June 03, 2012

:: “ Entahlah, mungkin ini pertemuan terakhir. “



Minggu, 3 Juni 2012.

Pagi ini sebenarnya sangat indah, hanya saja aku cukup lelah dan pusing, rasa kantuk sehabis begadang semalam masih berusaha menggantung di katup mataku, berat sekali untuk membuka. Tapi,  aku harus segera bangun, harus. Hari ini ada TRY OUT SNMPTN terakhir, aku juga harus melanjutkan menyelesaikan kado ini, hooaaam. Memulai aktifitas hari ini dengan Shalat Shubuh, kepala ku masih pusing, sebulan dua bulan belakangan ini kepala ku sering sekali terasa seakan segera meledak. Tubuhku sempoyongan, dan rasanya seolah-olah aku akan terjun bebas dari lantai 4 saat menaiki tangga gedung fakultas.

Aku membutuhkan waktu lebih lama jika istirahat saat lelah, jantung ku berdegup lebih cepat, nafas ku sesak dan meburu, berat dan terkadang butuh helaan yang cukup panjang untuk kembali menstabilkannya, dan itu tak jarang membuat daerah bagian ulu hati hingga jantung terasa begah. Aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi pada tubuh kecil ku yang semakin kurus, semakin mudah berat badanku turun, namun kebalikannya, cukup sulit mencapai berat sebelumnya. Hm, aku tidak tau aku kenapa. Aku hanya merasakannya, dan aku tidak tahu apa itu, kenapa, dan bagaimana.

Ya, sepertinya aku memang selalu tidak tahu apa yang tengah terjadi pada diriku sendiri, ternyata tidak hanya tentang kamu, tapi juga tentang aku. Ketidaktahuan ini kadang membuatku begitu kesal? Ah, bukan, tidak seperti itu, mungkin aku hanya sedikit tertekan dengan dosis yang minim(?), haha. Berlebihan sekali ya? Tapi, ya, begitulah.


Sekitar 3 minggu ini, aku baru saja menyadari bahwa ini tidak hanya kumat ketika naik-turun tangga, baru bangun tidur, merebahkan kepala, berjalan di bawah terik matahari ( padahal sebelumnya aku biasa melakukan hal ini bersama teman-teman, dan aku tidak apa-apa ), saat menguras otak belajar keras/berkonsentrasi penuh ( kepala ku lebih cepat berdenyut sakit, lalu sekian detik ketika baru berdiri rasanya dunia berputar kencang, dan aku seolah tertelan dalam sebuah pusaran, kemudian saat hendak melangkah, kaki ku seolah terpakukan pada lantai, dan aku kembali terduduk dikursi sembari memijit dahi), bahkan kini ketika hati ku tengah terjadi ‘peperangan bathin’ berhubungan dengan kamu(?)

Dulu rasa begah dan nyeri itu hanya beroperasi dan memakan tempat di area ulu hati, sekarang entah mengapa telah merambah ke atas, menuju... sepertinya sekitar jantung, nafas ku semakin sesak dan berat, ini seperti beberapa buah buku kedokteran super tebal menindih dadaku, rasanya tentu sangat sangat sangat tidak menyenangkan, ckck. ==

Hm, ini hari ke-335. Tahun lalu, ups, terlalu jauh, maksud ku di hari ke-200an hal seperti ini masih belom menghampiriku. Jadi, aku  masih mampu meredam ‘nyesek’ saat berpapasan dengan hal-hal tak mengenakkan berkaitan dengan kamu. Tentu, tetap terasa sesak, tapi tidak yang seperti saat-saat ini, dimana kadang di situasi gawat darurat tertentu rasanya aku butuh dipasangi alat bantu pernapasan, aku butuh suply oksigen, it feels like there is no oxygen, atau rasanya hidung ku seperti disumbat, aku juga tidak tahu mengapa ini terjadi, entahlah. Jantung ku berdebar dengan lebih liar jika melihat raut wajah jutekmu, mendengar nada bicaramu,  ya, semua nya, ketika aku bertemu kamu.

“ Kamu selalu menyuruhku untuk bersikap biasa, tapi bahkan MENCOBA bersikap biasa biasa saja pun aku kewalahan, bagaimana bisa aku bersikap biasa sementara jantung ku berdegup luar biasa, karena (maaf) aku masih memiliku sekeping rasa yang tak biasa pada kamu, beda halnya dengan kamu dan rasa mu yang biasa padaku, kita berbeda.  ==a

Hari ini, entah mengapa aku merasa jauh lebih takut jika pertemuan kali ini kembali batal, mengingat kita sulit sekali untuk dipertemukan, sepertinya sang takdir pun kelabakan, haha. Hm, tapi akhirnya kali ini si takdir berbaik hati, kita bertemu, disana. Walau hanya kurang dari 2 jam, aku sangat senang, akhirnya bisa kembali bersua dengan kamu, kamu yang duduk di depanku. Curi-curi pandang secara ilegal, melirik raut wajah mu saat mengerjakan soal ujian, lalu aku tersenyum kecil menunduk dengan modus menatap soal ujianku, menemukan ekspresi itu, nada suara itu, momen-momen kecil yang pasti akan sangat kurindukan suatu saat kelak.

Entahlah, mungkin ini pertemuan terakhir. Kita mungkin akan bertemu kembali suatu saat nanti setelah melewati rentang waktu yang panjang, atau mungkin kita benar-benar tak akan dipertemukan oleh sang takdir lagi, aku tidak berani kembali berharap kita akan segera bertemu kembali, aku tak tahu kapan hari itu akan tiba, tepatnya aku mencoba berpura-pura tak tahu. Karena aku begitu takut, aku mempersiapkan ‘’kado itu’ jauh-jauh hari sebelumnya, padahal hari H jatuh pada bulan Juli. 

Aku menyebut momen setiap kita bertemu sebagai acara ‘Ketemuan’ , walau kamu tidak suka dengan kata itu, walau kadang sepertinya kamu seolah akan bertemu dengan setan jika berhadapan denganku padahal kan aku tidak akan mengunyah kamu, dan walau tidak hanya ada kamu dan aku di acara itu, tapi bagiku... hm, mungkin hari dimana aku ‘Ketemuan’ denganmu bisa menjadi salah satu hari besar dalam kalender ku, haha. Berlebihan sekali! Ya, karena ketakutan ku juga terasa semakin berlebihan. Aku hanya terlalu takut tidak memiliki kesempatan lain, terlalu takut jika aku tidak mempunyai cukup waktu untuk menunggu kamu lebih lama lagi, aku hanya terlalu takut, aku pengecut sekali ya? Maaf.

Hari itu, sesuatu yang kurasakan 2 bulan ini kembali kumat, aku tidak berani berharap yang muluk-muluk. Aku hanya berharap kamu akan datang dan aku punya cukup keberanian menyerahkan kado itu. Hanya itu, hanya itu saja kok. Aku merasa sudah seperti orang gila saat hanya berdua dengan mu di tempat parkir, aku tidak tahu apa yang harus ku katakan, tapi aku juga tidak ingin kamu cepat pergi, kamu harus dengarkan aku bicara apa dulu, tapi kembali ke inti permasalahannya, aku tidak tahu apa yang harus ku kuatakan! Ini... sungguh me-nyesek-an. Hffffftt.

“ Hm, belakangan aku menyadari sesuatu, bahwa mungkin aku hanya ingin kamu tetap di dekat ku, jika pun jauh, asalkan aku dapat menemukan keberadaan mu dengan mata ku sendiri, bagi ku itu cukup, aku tahu bahwa kamu ada, dimana aku bisa memantau mu secara langsung, menangkap raut wajahmu, mendengar nada bicara mu, mengamati gerak-gerikmu, semua, hanya dengan cukup kamu ada disini, tanpa satu pun kata terucap dari bibirku karena akupun tak tahu harus bicara apa padamu, ya, mungkin hanya itu saja. Ya, sepertinya memang begitu, haha. “

Hari ini kita kembali bertemu setelah menghabiskan sekian ratus hari tanpa kamu. Hei, aku senang sekali bertemu dengamu. Yah, seperti yang sudah ku prediksi sebelumnya, aku tak punya cukup kepintaran dan keberanian dalam hal lisan, rasanya sedikit agak lega telah menuangkan apa yang ingin ku katakan dalam NOTE itu. Yaaaah, walaupun sebenarnya itu belum semua. Saat menulis ini, aku baru teringat apa yang terlupa. Ah, bodoh!

Hfffffffttt. Kumat lagi, aku kembali merasakannya lagi, sebentar, aku butuh jeda. Kadang sebuah pertanyaan jahat muncul begitu saja dikepalaku, mengapa hal ini rajin sekali kumat setiap apa saja yang berhubungan dengan kamu? Itu baik, ataupun buruk. Ini membuatku... semakin merasa... absurd. Aku semakin tidak mengerti diriku sendiri, ini. Aku benar-benar payah. Maaf.

Eits, tunggu dulu. Jangan khawatir, ini bukan salahmu, aku tidak menyalahkanmu dan tidak akan pernah menyalahkan kamu, aku menjadi seperti bukan karena kamu kok, maaf ya jadi membuat mu merasa tidak enak. Aku berceloteh bukan untuk menarik seulas rasa kasihan mu, aku pun tak ikhlas jika kamu datang padaku dengan memikul alasan bahwa kamu iba pada aku, tak perlu, kamu tak perlu menjadi sebaik itu.

Aku tidak peduli berapa panjang untaian kata penuh makna sindiran, ejekan, atau apapun itu yang berbau negatif yang ditujukan padamu, bagiku kamu adalah seorang cinta pertama yang baik. Memberi dan mengajarkan ku banyak hal. Lagipula, bukankah manusia itu menyadap sisi dari setengah malaikat dan setengah iblis. Tidak ada manusia yang 100% baik, pasti ada sisi gelap yang tersembunyi(?). Hanya saja, ini tergantung bagaimana menyikapi hal buruk tersebut. Aku bicara apa? Ah, aku juga tidak mengerti, aku hanya menuliskan apa yang bergelantungan di kepalaku, haha.

“ Hei, dengar. Kamu hanya cukup tahu satu hal saja, selalu ingat ini, jangan pernah lupa bahwa, aku akan selalu tetap baik-baik saja. Jangan buang waktu mu untuk mencemaskan aku, cukup rawat hidupmu sendiri. Hiduplah dengan baik, agar kelak aku juga tidak akan perlu mencemaskan kamu. Jadi, kita impas kan. J


Sejujurnya aku tidak tahu kata apa yang paling tepat kuberikan padamu. Hm, baiklah, menurutku inilah yang paling mendekati sesuai :

“ Terimakasih dan Maaf. “



2 komentar:

Rinia said...

Azehhh..
Belud >.<

Rahmadila Eka Putri said...

Nia kenapa niaaa? bukan buat Nia kok. kan kita masih ketemu lagi di semester 3. wkwk :D

Visitors

Thanks for visiting!

free counters

Followers

World Visiting

June 03, 2012

:: “ Entahlah, mungkin ini pertemuan terakhir. “



Minggu, 3 Juni 2012.

Pagi ini sebenarnya sangat indah, hanya saja aku cukup lelah dan pusing, rasa kantuk sehabis begadang semalam masih berusaha menggantung di katup mataku, berat sekali untuk membuka. Tapi,  aku harus segera bangun, harus. Hari ini ada TRY OUT SNMPTN terakhir, aku juga harus melanjutkan menyelesaikan kado ini, hooaaam. Memulai aktifitas hari ini dengan Shalat Shubuh, kepala ku masih pusing, sebulan dua bulan belakangan ini kepala ku sering sekali terasa seakan segera meledak. Tubuhku sempoyongan, dan rasanya seolah-olah aku akan terjun bebas dari lantai 4 saat menaiki tangga gedung fakultas.

Aku membutuhkan waktu lebih lama jika istirahat saat lelah, jantung ku berdegup lebih cepat, nafas ku sesak dan meburu, berat dan terkadang butuh helaan yang cukup panjang untuk kembali menstabilkannya, dan itu tak jarang membuat daerah bagian ulu hati hingga jantung terasa begah. Aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi pada tubuh kecil ku yang semakin kurus, semakin mudah berat badanku turun, namun kebalikannya, cukup sulit mencapai berat sebelumnya. Hm, aku tidak tau aku kenapa. Aku hanya merasakannya, dan aku tidak tahu apa itu, kenapa, dan bagaimana.

Ya, sepertinya aku memang selalu tidak tahu apa yang tengah terjadi pada diriku sendiri, ternyata tidak hanya tentang kamu, tapi juga tentang aku. Ketidaktahuan ini kadang membuatku begitu kesal? Ah, bukan, tidak seperti itu, mungkin aku hanya sedikit tertekan dengan dosis yang minim(?), haha. Berlebihan sekali ya? Tapi, ya, begitulah.


Sekitar 3 minggu ini, aku baru saja menyadari bahwa ini tidak hanya kumat ketika naik-turun tangga, baru bangun tidur, merebahkan kepala, berjalan di bawah terik matahari ( padahal sebelumnya aku biasa melakukan hal ini bersama teman-teman, dan aku tidak apa-apa ), saat menguras otak belajar keras/berkonsentrasi penuh ( kepala ku lebih cepat berdenyut sakit, lalu sekian detik ketika baru berdiri rasanya dunia berputar kencang, dan aku seolah tertelan dalam sebuah pusaran, kemudian saat hendak melangkah, kaki ku seolah terpakukan pada lantai, dan aku kembali terduduk dikursi sembari memijit dahi), bahkan kini ketika hati ku tengah terjadi ‘peperangan bathin’ berhubungan dengan kamu(?)

Dulu rasa begah dan nyeri itu hanya beroperasi dan memakan tempat di area ulu hati, sekarang entah mengapa telah merambah ke atas, menuju... sepertinya sekitar jantung, nafas ku semakin sesak dan berat, ini seperti beberapa buah buku kedokteran super tebal menindih dadaku, rasanya tentu sangat sangat sangat tidak menyenangkan, ckck. ==

Hm, ini hari ke-335. Tahun lalu, ups, terlalu jauh, maksud ku di hari ke-200an hal seperti ini masih belom menghampiriku. Jadi, aku  masih mampu meredam ‘nyesek’ saat berpapasan dengan hal-hal tak mengenakkan berkaitan dengan kamu. Tentu, tetap terasa sesak, tapi tidak yang seperti saat-saat ini, dimana kadang di situasi gawat darurat tertentu rasanya aku butuh dipasangi alat bantu pernapasan, aku butuh suply oksigen, it feels like there is no oxygen, atau rasanya hidung ku seperti disumbat, aku juga tidak tahu mengapa ini terjadi, entahlah. Jantung ku berdebar dengan lebih liar jika melihat raut wajah jutekmu, mendengar nada bicaramu,  ya, semua nya, ketika aku bertemu kamu.

“ Kamu selalu menyuruhku untuk bersikap biasa, tapi bahkan MENCOBA bersikap biasa biasa saja pun aku kewalahan, bagaimana bisa aku bersikap biasa sementara jantung ku berdegup luar biasa, karena (maaf) aku masih memiliku sekeping rasa yang tak biasa pada kamu, beda halnya dengan kamu dan rasa mu yang biasa padaku, kita berbeda.  ==a

Hari ini, entah mengapa aku merasa jauh lebih takut jika pertemuan kali ini kembali batal, mengingat kita sulit sekali untuk dipertemukan, sepertinya sang takdir pun kelabakan, haha. Hm, tapi akhirnya kali ini si takdir berbaik hati, kita bertemu, disana. Walau hanya kurang dari 2 jam, aku sangat senang, akhirnya bisa kembali bersua dengan kamu, kamu yang duduk di depanku. Curi-curi pandang secara ilegal, melirik raut wajah mu saat mengerjakan soal ujian, lalu aku tersenyum kecil menunduk dengan modus menatap soal ujianku, menemukan ekspresi itu, nada suara itu, momen-momen kecil yang pasti akan sangat kurindukan suatu saat kelak.

Entahlah, mungkin ini pertemuan terakhir. Kita mungkin akan bertemu kembali suatu saat nanti setelah melewati rentang waktu yang panjang, atau mungkin kita benar-benar tak akan dipertemukan oleh sang takdir lagi, aku tidak berani kembali berharap kita akan segera bertemu kembali, aku tak tahu kapan hari itu akan tiba, tepatnya aku mencoba berpura-pura tak tahu. Karena aku begitu takut, aku mempersiapkan ‘’kado itu’ jauh-jauh hari sebelumnya, padahal hari H jatuh pada bulan Juli. 

Aku menyebut momen setiap kita bertemu sebagai acara ‘Ketemuan’ , walau kamu tidak suka dengan kata itu, walau kadang sepertinya kamu seolah akan bertemu dengan setan jika berhadapan denganku padahal kan aku tidak akan mengunyah kamu, dan walau tidak hanya ada kamu dan aku di acara itu, tapi bagiku... hm, mungkin hari dimana aku ‘Ketemuan’ denganmu bisa menjadi salah satu hari besar dalam kalender ku, haha. Berlebihan sekali! Ya, karena ketakutan ku juga terasa semakin berlebihan. Aku hanya terlalu takut tidak memiliki kesempatan lain, terlalu takut jika aku tidak mempunyai cukup waktu untuk menunggu kamu lebih lama lagi, aku hanya terlalu takut, aku pengecut sekali ya? Maaf.

Hari itu, sesuatu yang kurasakan 2 bulan ini kembali kumat, aku tidak berani berharap yang muluk-muluk. Aku hanya berharap kamu akan datang dan aku punya cukup keberanian menyerahkan kado itu. Hanya itu, hanya itu saja kok. Aku merasa sudah seperti orang gila saat hanya berdua dengan mu di tempat parkir, aku tidak tahu apa yang harus ku katakan, tapi aku juga tidak ingin kamu cepat pergi, kamu harus dengarkan aku bicara apa dulu, tapi kembali ke inti permasalahannya, aku tidak tahu apa yang harus ku kuatakan! Ini... sungguh me-nyesek-an. Hffffftt.

“ Hm, belakangan aku menyadari sesuatu, bahwa mungkin aku hanya ingin kamu tetap di dekat ku, jika pun jauh, asalkan aku dapat menemukan keberadaan mu dengan mata ku sendiri, bagi ku itu cukup, aku tahu bahwa kamu ada, dimana aku bisa memantau mu secara langsung, menangkap raut wajahmu, mendengar nada bicara mu, mengamati gerak-gerikmu, semua, hanya dengan cukup kamu ada disini, tanpa satu pun kata terucap dari bibirku karena akupun tak tahu harus bicara apa padamu, ya, mungkin hanya itu saja. Ya, sepertinya memang begitu, haha. “

Hari ini kita kembali bertemu setelah menghabiskan sekian ratus hari tanpa kamu. Hei, aku senang sekali bertemu dengamu. Yah, seperti yang sudah ku prediksi sebelumnya, aku tak punya cukup kepintaran dan keberanian dalam hal lisan, rasanya sedikit agak lega telah menuangkan apa yang ingin ku katakan dalam NOTE itu. Yaaaah, walaupun sebenarnya itu belum semua. Saat menulis ini, aku baru teringat apa yang terlupa. Ah, bodoh!

Hfffffffttt. Kumat lagi, aku kembali merasakannya lagi, sebentar, aku butuh jeda. Kadang sebuah pertanyaan jahat muncul begitu saja dikepalaku, mengapa hal ini rajin sekali kumat setiap apa saja yang berhubungan dengan kamu? Itu baik, ataupun buruk. Ini membuatku... semakin merasa... absurd. Aku semakin tidak mengerti diriku sendiri, ini. Aku benar-benar payah. Maaf.

Eits, tunggu dulu. Jangan khawatir, ini bukan salahmu, aku tidak menyalahkanmu dan tidak akan pernah menyalahkan kamu, aku menjadi seperti bukan karena kamu kok, maaf ya jadi membuat mu merasa tidak enak. Aku berceloteh bukan untuk menarik seulas rasa kasihan mu, aku pun tak ikhlas jika kamu datang padaku dengan memikul alasan bahwa kamu iba pada aku, tak perlu, kamu tak perlu menjadi sebaik itu.

Aku tidak peduli berapa panjang untaian kata penuh makna sindiran, ejekan, atau apapun itu yang berbau negatif yang ditujukan padamu, bagiku kamu adalah seorang cinta pertama yang baik. Memberi dan mengajarkan ku banyak hal. Lagipula, bukankah manusia itu menyadap sisi dari setengah malaikat dan setengah iblis. Tidak ada manusia yang 100% baik, pasti ada sisi gelap yang tersembunyi(?). Hanya saja, ini tergantung bagaimana menyikapi hal buruk tersebut. Aku bicara apa? Ah, aku juga tidak mengerti, aku hanya menuliskan apa yang bergelantungan di kepalaku, haha.

“ Hei, dengar. Kamu hanya cukup tahu satu hal saja, selalu ingat ini, jangan pernah lupa bahwa, aku akan selalu tetap baik-baik saja. Jangan buang waktu mu untuk mencemaskan aku, cukup rawat hidupmu sendiri. Hiduplah dengan baik, agar kelak aku juga tidak akan perlu mencemaskan kamu. Jadi, kita impas kan. J


Sejujurnya aku tidak tahu kata apa yang paling tepat kuberikan padamu. Hm, baiklah, menurutku inilah yang paling mendekati sesuai :

“ Terimakasih dan Maaf. “



2 comments:

Rinia said...

Azehhh..
Belud >.<

Rahmadila Eka Putri said...

Nia kenapa niaaa? bukan buat Nia kok. kan kita masih ketemu lagi di semester 3. wkwk :D