December 18, 2011

:: [I LOVE RAIN] “ Air Mata Langit “







Hujan.

Hujan. Hujan.

Hujan. Hujan. Hujan.

Hujan. Hujan. Hujan. Hujan.

Hujan. Hujan. Hujan. Hujan. Hujan.

Air mata langit. Langit sedang menangis.




Hujan.

Rintik-rintik air dari awan kelabu, langit yang mendung. Apakah langit sedang menangis? Hujan, apakah itu air mata langit? Ah, mungkin saja. Langit pun ternyata bisa menangis, bagaimana mungkin manusia tak boleh menangis, bukan? Bayi, balita, anak-anak, remaja, orang dewasa, pria ataupun wanita, bahkan para lansia pun boleh menangis, mereka manusia.

Hujan.

Langit sepertinya tak lagi sanggup menahan beban atas berbagai macam pemanasan yang serasa membakar buminya, uap dan panas, mata langit perih,  oleh karena itu, di teteskannya lah dalam bentuk air mata langit, yang bernama hujan. Hujan, langit sedang menangis. Lalu, bagaimana dengan manusia? Tak jauh beda. Jika dianalaogikan, mungkin dapat di jabarkan seperti ini, manusia  pun memiliki level maksimum dalam meredam beraneka masalah dan sesak yang serasa membakar hatinya, sehingga, ia pun melelehkan bulir demi bulir air hangat dari kedua sudut mata, yang bernama air mata. Air mata, manusia sedang menangis.

Hujan.

Lalu, bagaimana dengan kemarau? Paceklik? Apakah langit sedang marah hingga ia enggan menangis, meneteskan air mata yang sebenarnya dapat jadikan buminya lebih nyaman, tak lagi gersang, tak lagi kering kerontang? Ah, mungkin langit pun hendak menangis, ingin sekali menangis, sangat. Namun, gerombolan awan nakal itu tak kunjung bertranformasi warna menjadi kelabu, tak kunjung bersedia, menjatuhkan rintik-rintik air mata langit yang akan amat menentramkan tersebut, yaitu hujan. Dan, manusia? Manusia dengan begitu sesak, sakit, dan sedih, yang bersarang di dalam  hatinya, ingin sekali menangis, menangis keras, meluapkan semua rasa yang seolah bertumpuk buku tebal tengah menindih dadanya, ingin menumpahkan tetes demi tetes air dari kedua sudut mata, yaitu air mata. Namun, bulir-bulir hangat itu enggan meleleh, membeku di dalam hatinya, disebut menangis dalam hati. Keduanya sama-sama tak nyaman, sungguh tak enak, tak damai, tak tentram, ingin lepaskan, tapi tertahan.

Hujan.

Langit menangis, manusia menangis, hak menangis. Rintik-rintik air yang menetes dari awan-awan kelabu, menghujam bumi, membasahinya, langit sedang menangis. Bulir-bulir air hangat yang meluncur lembut dari kedua sudut mata, meleleh di kedua pipi, membasahinya, manusia sedang menangis. Apa itu karena mereka lemah? Apa langit menangiskarena dia lemah? Apa manusia menangis juga karena dia lemah? Tidak. Mereka tidak lemah, justru sedang berlatih menjadi lebih kuat.Langit, hujan, subur.  Manusia, air mata, lega. Jatuh, lalu bangkit kembali, lebih tegar. Benar.




Langit.
Hujan. Paceklik.  Bumi gersang.

Manusia.
Air mata. Problematika. Hati sesak.

Langit dan manusia, serta hak menangis.
Hujan. Hujan. Hujan. Hujan. Hujan. Hujan.

0 komentar:

Visitors

Thanks for visiting!

free counters

Followers

World Visiting

December 18, 2011

:: [I LOVE RAIN] “ Air Mata Langit “







Hujan.

Hujan. Hujan.

Hujan. Hujan. Hujan.

Hujan. Hujan. Hujan. Hujan.

Hujan. Hujan. Hujan. Hujan. Hujan.

Air mata langit. Langit sedang menangis.




Hujan.

Rintik-rintik air dari awan kelabu, langit yang mendung. Apakah langit sedang menangis? Hujan, apakah itu air mata langit? Ah, mungkin saja. Langit pun ternyata bisa menangis, bagaimana mungkin manusia tak boleh menangis, bukan? Bayi, balita, anak-anak, remaja, orang dewasa, pria ataupun wanita, bahkan para lansia pun boleh menangis, mereka manusia.

Hujan.

Langit sepertinya tak lagi sanggup menahan beban atas berbagai macam pemanasan yang serasa membakar buminya, uap dan panas, mata langit perih,  oleh karena itu, di teteskannya lah dalam bentuk air mata langit, yang bernama hujan. Hujan, langit sedang menangis. Lalu, bagaimana dengan manusia? Tak jauh beda. Jika dianalaogikan, mungkin dapat di jabarkan seperti ini, manusia  pun memiliki level maksimum dalam meredam beraneka masalah dan sesak yang serasa membakar hatinya, sehingga, ia pun melelehkan bulir demi bulir air hangat dari kedua sudut mata, yang bernama air mata. Air mata, manusia sedang menangis.

Hujan.

Lalu, bagaimana dengan kemarau? Paceklik? Apakah langit sedang marah hingga ia enggan menangis, meneteskan air mata yang sebenarnya dapat jadikan buminya lebih nyaman, tak lagi gersang, tak lagi kering kerontang? Ah, mungkin langit pun hendak menangis, ingin sekali menangis, sangat. Namun, gerombolan awan nakal itu tak kunjung bertranformasi warna menjadi kelabu, tak kunjung bersedia, menjatuhkan rintik-rintik air mata langit yang akan amat menentramkan tersebut, yaitu hujan. Dan, manusia? Manusia dengan begitu sesak, sakit, dan sedih, yang bersarang di dalam  hatinya, ingin sekali menangis, menangis keras, meluapkan semua rasa yang seolah bertumpuk buku tebal tengah menindih dadanya, ingin menumpahkan tetes demi tetes air dari kedua sudut mata, yaitu air mata. Namun, bulir-bulir hangat itu enggan meleleh, membeku di dalam hatinya, disebut menangis dalam hati. Keduanya sama-sama tak nyaman, sungguh tak enak, tak damai, tak tentram, ingin lepaskan, tapi tertahan.

Hujan.

Langit menangis, manusia menangis, hak menangis. Rintik-rintik air yang menetes dari awan-awan kelabu, menghujam bumi, membasahinya, langit sedang menangis. Bulir-bulir air hangat yang meluncur lembut dari kedua sudut mata, meleleh di kedua pipi, membasahinya, manusia sedang menangis. Apa itu karena mereka lemah? Apa langit menangiskarena dia lemah? Apa manusia menangis juga karena dia lemah? Tidak. Mereka tidak lemah, justru sedang berlatih menjadi lebih kuat.Langit, hujan, subur.  Manusia, air mata, lega. Jatuh, lalu bangkit kembali, lebih tegar. Benar.




Langit.
Hujan. Paceklik.  Bumi gersang.

Manusia.
Air mata. Problematika. Hati sesak.

Langit dan manusia, serta hak menangis.
Hujan. Hujan. Hujan. Hujan. Hujan. Hujan.

No comments: