuk bidang lain. Bukan bermaksud memilah-milih jurusan, aku percaya semua jurusan itu bertujuan baik asal dikelola dan diusahakan dengan baik dan maksimal, ya tak dapat pula dipungkiri, faktor nasib juga memang turut menentukan. Akan tetapi, entah kenapa, hanya dua bidang itu yang paling ‘nempel’ di hati ku. Mohon di maklumi. Mohon maaf apabila terdapat salah kata. #bow

Nah, tapi harus diingat, dipahami, dan dicamkan. Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Dan, aku percaya ini. Aku percaya telah dipersiapkan kado yang akan indah pada waktunya untuk hidupku. Hidupku yang pendek atau mungkin diizinkan hingga kakek-nenek. Aku yakin, hidup itu adil. J

·        Namun, apa jadinya bila kau KESINI, di area dimana aku dipaksa bertahan DISINI, berarti aku dan kau tetap saja akan menjadi kita yang berpayungkan atap Universitas yang sama, di sebuah universitas dekat pantai yang panas. Hanya variasi jurusan di fakultas yang dikenal dengan kampus selatan itu yang menjadi pembeda aku dan kamu, aku di bagian depan dengan lab. Bahasa , dan kamu di bagian belakang dengan Galeri Seni.

Dimana kelak akan tertulis gelar Sarjana Desain ( S.Ds ) dibelakang namu mu yang terdiri dari dua suku kata itu, lalu aku dengan Sarjana Pendidikan ( S.Pd ) dibelakang suku kata ketiga dari namaku. 



Kau tahu, satu hal yang cukup menarik dari ulah sang takdir yang mempermainkan kita:

Jika aku KESANA, dan kau bertahan DISANA, maka kita berda dalam dunia Teknik dan Kesehatan, sama-sama di cabang IPA ( Science ), salah satu couple yang buat ku tertarik sejak dulu. Walau itu berarti aku berhasil menggenggam mimpiku, namun kau mengalah dengan asa mu. Jika kau malah KESINI, sedangkan aku terpaksa bertahan DISINI, kau dan aku tergolong kelompok IPS ( Social ), akan tetapi kita tetap berada dalam satu payung Universitas, bahkan Fakultas yang sama, kolaborasi antara Bahasa dan Seni. Kau meraih ingin mu, namun aku mengalah dengan mimpiku.

·        Jika kamu lulus disitu, di pulau seberang sana. Tak peduli aku pindah KESANA, atau tetap bertahan DISINI, aku dan kamu tetap tak akan bermetamorfosa menjadi kita. Aku tetap aku, dan kau tetap kau. Bukan kita. Kau dengan inginmu, dan aku mungkin dengan mimpiku, disana. Atau bahkan tetap dengan sesuatu yang tak pernah ku impikan, disini.

·        Jika aku KESANA, dan kau KESINI, bukankah kau dan aku akan seperti sebatang magnet bi-polar dimana masing-masing ujungnya  mengarah ke kutub utara dan kutub selatan? Saling bertolak belakang, tak berjumpa. Ah, apa ini sinyal dari sang takdir bahwa aku dan kau memang benar tak akan pernah menjadi kita? Seperti Artik dan Antartika yang tak akan pernah bersua, bertatap muka.


“ Satu yang teramat sangat jelas hendak kutegaskan pada kalian, teramat kuat hendak kutekankan pada kalian. Ini tak ada hubungannya dengan orang itu (baca: kamu yang rutin ku bahasakan dalam tulisan ku). Bukan karena dia, bukan karena siapa-siapa, ini sepenuhnya mimpi miliku. Aku tak peduli apakah kalian akan percaya, atau malah memandang sebelah mata, menganggap remeh, dan tak jarang bertingkah tinggi melangit, dan berbisik membelakangi langit. Ini tentang aku, bukan tentang kalian yang bahkan tak tahu apa-apa dan hanya menerka, berpraduga, sekedar persepsi buta semata. Hanya bisa berucap, padahal tak pernah mengecap bagaimana rasanya menjadi aku. “

Nah, lalu apa jawabannya? Apa hasil keusilan takdir itu?

Kemudian, ini menjadi lucu yang memilukan ketika Tuhan menunjukkan bukti bahwa Dia menciptakan sebuah dunia yang adil. Ketika aku begitu ingin KESANA, atas hendak ku sendiri yang tak terpaut bayang mu sama sekali, dan ketika kau dengan asa mu, dengan dunia mu, dengan mimpi-mimpi mu, DISINI.

Ketika takdir membuatnya menjadi begitu rumit. Ketika takdir membongkar-pasang, menyusun ulang, mengatur nya, dan menyerahkannya pada tangan kita yang menengadah. Lalu, jawaban atas segala peluang-peluang itu pun telah diputuskan. Orang tua ku ternyata masih ‘memaksa’ ku bertahan DISINI, dan ternyata takdir tak pula merestuimu untuk lulus di pulau seberang situ.

Bahwa hasilnya, faktanya, miris akhirnya aku harus tetap terpaksa bertahan DISINI, dan kau di antarkan sang takdir untuk datang KESINI dengan suka citamu. Mau tak mau aku tetap saja harus melepaskan yang ada DISANA, dan kau juga tak akan lagi bergerak  KESANA. 

Kemudian persepsi ku berubah haluan, masih seperti kutub utara dan selatan, tapi tak dalam satu batang magnet yang sama. Kali ini ada dua buah magnet. Aku dengan kutub utara ku, dan kamu dengan kutub selatanmu, tarik-menarik, dipertemukan si takdir yang usil. Hm.

Jadi, intinya dunia itu memang lah sungguh adil,  dan takdir itu memang amat usil. Andai orang tua ku tidak mengumbar harapan palsu, andai mereka memang benar menepati janji mengizinkan ku pindah KESANA, tak peduli DISANA masih ada kamu, atau kamu telah mengisi posisi di tempat yang hendak ku tinggalkan DISINI. Andai kamu juga lulus disitu, dan beranjak. Andai andai yang berlalu dibawa badai pilihan kehidupan. Haha.

Ah, entah apa yang sedang di rencanakan si takdir,  aku tak tahu, kau pun pasti tak tahu, kita sama-sama tak tahu apa-apa. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Ya, menunggu. Hanya menunggu, dan lihat apa hadiah untuk kita.

Apakah isi dari kotak pandora yang telah dipersiapkan Tuhan untuk kita?

Aku begitu penasaran, apa kau juga begitu? Mungkin tidak.

Mungkin aku tetap akan menjadi aku.

Mungkin kau akan tetap menjadi kau.

Mungkin aku dan kau akan menjadi kita.

Mungkin aku dan kau kembali berteman biasa.

Entahlah, ini begitu buram. 



0 komentar:

Visitors

Thanks for visiting!

free counters

Followers

World Visiting

November 24, 2012

:: “ Aku akan KESANA, tapi kamu malah hendak KESINI. Seusil itu kah takdir mengukir kisah kita? “



Ini terjadi sekitar 3 bulan silam, tepat sebelum tahun ajaran 2012/2013 resmi dimulai. Terdengar menggelikan awalnya, aku bahkan nyaris tak percaya. Untuk sessat ketika kau mengatakannya pagi itu, seolah otak ku berhenti bekerja untuk sekian detik, terdapat sebuah BLANK MOMENT yang tibatiba muncul di pikiranku. Aku membaca ulang pesan singkatmu, dengan seksama, sekali lagi. Apa ini serius? Kau bercanda? Hei, sungguh, ini sangat tidak lucu walau hanya sekedar gurauan demi menghiburku, mengusir sedihku.

Saat kau katakan kau berhasil lulus DISINI ( aku nyaris tak percaya kau benar mengambil jurusan yang ada DISINI untuk SNMPTN 2012 mu ), namun masih sedang menanti hasil seleksi tes di Institut pulau seberang situ. Sedangkan aku, bersyukur lulus DISANA, namun masih sedang menunggu kepastian dari orang tua ku apakah aku boleh KESANA, ataukah harus tetap dipaksa bertahan DISINI. Intinya, kala itu kita sama-sama sedang terjebak dalam masa-masa menunggu, bernama sebuah penantian akan masa depan.



Sedang menanti permainan sang takdir selanjutnya, apakah ia akan menggiringmu kesitu, menuntunku KESANA, atau aku ditahan DISINI, dan kau tetap berlanjut DISANA. Atau kemungkinan lain, mungkin salah satu dari aku atau kamu akan di seret KESANA atau KESINI, sehingga aku dan kamu bermetamorfosa menjadi kita? Siapa yang akan di seret? Siapa yang akan ditahan? Aku ataukah kamu? Hah, hari-hari pengumuman itu sungguh membuatku berdebar, begitu antusias, dan... menggelikan. Haha.

Lucunya, kita dipertemukan kembali. 

Hei, pernah kah terlintas di pikirmu walau hanya sekali tentang hal ini?

Seusil itukah takdir mengukir kisah kita?

Menawarkan sebuah kesempatan untuk bergerak, menyuguhkan pilihan yang saling tabrak, jika tak A maka pasti B, jika bukan ini maka harus itu. Mau tak mau wajib tunduk pada sebuah agenda kehidupan bernama memilih, berikut dengan segala macam rumitnya konsekuensi yang mengekori pilihan tersebut. Tak bisa ambil semua, bahkan harus tetap menentukan pilihan antara dua hal yang dinilai penting, tak boleh serakah.

Hidup itu memiliki dua sisi, hidup itu rumit tapi sebenarnya sederhana tergantung dari kacamata persepsi yang dibangun ketika menata, menjalani, dan mengelola bahtera kehidupan itu sendiri. Hidup itu adil, harus pernah merasa sedih dahulu, jika ingin mengetahui apa itu sebuah perasaan bernama senang. Harus sakit dahulu sebelum tiba masanya akan sembuh. Tertawa saat ini, kelak akan berlinang air mata. Mendapatkan, kemudian kehilangan, atau sebaliknya. Hidup itu sebuah siklus yang amat kompeks. Ya, itu lah hidup.

Kembali bercuap-cuap seputar si takdir yang usil. Peluang demi peluang pun kemudian mulai bermunculan :

·        Jika aku KESANA, di tempat dimana kau tetap bertahan DISANA, berarti aku dan kau akan menjadi kita di satu payung universitas yang sama, di habitat yang sama, sekali lagi seperti masa SMP dan SMA dahulu. Walau tak persis sama, walau berbeda jurusan, beda fakultas, walau hanya memiliki persamaan pada tingkat Universitas.

Kelak kau dengan akan bergelar Sarjana Teknik ( Blablabla, ST ) dan aku dengan Sarjana Keperawatan ( Bliblibli, S.Kep ). Kau tahu? Ah, ini kebiasaan, aku selalu melontarkan pertanyaan mubazir ini. Padahal aku sudah tahu apa jawaban mu. Kau tak pernah tau, dan bahkan tak mau tahu, tapi kadang kau tahu apa yang ku kira kau tak tahu dan enggan ku beritahu. Ah, kau memang semacam makhluk yang tidak jelas. Kenapa kau bertingkah begitu membingungkan? Andai aku dianugerahi kekuatan super untuk mampu membaca isi kepala dan hatimu.




Hm, baiklah. Begini, salah satu mimpi di #DreamLife ku, kelak aku ingin berpasangkan dengan seorang pria berlatar belakang pekerjaan di dibidang Kedokteran ( aku dan seorang teman baikku berinisial GH, bahkan bermimpi merealisasikan bayang semu kami akan drama-drama Asia, seperti: Itazura na Kiss ), seorang dokter dan seorang perawat. J

 Lalu kau tahu apa posisi kedua? Ya, anak teknik. Aku tak tahu mengapa, tapi para teknisi itu merebut porsi yang besar dari ketertarikanku. Mungkin karena latar belakang keluarga ku, terutama kedua orang tua ku, Matematika dan Fisika. Kurasa ini makanan paling mengenyangkan bagi anak-anak teknik itu, haha. Dan menurutku, kedua orang tua ku juga memliki persepsi yang sama dengan pasangan Teknisi dan Perawat. J

Kemudian, yang ketiga? Aku tak tahu, sepertinya porsi-porsi yang tersisa hanya sebagian kecil untuk bidang lain. Bukan bermaksud memilah-milih jurusan, aku percaya semua jurusan itu bertujuan baik asal dikelola dan diusahakan dengan baik dan maksimal, ya tak dapat pula dipungkiri, faktor nasib juga memang turut menentukan. Akan tetapi, entah kenapa, hanya dua bidang itu yang paling ‘nempel’ di hati ku. Mohon di maklumi. Mohon maaf apabila terdapat salah kata. #bow

Nah, tapi harus diingat, dipahami, dan dicamkan. Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Dan, aku percaya ini. Aku percaya telah dipersiapkan kado yang akan indah pada waktunya untuk hidupku. Hidupku yang pendek atau mungkin diizinkan hingga kakek-nenek. Aku yakin, hidup itu adil. J

·        Namun, apa jadinya bila kau KESINI, di area dimana aku dipaksa bertahan DISINI, berarti aku dan kau tetap saja akan menjadi kita yang berpayungkan atap Universitas yang sama, di sebuah universitas dekat pantai yang panas. Hanya variasi jurusan di fakultas yang dikenal dengan kampus selatan itu yang menjadi pembeda aku dan kamu, aku di bagian depan dengan lab. Bahasa , dan kamu di bagian belakang dengan Galeri Seni.

Dimana kelak akan tertulis gelar Sarjana Desain ( S.Ds ) dibelakang namu mu yang terdiri dari dua suku kata itu, lalu aku dengan Sarjana Pendidikan ( S.Pd ) dibelakang suku kata ketiga dari namaku. 



Kau tahu, satu hal yang cukup menarik dari ulah sang takdir yang mempermainkan kita:

Jika aku KESANA, dan kau bertahan DISANA, maka kita berda dalam dunia Teknik dan Kesehatan, sama-sama di cabang IPA ( Science ), salah satu couple yang buat ku tertarik sejak dulu. Walau itu berarti aku berhasil menggenggam mimpiku, namun kau mengalah dengan asa mu. Jika kau malah KESINI, sedangkan aku terpaksa bertahan DISINI, kau dan aku tergolong kelompok IPS ( Social ), akan tetapi kita tetap berada dalam satu payung Universitas, bahkan Fakultas yang sama, kolaborasi antara Bahasa dan Seni. Kau meraih ingin mu, namun aku mengalah dengan mimpiku.

·        Jika kamu lulus disitu, di pulau seberang sana. Tak peduli aku pindah KESANA, atau tetap bertahan DISINI, aku dan kamu tetap tak akan bermetamorfosa menjadi kita. Aku tetap aku, dan kau tetap kau. Bukan kita. Kau dengan inginmu, dan aku mungkin dengan mimpiku, disana. Atau bahkan tetap dengan sesuatu yang tak pernah ku impikan, disini.

·        Jika aku KESANA, dan kau KESINI, bukankah kau dan aku akan seperti sebatang magnet bi-polar dimana masing-masing ujungnya  mengarah ke kutub utara dan kutub selatan? Saling bertolak belakang, tak berjumpa. Ah, apa ini sinyal dari sang takdir bahwa aku dan kau memang benar tak akan pernah menjadi kita? Seperti Artik dan Antartika yang tak akan pernah bersua, bertatap muka.


“ Satu yang teramat sangat jelas hendak kutegaskan pada kalian, teramat kuat hendak kutekankan pada kalian. Ini tak ada hubungannya dengan orang itu (baca: kamu yang rutin ku bahasakan dalam tulisan ku). Bukan karena dia, bukan karena siapa-siapa, ini sepenuhnya mimpi miliku. Aku tak peduli apakah kalian akan percaya, atau malah memandang sebelah mata, menganggap remeh, dan tak jarang bertingkah tinggi melangit, dan berbisik membelakangi langit. Ini tentang aku, bukan tentang kalian yang bahkan tak tahu apa-apa dan hanya menerka, berpraduga, sekedar persepsi buta semata. Hanya bisa berucap, padahal tak pernah mengecap bagaimana rasanya menjadi aku. “

Nah, lalu apa jawabannya? Apa hasil keusilan takdir itu?

Kemudian, ini menjadi lucu yang memilukan ketika Tuhan menunjukkan bukti bahwa Dia menciptakan sebuah dunia yang adil. Ketika aku begitu ingin KESANA, atas hendak ku sendiri yang tak terpaut bayang mu sama sekali, dan ketika kau dengan asa mu, dengan dunia mu, dengan mimpi-mimpi mu, DISINI.

Ketika takdir membuatnya menjadi begitu rumit. Ketika takdir membongkar-pasang, menyusun ulang, mengatur nya, dan menyerahkannya pada tangan kita yang menengadah. Lalu, jawaban atas segala peluang-peluang itu pun telah diputuskan. Orang tua ku ternyata masih ‘memaksa’ ku bertahan DISINI, dan ternyata takdir tak pula merestuimu untuk lulus di pulau seberang situ.

Bahwa hasilnya, faktanya, miris akhirnya aku harus tetap terpaksa bertahan DISINI, dan kau di antarkan sang takdir untuk datang KESINI dengan suka citamu. Mau tak mau aku tetap saja harus melepaskan yang ada DISANA, dan kau juga tak akan lagi bergerak  KESANA. 

Kemudian persepsi ku berubah haluan, masih seperti kutub utara dan selatan, tapi tak dalam satu batang magnet yang sama. Kali ini ada dua buah magnet. Aku dengan kutub utara ku, dan kamu dengan kutub selatanmu, tarik-menarik, dipertemukan si takdir yang usil. Hm.

Jadi, intinya dunia itu memang lah sungguh adil,  dan takdir itu memang amat usil. Andai orang tua ku tidak mengumbar harapan palsu, andai mereka memang benar menepati janji mengizinkan ku pindah KESANA, tak peduli DISANA masih ada kamu, atau kamu telah mengisi posisi di tempat yang hendak ku tinggalkan DISINI. Andai kamu juga lulus disitu, dan beranjak. Andai andai yang berlalu dibawa badai pilihan kehidupan. Haha.

Ah, entah apa yang sedang di rencanakan si takdir,  aku tak tahu, kau pun pasti tak tahu, kita sama-sama tak tahu apa-apa. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Ya, menunggu. Hanya menunggu, dan lihat apa hadiah untuk kita.

Apakah isi dari kotak pandora yang telah dipersiapkan Tuhan untuk kita?

Aku begitu penasaran, apa kau juga begitu? Mungkin tidak.

Mungkin aku tetap akan menjadi aku.

Mungkin kau akan tetap menjadi kau.

Mungkin aku dan kau akan menjadi kita.

Mungkin aku dan kau kembali berteman biasa.

Entahlah, ini begitu buram. 



No comments: