March 18, 2012

:: [ Kepada Bapak/Ibu di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ]


Kepada,

Yth. Bapak/Ibu di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)


Perkenalkan, saya si calon peserta Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri tahun ini, 2012. Saya juga adalah mantan peserta jalur SNMPTN-Undangan dan SNMPTN-Tertulis tahun lalu, 2011. Saat ini, saya tengah menjalani rutinitas harian sebagai salah seorang mahasiswi tahun pertama di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di provinsi saya.  Dalam tulisan ini, saya hanya sekedar mengungkapkan aspirasi yang bergejolak di bathin saya, pertanyaan – pertanyaan yang bergelantungan di pikiran saya, dan terbayang bagaimana nasib adik saya serta rekan-rekan seangkatan adik saya, yang akan menyandang prediket lulusan SMA 2013 kelak.



Bapak dan Ibu di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang terhormat,

Jika untuk masuk PTN hanya melalui jalur undangan dan ujian mandiri, bagaimana dengan siswa di sekolah yang tingkat persaingannya lebih sengit (sekolah unggulan/favorit), bukankah hanya sekian persen siswa perkelas persekolah yang dapat mengajukan diri sebagai peserta seleksi jalur undangan? Padahal jika di bandingkan dengan sekolah lain, nilai mereka (peringkat menengah ke bawah) dapat turut berpartisipasi dalam seleksi. Jika siswa tersebut (kelompok peringkat menengah kebawah) berlatar belakang keluarga dengan kondisi finansial baik, mereka tentu masih berkesempatan ikut ujian mandiri yang biayanya lebih mahal. Bagaimana dengan yang berasal dari kondisi keluarga relatif lemah dalam ekonomi? Bukankah kebijakan ini hanya akan ‘mengerangkeng hak siswa’ untuk mengenyam jenjang pendidikan yang lebih tinggi? Bukankah ini tidak adil? 

Dalam hal rapor, bukankah terdapat nilai untuk beraneka mata pelajaran yang memang sangat menentukan peringkat siswa. Bagaimana dengan jenis siswa IPA yang kuat di eksak namun agak lemah di bidang lain, sehingga tentu peringkat akan merosot, karena tidak berimbang. Jenis siswa seperti ini mungkin memang tergolong sedikit, minoritas. Namun, pada hakekatnya, bukankah mereka sama dengan siswa lain? Mereka juga seorang siswa yang memiliki hak untuk mengenyam pendidikan, merangkai mimpi, menjadikannya nyata. Hanya saja, mungkin keberuntungan tidak bersinar begitu terang pada sosok minoritas tersebut. Padahal yang mereka target kan memang jurusan yang mengandalkan eksak. Jika melalui jalur ujian tulis, mereka bisa mengoptimalkan dan lebih fokus di IPA, meraih target mereka, mewujudkan mimpi mereka, cita - cita generasi muda bangsa. 

Lalu, bagaimana dengan siswa IPA yang berkeinginan mengambil prodi IPS? Apakah hanya nilai rapor dan UN yang dijadikan patokan dalam proses seleksi? Selanjutnya, bagaimana dengan para alumni yang masih berkeinginan untuk turut serta dalam seleksi masuk PTN? Sedangkan mereka tak kuat dalam finansial untuk ikut ujian mandiri, dan juga bukan lagi siswa taun terakhir SMA.

Bagaimana nasib siswa pintar yang kurang beruntung tersebut? Tidak semua orang pintar itu beruntung, dan tidak semua orang beruntung itu pintar. Pintar dan beruntung itu tidak sama, itu berbeda.

Bagaimana, Pak? Bagaimana, Bu?

Bagaimana nasib mereka? Mereka juga ingin kuliah. 








Sekian. Terimakasih.



( REP )

0 komentar:

Visitors

Thanks for visiting!

free counters

Followers

World Visiting

March 18, 2012

:: [ Kepada Bapak/Ibu di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ]


Kepada,

Yth. Bapak/Ibu di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)


Perkenalkan, saya si calon peserta Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri tahun ini, 2012. Saya juga adalah mantan peserta jalur SNMPTN-Undangan dan SNMPTN-Tertulis tahun lalu, 2011. Saat ini, saya tengah menjalani rutinitas harian sebagai salah seorang mahasiswi tahun pertama di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di provinsi saya.  Dalam tulisan ini, saya hanya sekedar mengungkapkan aspirasi yang bergejolak di bathin saya, pertanyaan – pertanyaan yang bergelantungan di pikiran saya, dan terbayang bagaimana nasib adik saya serta rekan-rekan seangkatan adik saya, yang akan menyandang prediket lulusan SMA 2013 kelak.



Bapak dan Ibu di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang terhormat,

Jika untuk masuk PTN hanya melalui jalur undangan dan ujian mandiri, bagaimana dengan siswa di sekolah yang tingkat persaingannya lebih sengit (sekolah unggulan/favorit), bukankah hanya sekian persen siswa perkelas persekolah yang dapat mengajukan diri sebagai peserta seleksi jalur undangan? Padahal jika di bandingkan dengan sekolah lain, nilai mereka (peringkat menengah ke bawah) dapat turut berpartisipasi dalam seleksi. Jika siswa tersebut (kelompok peringkat menengah kebawah) berlatar belakang keluarga dengan kondisi finansial baik, mereka tentu masih berkesempatan ikut ujian mandiri yang biayanya lebih mahal. Bagaimana dengan yang berasal dari kondisi keluarga relatif lemah dalam ekonomi? Bukankah kebijakan ini hanya akan ‘mengerangkeng hak siswa’ untuk mengenyam jenjang pendidikan yang lebih tinggi? Bukankah ini tidak adil? 

Dalam hal rapor, bukankah terdapat nilai untuk beraneka mata pelajaran yang memang sangat menentukan peringkat siswa. Bagaimana dengan jenis siswa IPA yang kuat di eksak namun agak lemah di bidang lain, sehingga tentu peringkat akan merosot, karena tidak berimbang. Jenis siswa seperti ini mungkin memang tergolong sedikit, minoritas. Namun, pada hakekatnya, bukankah mereka sama dengan siswa lain? Mereka juga seorang siswa yang memiliki hak untuk mengenyam pendidikan, merangkai mimpi, menjadikannya nyata. Hanya saja, mungkin keberuntungan tidak bersinar begitu terang pada sosok minoritas tersebut. Padahal yang mereka target kan memang jurusan yang mengandalkan eksak. Jika melalui jalur ujian tulis, mereka bisa mengoptimalkan dan lebih fokus di IPA, meraih target mereka, mewujudkan mimpi mereka, cita - cita generasi muda bangsa. 

Lalu, bagaimana dengan siswa IPA yang berkeinginan mengambil prodi IPS? Apakah hanya nilai rapor dan UN yang dijadikan patokan dalam proses seleksi? Selanjutnya, bagaimana dengan para alumni yang masih berkeinginan untuk turut serta dalam seleksi masuk PTN? Sedangkan mereka tak kuat dalam finansial untuk ikut ujian mandiri, dan juga bukan lagi siswa taun terakhir SMA.

Bagaimana nasib siswa pintar yang kurang beruntung tersebut? Tidak semua orang pintar itu beruntung, dan tidak semua orang beruntung itu pintar. Pintar dan beruntung itu tidak sama, itu berbeda.

Bagaimana, Pak? Bagaimana, Bu?

Bagaimana nasib mereka? Mereka juga ingin kuliah. 








Sekian. Terimakasih.



( REP )

No comments: