December 20, 2011

:: “ Ah, hatiku berkerut! “



 “ Ah, hatiku berkerut! “ – seru si bodoh, di dalam hatinya.

Uhm, hati yang berkerut? Seperti apa itu? Apakah itu sebauh syndrome? Sebuah indikasi akan suatu penyakit yang lebih parah? Atau apa? Istilah apa itu? Hm.

Baiklah, pertama, diingatkan,jangan tafsirkan ini ( hati yang berkeut ) dalam makna denotatif, karena inimerupakan sebuah frase konotatif yang memang terdengar janggal dan aneh(?), namun, yah,  begitulah adanya. Tak tahu pula, mengapa tiba-tiba di suatu ketika, tiba-tiba tercetus kata itu, berkerut, hati yang berkerut, menggumamkannya pelan. Tentu, untuk diri sendiri, hanya dalam hati.



Ah, hatiku berkerut!

Mungkin, sedikit bisa di jabarakn seperti ini.  Sebuah jeruk, oh, bukan, kulit jeruk, tercampak sepi di pekarangan, terik siang begitu menyengat, kulit jeruk menjadi kian kering, keriput, keras, berubah warna, intinya,kulit jeruk menjadi sangat jelek, tampak begitu mengenaskan terpapar sinar terik sang surya, padahal awalnya tampak sehat, dengan warna oranye yang beraura semangat. Ah, malangnya.

Oh, atau, jika di ibaratkan sepertisebuah roti keju. Akan seperti ini, uhm, sebuah roti keju yang lezat, oh bukan, amat lezat, lezat sekali, dan sangat menggiurkan untuk segera dilumat lahap, namun, sialnya, ternyata, di suatu ketika, roti keju itu terjatuh di jalanan, di aspal panas, cepat atau lambat, tentu, roti keju lezat itu akan menjadi begitu jelek dan tak lagi ada hasrat untuk memakannya, karena, ia tak lagi mengembang dengan menggoda, ia telah berubah mejadi kering, keras, bau, berdebu, kotor, dan juga, tak lagi menyehatakan jika di konsumsi, justru akan menyebabkan sakit. Ah, malangnya.

Uhm, ini ulah siapa? Ya, siapa lagi kalau bukan terik sang surya.

Tidak mengerti dengan penjabaran rancu ini? Abaikan.


Ah, hatiku berkerut!

Kemudian, kapan saja si bodoh mendapati hatinya berkerut?

Berikut laporan yang di tulis si bodoh :

  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja
  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja
  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja
  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja
  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja
  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja
  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja
  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja
  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja
  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja


Ah, hatiku berkerut!

Si bodoh kembali berseru, di dalam hatinya. Saat dia menulis ini, kerutan hati itu pun entah mengapa kembali muncul di berbagai sudut keping katinya. Mengapa? Tak tahu.
Setiap kamu datang, lalu hilang begitu saja.

Saat-saat dimana hati si bodoh terasa berkerut, kerutnya memberiperih, namun,  bodohnya si bodoh. Dia, dia masih tetap ingin kamu datang padanya, walau pada akhirnya, kamu hanya akan hilang begitu saja, menyisakan sebongkah rasa, sepintas berita, sejumputasa, dan segelintir tanya, serta sepotong luka. Tapi, itu tak apa, karena, si bodoh belum jua jera untuk tampak baik-baik saja, di dunia nyata, bukan rekayasanya. Ya, begitulah bodohnya dia. Wajari saja.

Ah, hatiku berkerut!

Si bodoh tak tahu lagi harus menulis apa, otak bodohnya kehilangan kata. Ah! Apa karena hatinya yang terlalu berkerut saat menulis ini? Uhm, entahlah, tak tahu, kata si bodoh. Oke, biarkan si bodoh merasakan hatinya sebentar.

Ah, hatiku berkerut!

Yak! Lalu, akhirnya si bodoh pun kembali menulis. Jemari nya telah kembali menari merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat, satu menjadi paragraf padu. Menulis dengan cepat, mengikuti alur yang mengalir dihulu hatinya, di hati berkerutnya itu. Menulis dengan hati, slogan si bodoh dalam dunia tulis-menulisnya.

Ah, hatiku berkerut!

Kali ini, si bodoh kembali kehilangan kata. Jemari nya mengawang di udara, jeda, mencari kata yang tersembunyi di bilik hatinya. Menelusuri lebih dalam, dalam, dan dalam lagi. Ah, dimana? Mengapa tak kunjung bertemu? Ah, dasar, tak tahu.

Ah, hatiku berkerut!

Si bodoh mengambil sebuah keputusan, sudahilah untuk kali ini, ia tak tahu harus tulis apa. Mungkin bukan karena tak ada kata, bukan karena kata itu pintar mencari lokasi persembunyian. Namun, karena terlampau banyak kata, hingga si bodoh terlalu bingung, harus pilih yang mana, begitu banyak kata di hati berkerutnya, sehingga, tak aneh, jika mengapa rasanya jadi sesak.Ah, baiklah, tak banyak ucap lagi.

Hm, si bodoh sudahi disini.


Ah, hatiku berkerut!

Jeruk ataupun roti keju.
Penyebab mereka menjadi berkerut itu sama, yaitu terik menyengat sang surya.

Lalu, bagaimana dengan hati yang berkerut?                                                                          
Hm, penyebabnya juga sama, di sengat terikmu yang mengerutkan.

Apa kamu adalah sang surya?
Apa si bodoh sebuah jeruk atau bahkan sebuah roti keju?
Ah, dasar, bodoh. Pengandaian yang aneh. Bodoh!



End. No word to say. Bye.

2 komentar:

cholin said...

AH, KENINGKU BERKERUT ! ketika membaca ini. ini yang dipermasalahin jeruk atau roti keju? kalo gak mau kasih gue.

dilacious said...

wkakaka. dua duanyaa dah. nyahaha.

kasi ke elo? ogaaahhh. :P

btw, udah seminggu gue ga maakan roti kejuu. kangeeennn. :3

Visitors

Thanks for visiting!

free counters

Followers

World Visiting

December 20, 2011

:: “ Ah, hatiku berkerut! “



 “ Ah, hatiku berkerut! “ – seru si bodoh, di dalam hatinya.

Uhm, hati yang berkerut? Seperti apa itu? Apakah itu sebauh syndrome? Sebuah indikasi akan suatu penyakit yang lebih parah? Atau apa? Istilah apa itu? Hm.

Baiklah, pertama, diingatkan,jangan tafsirkan ini ( hati yang berkeut ) dalam makna denotatif, karena inimerupakan sebuah frase konotatif yang memang terdengar janggal dan aneh(?), namun, yah,  begitulah adanya. Tak tahu pula, mengapa tiba-tiba di suatu ketika, tiba-tiba tercetus kata itu, berkerut, hati yang berkerut, menggumamkannya pelan. Tentu, untuk diri sendiri, hanya dalam hati.



Ah, hatiku berkerut!

Mungkin, sedikit bisa di jabarakn seperti ini.  Sebuah jeruk, oh, bukan, kulit jeruk, tercampak sepi di pekarangan, terik siang begitu menyengat, kulit jeruk menjadi kian kering, keriput, keras, berubah warna, intinya,kulit jeruk menjadi sangat jelek, tampak begitu mengenaskan terpapar sinar terik sang surya, padahal awalnya tampak sehat, dengan warna oranye yang beraura semangat. Ah, malangnya.

Oh, atau, jika di ibaratkan sepertisebuah roti keju. Akan seperti ini, uhm, sebuah roti keju yang lezat, oh bukan, amat lezat, lezat sekali, dan sangat menggiurkan untuk segera dilumat lahap, namun, sialnya, ternyata, di suatu ketika, roti keju itu terjatuh di jalanan, di aspal panas, cepat atau lambat, tentu, roti keju lezat itu akan menjadi begitu jelek dan tak lagi ada hasrat untuk memakannya, karena, ia tak lagi mengembang dengan menggoda, ia telah berubah mejadi kering, keras, bau, berdebu, kotor, dan juga, tak lagi menyehatakan jika di konsumsi, justru akan menyebabkan sakit. Ah, malangnya.

Uhm, ini ulah siapa? Ya, siapa lagi kalau bukan terik sang surya.

Tidak mengerti dengan penjabaran rancu ini? Abaikan.


Ah, hatiku berkerut!

Kemudian, kapan saja si bodoh mendapati hatinya berkerut?

Berikut laporan yang di tulis si bodoh :

  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja
  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja
  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja
  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja
  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja
  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja
  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja
  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja
  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja
  • ·         Setiap kamu datang tiba-tiba, lalu hilang begitu saja


Ah, hatiku berkerut!

Si bodoh kembali berseru, di dalam hatinya. Saat dia menulis ini, kerutan hati itu pun entah mengapa kembali muncul di berbagai sudut keping katinya. Mengapa? Tak tahu.
Setiap kamu datang, lalu hilang begitu saja.

Saat-saat dimana hati si bodoh terasa berkerut, kerutnya memberiperih, namun,  bodohnya si bodoh. Dia, dia masih tetap ingin kamu datang padanya, walau pada akhirnya, kamu hanya akan hilang begitu saja, menyisakan sebongkah rasa, sepintas berita, sejumputasa, dan segelintir tanya, serta sepotong luka. Tapi, itu tak apa, karena, si bodoh belum jua jera untuk tampak baik-baik saja, di dunia nyata, bukan rekayasanya. Ya, begitulah bodohnya dia. Wajari saja.

Ah, hatiku berkerut!

Si bodoh tak tahu lagi harus menulis apa, otak bodohnya kehilangan kata. Ah! Apa karena hatinya yang terlalu berkerut saat menulis ini? Uhm, entahlah, tak tahu, kata si bodoh. Oke, biarkan si bodoh merasakan hatinya sebentar.

Ah, hatiku berkerut!

Yak! Lalu, akhirnya si bodoh pun kembali menulis. Jemari nya telah kembali menari merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat, satu menjadi paragraf padu. Menulis dengan cepat, mengikuti alur yang mengalir dihulu hatinya, di hati berkerutnya itu. Menulis dengan hati, slogan si bodoh dalam dunia tulis-menulisnya.

Ah, hatiku berkerut!

Kali ini, si bodoh kembali kehilangan kata. Jemari nya mengawang di udara, jeda, mencari kata yang tersembunyi di bilik hatinya. Menelusuri lebih dalam, dalam, dan dalam lagi. Ah, dimana? Mengapa tak kunjung bertemu? Ah, dasar, tak tahu.

Ah, hatiku berkerut!

Si bodoh mengambil sebuah keputusan, sudahilah untuk kali ini, ia tak tahu harus tulis apa. Mungkin bukan karena tak ada kata, bukan karena kata itu pintar mencari lokasi persembunyian. Namun, karena terlampau banyak kata, hingga si bodoh terlalu bingung, harus pilih yang mana, begitu banyak kata di hati berkerutnya, sehingga, tak aneh, jika mengapa rasanya jadi sesak.Ah, baiklah, tak banyak ucap lagi.

Hm, si bodoh sudahi disini.


Ah, hatiku berkerut!

Jeruk ataupun roti keju.
Penyebab mereka menjadi berkerut itu sama, yaitu terik menyengat sang surya.

Lalu, bagaimana dengan hati yang berkerut?                                                                          
Hm, penyebabnya juga sama, di sengat terikmu yang mengerutkan.

Apa kamu adalah sang surya?
Apa si bodoh sebuah jeruk atau bahkan sebuah roti keju?
Ah, dasar, bodoh. Pengandaian yang aneh. Bodoh!



End. No word to say. Bye.

2 comments:

cholin said...

AH, KENINGKU BERKERUT ! ketika membaca ini. ini yang dipermasalahin jeruk atau roti keju? kalo gak mau kasih gue.

dilacious said...

wkakaka. dua duanyaa dah. nyahaha.

kasi ke elo? ogaaahhh. :P

btw, udah seminggu gue ga maakan roti kejuu. kangeeennn. :3